Jika para bangsawan dapat menjadikan pembantaian rakyat jelata sebagai hiburan tanpa dihukum, maka aku menolak pengadilan ini. Jika para penyihir dapat memelihara bocah lelaki sebagai kesenangan tanpa
Benteng yang tersusun dari tanah, batu, dan genting itu memiliki ruang bawah tanah yang luas, hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak di tengah ruangan. Cahaya temaram lampu memantulkan bayang-bayang di sekeliling, menampakkan puluhan anak laki-laki yang tampaknya belum genap berusia sepuluh tahun, tengah sibuk mengutak-atik botol-botol bening di atas meja-meja kayu. Cairan di dalam botol itu ada yang merah, ada yang hijau, dan ketika diguncang oleh tangan-tangan kecil itu, menggelegak mengeluarkan gelembung-gelembung kecil.
Anak-anak laki-laki itu hanya berbalut sehelai kain goni lusuh—menyebutnya pakaian pun terasa berlebihan, sebab lebih mirip sepotong kain compang-camping yang sekadar dililitkan di tubuh, dengan dua lubang untuk tempat lengan. Pakaian mereka kotor, penuh noda hitam kemerahan dan bekas kecokelatan, menandakan sudah lama tak pernah dicuci.
Selain anak-anak, di sudut ruang bawah tanah, dua pria dewasa bersandar pada dinding, masing-masing memegang sebuah buku catatan berkulit merah. Sesekali mereka menengok ke arah anak-anak di laboratorium, lalu kembali mencorat-coret buku mereka dengan pena bulu yang mereka genggam.
“Cairan Busuk Hitam hampir habis, kita harus segera menambah persediaan,” gumam salah satu pria itu, menghitung sisa bahan dengan dahi berkerut.
“Rombongan tawanan baru masih tertahan di Kota Anze. Kabut setan muncul di rawa abu di luar kota. Setelah jalannya dibersihkan, perjalanan ke benteng setidaknya butuh tiga hari.”
“Tiga hari? Sisa Cairan Busuk Hitam bahkan hari ini saja mungkin sudah tidak cukup. Tanp