Bab 73: Sang Guru Negara Beracun: Memelihara Tokoh Antagonis Tidak Mudah 3
Cahaya bulan menerangi jalan saat Bulan Putih keluar dari pintu istana. Namun, ia tidak menuju ke istananya sendiri, melainkan melangkah lebih jauh ke bagian terdalam istana.
Yao Yao Ling merasa heran, “Tuan, kau hendak ke mana?”
“Tentu saja ingin melihat Yan Wu Jin,” jawab Bulan Putih, mengenakan pakaian merah menyala yang membuatnya tampak begitu mencolok dan mempesona. “Bagaimanapun juga, dialah yang akan menjadi antagonis.”
Yao Yao Ling mengangguk, “Masuk akal juga.”
...
Di sebuah istana yang telah lama terlantar.
Di dalamnya, cahaya lilin redup, menandakan tempat itu telah lama tak terurus. Udara dipenuhi bau lembap yang sudah menjadi bagian dari waktu.
Yan Wu Jin terbaring di atas dipan dingin, tubuhnya ditutupi kain tipis yang sudah sangat kotor hingga sulit dikenali asalnya.
Karena kekurangan gizi, tinggi badannya tidak seperti anak-anak seusianya. Ia justru tampak seperti bocah enam atau tujuh tahun.
“Beriiit—” Pintu besar istana terbuka.
Angin dingin menyapu seluruh ruangan.
Yan Wu Jin menggigil, belum sempat menoleh, ia sudah mendengar suara langkah kaki pelan.
Lalu, tinju penuh kebencian menghantam punggungnya tanpa ampun.
Itu adalah pelayan kecil yang biasa melayani dirinya.
“Sudah kubilang agar kau membantu membersihkan Istana Qinghe, tapi kau berani membangkang! Gara-gara kau, aku dimarahi oleh Pelayan Chang, dan tunjangan bulan ini pun lenyap!” Pelayan kecil itu memukuli Yan Wu Jin dengan penuh amarah, napasnya tersengal-sengal.
Istana Qinghe dikenal sangat sial.
Seringkali, jenazah para pelayan ditemukan begitu saja di istana dingin itu.
Konon, dulu pernah ada seorang selir yang tinggal di sana, tewas secara tragis dan mengenaskan.
Kabar burung pun berkembang, sampai menjadi kisah mistis.
Semua orang percaya arwah selir itu gentayangan dan mengganggu.
Yan Wu Jin mengecilkan tubuhnya, mundur beberapa langkah untuk menghindari pukulan.
“Kau masih berani menghindar?” Pelayan kecil itu semakin marah, menendang perut Yan Wu Jin dengan keras sambil memaki, “Benar-benar merasa diri penting, ya?”
Yan Wu Jin menahan sakit, menatapnya dengan cemas.
“Hanya seorang anak dari bangsa barbar, kau pikir kau layak menjadi pangeran?” Pelayan kecil itu mengangkat tubuh Yan Wu Jin dengan kasar, mengumpat dengan kata-kata kotor.
Tapi Yan Wu Jin tiba-tiba mengambil segenggam kapur, lalu melemparkannya ke mata pelayan itu.
Pelayan kecil itu tak siap, matanya terasa perih, ia jatuh ke lantai sambil menjerit dan menutup wajahnya.
Yan Wu Jin menghela napas lega, lalu mengangkat tempat lilin di dekatnya dengan sekuat tenaga dan menghantam kepala pelayan itu dari belakang.
Pelayan kecil itu langsung tergeletak, pingsan tanpa bergerak.
Yan Wu Jin mengambil tali dari bawah dipan, dengan terampil mengikat tubuh pelayan itu, lalu menyeretnya dengan seluruh tenaga menuju Istana Qinghe.
Istana Qinghe tak jauh dari tempat tinggalnya, tetapi tubuh Yan Wu Jin yang kurus membuat perjalanan singkat itu terasa sangat berat dan memakan waktu.
Setelah sampai di depan istana yang penuh dengan rumput liar, Yan Wu Jin menyingkirkan ilalang yang setinggi orang dewasa, lalu berhenti di tepi sumur.
Dengan susah payah, ia memindahkan pelayan kecil itu ke mulut sumur, kemudian mengikatkan batu besar ke tubuhnya.
Lalu, terdengar suara “brak”.
Pelayan kecil itu menghilang ke dalam sumur yang kelam, seolah ditelan kegelapan abadi.
Istana Qinghe, sebenarnya tak dihuni hantu atau makhluk gaib.
Tempat itu hanyalah lokasi rahasia para selir untuk menyingkirkan pelayan istana yang tak diinginkan.
Setelah memandang malam yang tak bertepi, Yan Wu Jin menghela napas pelan, lalu berjalan kembali.
Saat tiba di depan pintu istana, ia menyadari ada seseorang di dalam.
Yan Wu Jin tanpa sadar mengerutkan kening, mendekat dengan hati-hati dan mengintip dari balik pintu.
Saat ia melihat sosok yang berdiri di dalam istana, napasnya tertahan tanpa sadar.