Sebuah rahasia, rencana yang tersusun selama seratus tahun. Kebenaran, ketakutan... Di jalan pencarian sang remaja, apa yang akan menantinya di ujung perjalanan?
“Heh, kalian benar-benar pantang menyerah, ya!”
Di sebelah kediaman keluarga Mo, di sebuah rumah tua yang nyaris rubuh, seorang pemuda dikepung oleh empat orang, terdesak hingga ke sudut tembok. Di bawah kakinya, keranjang anyaman telah ditendang begitu saja, menumpahkan butiran-butiran herba hijau yang lalu diinjak-injak tanpa ampun.
Pemuda itu meringkuk di sudut, tak bersuara, kedua tangannya membungkus erat bagian belakang kepalanya.
“Chu Fei, sudah pikirkan baik-baik? Mau bicara atau tidak?”
Pemimpin dari keempat orang itu membungkuk, sudut bibirnya tersungging senyum licik, bertanya dengan nada mengancam. Melihat pemuda itu lama tak bersuara, wajahnya langsung mengeras. Kedua tinjunya memancar cahaya putih, jelas mengerahkan energi spiritual, bersiap menghajar habis-habisan.
“Masih belum mau bicara? Hajar saja! Pukul terus sampai dia mau membuka mulut!”
Di belakang keempatnya berdiri seorang pemuda bangsawan dengan pakaian mewah, wajahnya biasa saja, kedua tangannya bersedekap di punggung. Wajahnya penuh murka, teriakannya lantang dan galak, jelas terbiasa bersikap angkuh dan sewenang-wenang, mengomandoi keempat orang itu untuk menghantam pemuda malang tersebut tanpa belas kasihan.
“Bajingan, berani-beraninya kau mencuri barang Tuan Muda Mo Cheng! Sudah bosan hidup rupanya!”
Si kepala pelayan, sambil memaki, mengangkat suara dan memukul lengan pemuda itu dengan keras.
“Sampah! Cepat serahkan barangnya, kalau tidak, jangan harap bisa melihat matahari esok hari!”
Yang lain pun tak mau kalah, serangan mereka k