Bab Dua Puluh Tiga: Kejahatan Dibalas Kejahatan
Video yang memperlihatkan Renren Mu menyamar sebagai Zhen Buxin dan bertengkar dengan M di sebuah kedai hot pot seketika viral di internet. Semua media hiburan memberitakan kejadian tersebut. Banyak pembuat konten yang sengaja datang ke lokasi kejadian untuk melakukan siaran langsung demi mengejar popularitas. Dari seluruh peristiwa ini, pemilik kedai hot pot lah yang paling diuntungkan. Sang pemilik kedai tampak berseri-seri, menyambut pelanggan dengan wajah ceria. Berkat liputan para pembuat konten, kedai yang tadinya berada di pinggiran kota yang sepi itu kini dipadati antrean panjang.
Setelah sadar, Zhen Buxin mengira ia baru saja mengalami mimpi buruk. Ia melirik jam, ternyata sudah pukul empat sore. Ia tidak bisa mengingat mengapa ia bisa tertidur di sebuah gubuk reyot. Sepertinya ia sempat bertemu seseorang, tetapi otaknya terasa tertutup kabut, semakin dipikirkan malah semakin pening. Akhirnya, ia bangkit dan memutuskan untuk pulang.
Sambil berjalan, ia memeriksa ponselnya. Sistem masih berada di antarmuka harian, membuat Zhen Buxin merasa lega dan melangkah maju.
"Sudah kubilang itu pasti mimpi. Mana mungkin aku sebodoh itu sampai ketahuan di depan wanita tua Mai Huahua itu? Hmph! Begitu aku naik jabatan bulan depan, aku akan mencari kesempatan untuk memberi tahu suaminya tentang perselingkuhan yang ia lakukan. Dengan begitu, aku bisa menyingkirkan Mai Huahua sepenuhnya."
Zhen Buxin bersusah payah berjalan menuju jalan raya. Ia berkeringat deras, matahari seolah memanggang kulitnya. Tenggorokannya kering kerontang. Sambil berjalan, ia menyeka keringatnya. Kendaraan berlalu-lalang dengan cepat, dan beberapa kali ia nyaris tertabrak saat mencoba menghentikan taksi. Ia duduk di pinggir jalan, menunggu lama namun tak kunjung mendapat taksi daring. Lingkaran radar di layar ponselnya terus meluas, tetapi tidak ada satu pun pengemudi yang mau mengambil pesanan di tempat terpencil ini. Dengan pasrah, Zhen Buxin terpaksa berjalan kaki mengikuti petunjuk navigasi.
"Sial, kapan aku sampai ke tempat ini? Bukan, untuk apa aku kemari! Apa aku sudah gila!"
Setelah berjalan selama dua jam, dari matahari yang terik hingga senja menjemput, Zhen Buxin akhirnya sampai di pusat kota. Jalanan begitu ramai dan padat. Tiba-tiba, ia merasa ingin menangis. Saat ia mencoba menghentikan taksi di pinggir jalan, semua orang yang lewat menatapnya dengan pandangan aneh. Awalnya, ia mengira orang-orang memperhatikannya karena tubuhnya yang kotor, namun ketika kerumunan orang di belakangnya semakin banyak, bahkan ada yang mengeluarkan ponsel untuk memotretnya, barulah Zhen Buxin sadar.
"Apa yang kalian potret!"
Zhen Buxin berkata dengan tidak sabar. Ia menunduk untuk menepuk debu di pakaiannya, lalu kembali mencoba menghentikan taksi.
"Orang ini masih berani muncul? Pria sampah! Sudah mengkhianati mantannya, malah bersekongkol dengan wanita kaya yang membiayainya untuk memfitnah mantan itu. Kalau saja dia tidak ketahuan di kedai hot pot tadi, mungkin mantannya masih terus dihujat."
"Eh, aku juga dengar, dia menggoda puluhan wanita sekaligus lewat ponsel, dan isinya semua konten dewasa!"
"Benarkah!? Ya Tuhan! Benar-benar pria anjing! Pria sampah!"
Kata-kata itu terdengar jelas di telinga Zhen Buxin. Ia mulai menyadari bahwa kejadian siang tadi bukanlah mimpi. Dengan perasaan bersalah, ia menoleh ke arah gadis-gadis yang sedang bergosip di belakangnya, "Apa yang kalian bicarakan! Orang itu bukan aku! Bukan aku!"
"Bajunya saja sama, masih mau mengelak!"
Seorang pembuat konten yang sedang siaran langsung kebetulan lewat. Ia melihat Zhen Buxin dan matanya berbinar seolah menemukan emas. Dengan antusias, ia mendekat sambil mengarahkan ponselnya.
"Keluarga online! Lihat siapa yang kutemui! Dia adalah orang paling populer di internet hari ini! Ya Tuhan! Inikah berkah dari aku yang menjaga diri dan tidak bergantung pada wanita kaya? Teman-teman, kalian ingin lihat aku menghajar pria sampah ini? Ayo kirimkan hadiah kapal pesiar dan mobil sport!"
"Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!"
Zhen Buxin tidak berani menatap kamera. Ia buru-buru melepaskan tarikan pembuat konten itu dan berlari menyeberang jalan. Beruntung lampu lalu lintas sedang hijau, jika tidak, di jam sibuk seperti ini, Zhen Buxin mungkin sudah tertabrak jika nekat berlari seperti itu.
Karena pengaruh siaran langsung tersebut, orang-orang seolah melihat peluang bisnis. Mereka beramai-ramai mengeluarkan ponsel dan mengejar Zhen Buxin. Melihat adegan kejar-kejaran ini, orang yang tidak tahu situasinya pasti mengira Zhen Buxin adalah seorang selebritas.
Popularitas Zhen Buxin di internet tidak kunjung turun, bahkan terus melonjak. Hampir semua pembuat konten yang berada di pusat kota Fengcheng keluar dari rumah dengan membawa peralatan mereka. Mereka tidak ingin melewatkan kesempatan untuk kaya mendadak ini.
Menghujat pria sampah, menegakkan keadilan—siapa yang tidak suka drama seperti ini?
Setelah susah payah melepaskan diri dari kerumunan, Zhen Buxin terengah-engah dan bersandar di dinding untuk beristirahat. Detik berikutnya, cahaya lampu kamera seperti kilat menerangi gang sempit itu. Zhen Buxin terpojok di jalan buntu. Ia mundur selangkah demi selangkah, menyatukan kedua tangannya, dan memohon kepada orang-orang di depannya.
"Tolong lepaskan aku, aku tidak akan berani lagi. Kumohon, aku masih punya keluarga. Jika kalian menyebarkan ini di internet, keluargaku akan melihatnya. Kalian benar-benar menghancurkan hidupku!"
"Apakah mantanmu tidak punya keluarga? Apakah mantanmu tidak punya harga diri? Kamu sendiri yang merancang jebakan untuk memfitnah kesucian mantanmu, sekarang kamu tahu rasanya difoto dan disebarkan di internet, kan!"
"Aku salah! Aku benar-benar salah!" Zhen Buxin berlutut, "Aku benar-benar memohon, jangan lakukan ini lagi. Jika kalian melepaskanku, aku pasti akan bertobat!"
"Teman-teman, apakah menurut kalian aku harus memaafkannya?"
Di kolom komentar, semua orang menulis tidak memaafkan. Bahkan ada beberapa netizen radikal yang menyarankan agar si pembuat konten membawa Zhen Buxin ke rumah sakit hewan untuk menjalani operasi kebiri.
"Keluarga online tidak ingin memaafkanmu. Orang sepertimu harus dibongkar kedoknya agar tidak mencelakai gadis lain lagi! Teman-teman, kalian harus waspada! Jika bertemu orang ini, jangan pernah dekati dia! Dia sering bermain wanita! Siapa yang tahu apakah dia punya penyakit!"
"Tidak, aku tidak begitu!" Zhen Buxin membenamkan kepalanya ke tanah. Ia hanya berharap ini semua hanyalah mimpi, agar semua miliknya tidak hilang—harga dirinya, para wanita selingkuhannya, dan pekerjaannya yang akan segera naik jabatan. Ia hanya berharap bisa pingsan saat ini juga agar tidak perlu menghadapi cercaan dan pertanyaan dari orang-orang ini.
Mungkin karena pemandangan yang monoton terlalu membosankan, mungkin karena kelelahan mengejar Zhen Buxin, atau mungkin karena topik ini sudah kehilangan daya tarik awalnya, para pembuat konten yang mengepung Zhen Buxin perlahan-lahan bubar.
Harga diri Zhen Buxin benar-benar tertinggal di malam itu. Dengan tatapan kosong, ia terhuyung-huyung kembali ke apartemen sewaan seluas tiga puluh meter perseginya. Ia menatap kekacauan di dalam rumahnya. Impiannya untuk terbang tinggi dan menjadi burung phoenix telah hancur lebur. Ia tidak bisa lagi menghabiskan uang para wanita itu. Dengan perasaan sedih, Zhen Buxin menendang sampah di bawah kakinya dengan membabi buta. Seolah sudah gila, ia meraih kursi lipat dan membantingnya ke lantai sekuat tenaga, sampai sandaran kursi itu bengkok tak berbentuk, barulah ia berhenti.
Saat ini, hatinya penuh dengan kebencian. Ia membenci Wei Minrou, membenci Mai Huahua, membenci semua wanita di dunia, dan membenci para dewa di langit karena tidak memberinya seorang wanita yang cantik dan kaya raya.
Ia tidak terima!
Mengeluh dan menyalahkan keadaan selalu menjadi kebiasaan Zhen Buxin. Ia berkomunikasi dengan begitu banyak wanita sekaligus hanya agar suatu hari nanti bisa lepas dari kehidupan miskinnya. Meskipun ia bekerja di salah satu perusahaan hiburan terkemuka, semua gajinya habis untuk memoles penampilan diri.
Tinggal di rumah reyot, tetapi lemari pakaiannya penuh dengan jas merek ternama dan tas mewah.
Zhen Buxin berbaring di atas tumpukan sampah. Matanya merah padam, bau keringat di tubuhnya tertutup oleh bau busuk sampah. Ia bersumpah dalam hati bahwa ia harus mendapatkan kembali semua miliknya, bahkan apa yang bukan miliknya pun akan ia rebut paksa!
"Tertarik untuk melakukan sebuah kesepakatan?"
Sebuah suara yang penuh dendam dan misterius bergema di telinga Zhen Buxin.