Bab 49 Asal-Usul Si Bodoh
Halaman 1 dari 3
“Master desain perhiasan? Itu membutuhkan kerja keras yang luar biasa. Lihat saja Ye He. Dari luar dia tampak begitu gemilang, padahal sebenarnya…” Ia menggelengkan kepala.
Lin Yuxi menopang kepalanya dengan tangan, lalu menatap Chen Xingxing penuh harap. “Kau mengenal Ye He?”
“Tidak kenal!”
Lin Yuxi kecewa dan kembali berbaring. “Gayamu bicara seperti sudah sangat akrab dengannya.”
Chen Xingxing mengetuk dahi Lin Yuxi. “Berani sekali kau sekarang, gadis kecil. Berani menyindir kakakmu. Setahuku, waktu kecil kau pendiam sekali. Kalau bukan karena pernah mendengar kau berbicara dengan Huzi, kami pasti mengira kau bisu.”
Lin Yuxi mengerucutkan bibir tanda protes. “Kita sedang membicarakan Ye He, sang desainer besar. Kenapa malah menyeretku?”
Chen Xingxing meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. “Sebenarnya, bahagia atau tidaknya seseorang bukan dilihat dari betapa gemerlap penampilannya, juga bukan dari seberapa sering dia tersenyum, melainkan dari aura dan perasaan yang dia pancarkan kepada orang lain.
“Menurut logika, Ye He terlahir dari keluarga terpandang, kaya dan berkuasa. Seharusnya dia orang yang sangat bahagia. Namun, setelah bertemu dengannya, kau akan tahu bahwa kesan yang dia berikan justru… menyedihkan.”
Menyedihkan? Lin Yuxi tanpa sadar mengulangi kata itu dalam hati. Jika dikatakan tentang dirinya, mungkin masih masuk akal. Namun, Ye He begitu gemilang dan memukau. Bagaimana mungkin dia dikaitkan dengan kata menyedihkan?
Setelah mengobrol beberapa saat, rasa kantuk perlahan menguasai mereka…
…
Saat berangkat kerja pagi itu, Lin Yuxi terus merasa punggungnya panas, seolah-olah banyak mata sedang mengawasinya.
Ia tiba-tiba menoleh dan memandang sekeliling. Pemilik warung panekuk di pinggir jalan masih sibuk memasak, sementara para pekerja yang menunggu sarapan sesekali melihat waktu di ponsel mereka.
Para pejalan kaki yang mengejar jam sibuk pagi melangkah tergesa-gesa. Bahkan ada yang berlari kecil untuk mengejar bus yang hampir meninggalkan halte.
Pagi itu tampak begitu normal, tanpa keanehan sedikit pun.
Namun, ketika ia kembali berjalan setelah menoleh, rasa tidak nyaman seperti sedang dibidik sebagai mangsa kembali menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia hanya bisa melanjutkan langkah dengan penuh kewaspadaan.
Saat melewati sebuah gang kecil, tiba-tiba seseorang keluar dari dalamnya dan berdiri menghalangi jalan Lin Yuxi.
Lin Yuxi langsung waspada. Ia baru saja hendak membela diri ketika menyadari bahwa wajah orang itu tampak agak familier.
Ia segera mengingatnya. Orang itu adalah bawahan Tuan Quan. Ketika Gu Peinan bertemu Tuan Quan, dia selalu berdiri di belakang pria tersebut.
“Halo, Nona Lin. Tuan Quan ingin bertemu dengan Anda.”
“Tuan Quan?” Lin Yuxi dan Tuan Quan sepenuhnya berasal dari dua dunia yang berbeda. Mengapa dia ingin menemuinya?
Halaman 1 dari 3
Halaman 2 dari 3
Setelah berpikir sejenak, Lin Yuxi berkata, “Aku hanya sekretaris kecil biasa di Teknologi Nanxin. Mengenai penelitian dan eksperimen Direktur Gu, aku tidak tahu lebih banyak daripada kalian… Kalian salah mencari orang.”
Orang itu tahu Lin Yuxi telah salah paham. Ia tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan mempersilakannya. “Nona Lin, Anda salah paham. Tuan Quan ingin bertemu dengan Anda untuk urusan pribadi.”
“Urusan pribadi?” Itu terdengar semakin tidak masuk akal. Lin Yuxi merasa dirinya sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengan tokoh legendaris seperti Tuan Quan.
Ia tidak ingin menemuinya.
“Urusan pribadi apa? Kau bisa memberitahuku lebih dahulu.”
Maksudnya jelas: jika tidak ada alasan penting, ia tidak akan pergi menemuinya.
Bawahan itu tampak tertegun. Tuan Quan memiliki pengaruh yang luar biasa. Di Kota Hong, tak terhitung orang yang rela melakukan apa saja demi mendapat kesempatan bertemu dengannya.
Bukankah setiap perempuan yang mendengar bahwa dirinya menarik perhatian Tuan Quan seharusnya merasa sangat bahagia dan tak sabar ingin menemuinya? Bagaimana mungkin ada seseorang yang tetap acuh, bahkan menunjukkan niat untuk menolak?
Tuan Quan telah memberinya tugas, dan ia tidak boleh gagal menyelesaikannya.
“Nona Lin, beberapa hari lalu, apakah Anda menemukan seorang perempuan berusia lebih dari lima puluh tahun? Dia memiliki hubungan tertentu dengan Tuan Quan.”
Bawahan itu merasa tidak perlu menyembunyikan hal tersebut dari Lin Yuxi. Tuan Quan memang ingin menemuinya demi sang nyonya tua.
“Si Bodoh? Kalian tahu identitas Si Bodoh?” Suara Lin Yuxi dipenuhi kegembiraan.
Setelah mencari selama berhari-hari, akhirnya ada kabar tentang keluarga Si Bodoh. Tentu saja, Lin Yuxi tidak mengira Si Bodoh memiliki hubungan langsung dengan Tuan Quan. Bagaimanapun, kota ini dan Kota Hong berada di tempat yang berbeda.
“Untuk hal ini, Anda harus menanyakannya langsung kepada Tuan Quan.”
“Kalau begitu, tunjukkan jalannya.”
Bawahan itu memberi isyarat kepada dua pengawal yang mengikutinya. Keduanya segera mundur beberapa langkah. Setelah bayangan Lin Yuxi dan bawahan itu menjauh, mereka baru berjalan menuju warung panekuk.
Setelah melewati gang kecil, di tepi jalan yang sepi terparkir sebuah mobil van mewah yang tampak sederhana.
Bawahan itu berjalan mendekat dan membuka pintu belakang. Lin Yuxi hanya ragu sejenak sebelum masuk.
Pintu belakang terbuka sedikit. Quan Mingyan, yang sejak tadi memandang matahari pagi terbit dari balik garis cakrawala, menarik kembali pandangannya. Ia menoleh kepada Lin Yuxi yang kini duduk di sampingnya.
Di bawah cahaya pagi yang lembut, wajah gadis itu tampak segar dan matanya berkilauan. Raut wajahnya yang putih dan elok menyerupai boneka porselen, begitu menyenangkan untuk dipandang. Dua helai rambut yang sedikit bergelombang jatuh di dahinya.
Jari-jari yang diletakkan di atas lututnya bergerak samar. Ia sangat ingin mengulurkan tangan dan mencubit pipi gadis itu, untuk memastikan apakah kulitnya benar-benar selembut dan sehalus yang ia bayangkan.
“Tuan Quan, apakah Anda tahu di mana keluarga Si Bodoh?”
Halaman 2 dari 3
Halaman 3 dari 3
Suara gadis itu yang jernih dan tanpa sedikit pun nafsu duniawi menarik kesadaran Quan Mingyan kembali.
Ia memalingkan wajah dan menatap ke depan. “Namanya bukan Si Bodoh. Namanya Song Yanxue… dan dia juga ibuku.”
Lin Yuxi membelalakkan mata karena terkejut. Bukan karena tidak percaya, melainkan karena sama sekali tidak pernah menduganya.
Ia tidak menyangka bahwa ibu dari pemimpin keluarga Quan, yang menguasai nadi perekonomian Kota Hong, bukanlah perempuan tangguh yang cerdas dan cakap, melainkan Si Bodoh yang mengalami gangguan mental.
Pada saat yang sama, ia juga tidak mengerti bagaimana keluarga Quan, dengan kekuatan finansial sebesar itu, bisa sampai kehilangan Si Bodoh—bahkan hingga perempuan itu berakhir di depan panti sosial di Kota Shen.
Kalaupun kehilangan itu terjadi secara tidak sengaja, dengan kemampuan keluarga Quan, mustahil mereka tidak dapat menemukannya selama bertahun-tahun.
Terlebih lagi, setelah memperoleh kabar tentang ibunya, Quan Mingyan tidak segera datang untuk mengenalinya. Ia justru mencari Lin Yuxi terlebih dahulu.
Lin Yuxi mau tak mau meragukan niat Quan Mingyan.
“Jadi, hari ini Tuan Quan datang untuk menjemput Si… maksudku, ibumu pulang?”
Ia bertanya dengan nada menyelidik.
Quan Mingyan tidak mengakui maupun menyangkalnya. Ia hanya terdiam tanpa berkata-kata.
Tidak ada bentuk pengakuan yang lebih kuat daripada keheningan.
Lin Yuxi mendengus dingin. “Lalu, apa rencana Tuan Quan terhadap Si Bodoh? Berpura-pura tidak pernah bertemu dengannya, atau… memiliki rencana lain?”
Misalnya, memasukkannya ke rumah sakit jiwa atau memberinya sejumlah uang agar Si Bodoh selamanya tinggal di panti sosial.
Quan Mingyan menatap gadis cantik di sampingnya yang pipinya menggembung karena marah, menyerupai boneka porselen. Entah mengapa, hatinya justru diliputi sedikit kelegaan.
“Apakah kau tahu siapa Niu Niu?” Quan Mingyan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain.
Lin Yuxi benar-benar merasa penasaran. “Siapa?”
Seolah teringat akan masa lalu yang menyedihkan, emosi Quan Mingyan perlahan berubah dingin, sesuatu yang terlihat jelas oleh mata.
“Niu Niu adalah adik perempuanku… usianya sepuluh tahun lebih muda dariku. Ketika dia berusia tiga tahun, ibu membawanya ke taman hiburan. Saat itu terjadi kerusuhan sosial akibat aksi balas dendam. Sayangnya, dia menjadi korban para penjahat dan meninggal dalam pelukan ibu.”
“Ibuku terus hidup dalam rasa bersalah. Kondisi kejiwaannya perlahan runtuh. Untuk membantunya keluar dari kegelapan, ayah mencari seorang gadis kecil yang usianya kurang lebih sama dengan Niu Niu untuk menemaninya bermain. Karena berbagai alasan, selama lebih dari sepuluh tahun, sudah banyak gadis yang bergantian menjadi Niu Niu.”