Bab 32: Jelas sekali ia lebih menyukai uang!
Wen Zhinan benar-benar merasa sangat kesal, semua kejadian yang menimpuknya akhir-akhir ini membuat emosinya menumpuk, dan kini semuanya dilampiaskan kepada Gu Beihan.
Namun, setelah menutup telepon, ia tiba-tiba bingung sendiri.
Dia bilang pada Gu Beihan, “tunggu saja dan lihat nanti”?
Tapi sebenarnya, apa yang ia ingin Gu Beihan tunggu dan lihat? Barusan itu semua hanyalah ucapan karena emosi, ia sama sekali belum memikirkan apa yang akan diperbuat.
...
***
Grup Perusahaan Gu.
Setelah menutup telepon, Gu Beihan pun tertegun.
Apa wanita kecil itu sedang tidak enak badan?
Saat itu, Yun Cheng masuk sambil membawa setumpuk berkas, “Bos, laporan keuangan bulan ini sudah keluar…”
Gu Beihan tiba-tiba mengangkat kepala, memandang Yun Cheng sambil berkata, “Kau sudah lihat berita hiburan hari ini?”
Ucapan Yun Cheng terpotong, ia pun menatap Gu Beihan dengan bingung, “Berita hiburan? Kalau berita ekonomi sih sudah. Aduh, bos, sekarang ini masih sempat-sempatnya perhatian sama gosip artis. Itu kan cuma selebriti sok penting, nggak ada gunanya. Rapat dewan sore ini jauh lebih penting. Para petinggi itu kan licik-licik semua! Nah, ini laporan keuangan bulan ini.”
Gu Beihan menerima laporan yang disodorkan Yun Cheng, lalu langsung memerintah, “Kau pergi lihat berita hiburan hari ini, lalu laporkan padaku.”
Yun Cheng langsung mengeluh, “Bos, dokumen rapat sore ini saja belum selesai aku siapkan, mana sempat urus berita gosip…”
Gu Beihan kembali melirik tajam, membuat Yun Cheng terpaksa diam dan langsung menuju sofa untuk mencari-cari berita hiburan.
Baru saja Gu Beihan hendak menelaah laporan keuangan, Yun Cheng sudah berseru kaget.
“Ya ampun, bos, ini siapa sih, berani banget!”
Gu Beihan mengerutkan kening, Yun Cheng menyerahkan ponselnya, menampilkan laman berita itu.
Begitu Gu Beihan melihat foto yang terpampang, raut wajahnya langsung menggelap.
“Bos, para wartawan ini benar-benar tidak tahu diri, berani-beraninya memberitakan tentang Anda?”
Gu Beihan melirik tajam, “Apa di seluruh artikel itu ada satu kata pun yang menyebut namaku?”
“Tapi, orang yang tahu pasti bisa menebak, kalau bukan Anda siapa lagi…”
Yun Cheng tak tahan untuk membela diri, namun melihat raut wajah Gu Beihan makin kelam, ia buru-buru mengubah ucapannya, “Benar, orang awam memang tidak akan tahu itu Anda, tapi siapa yang mengenal Anda pasti bisa menebak…”
“Sudahlah, selama mereka tidak menyebutkan namaku, biarkan saja.”
Sambil berkata, ia menelusuri berita lain yang terkait, memastikan tidak ada informasi pribadi tentang dirinya yang terungkap, lalu mengembalikan ponsel kepada Yun Cheng.
Yun Cheng menerimanya dengan enggan, “Bos, terus terang saja, ini namanya menipu diri sendiri. Apalagi kalau kakek Anda sampai tahu…”
Gu Beihan kembali melirik tajam, membuat Yun Cheng terdiam.
“Sudah, siapkan saja dokumen rapat dewan.”
Yun Cheng menatapnya lelah, lalu berbalik hendak pergi, namun sebelum menutup pintu, ia berhenti sejenak dan berkata, “Bos, bukan bermaksud apa-apa, tapi perlakuan Anda pada istri memang tidak adil. Pantas saja dia minta cerai…”
Gu Beihan langsung melemparkan pena logam di tangannya ke arah Yun Cheng. Ujung pena itu mengenai pipi Yun Cheng, membuatnya segera menutup pintu untuk menyelamatkan diri.
Ujung pena menancap di pintu sebelum akhirnya jatuh ke lantai karena tak kuat menahan beratnya.
Gu Beihan menatap pena yang kini rusak, wajahnya semakin gelap.
Saat pulang kerja malam itu, di dalam mobil Gu Beihan tiba-tiba bertanya pada Yun Cheng, “Apa aku benar-benar tidak adil pada Zhinan?”
Lewat kaca spion, Yun Cheng melirik bosnya, lalu menghela napas, “Tentu saja. Tidakkah kau sadar betapa buruknya perlakuanmu? Di rumah punya istri baik, di luar juga memelihara simpanan, wanita mana yang tahan?”
Gu Beihan kembali mengerutkan kening.
Apakah Wen Zhinan itu seperti kelinci kecil yang polos?
Setidaknya, dari cara dia memakinya di telepon tadi, mana ada sisi lembut kelinci kecil?
Yun Cheng, yang sudah mengenal Gu Beihan sejak kecil, melihat kawannya itu mengernyit, langsung mengubah nada bicara, “Bos, wanita itu harus diperlakukan dengan manis. Jangan selalu menurutkan ego sendiri, sesekali belikan hadiah untuk menyenangkan hatinya.”
Gu Beihan menoleh, “Hadiah? Apa yang harus dibelikan?”
Yun Cheng benar-benar tidak tahan dengan kebodohan bosnya dalam urusan asmara, “Bos, jujur saja, kalau bukan karena wajah dan nasibmu bagus, mana ada wanita yang bertahan? Istrimu masih mau bertahan tiga tahun sebelum minta cerai, itu sudah rejeki nomplok.”
Raut wajah Gu Beihan makin suram, Yun Cheng pun buru-buru berhenti dan mulai memberi saran.
“Semua wanita suka keindahan, biasanya yang disukai itu bunga, perhiasan, tas, dan kosmetik.”
Gu Beihan mendengarkan, tapi merasa saran itu tidak cocok.
Apakah Wen Zhinan tipe wanita seperti itu? Seingatnya, dia lebih suka uang!
Di rumah memang banyak pakaiannya, perhiasan dan tas, tapi selama ini tidak pernah terlihat antusias terhadap barang-barang itu, bahkan tidak seperti ibunya.
Jika ibunya, Fang Rou, punya tas baru, pasti langsung pamer. Tapi Zhinan tak pernah begitu.
Jadi menurutnya, daripada memberikan hadiah-hadiah itu, langsung saja memberinya kartu bank.
Selama bertahun-tahun, setiap kali Gu Beihan memberi kartu bank, Zhinan selalu tersenyum bahagia, tak pernah menolak.
Melihat bosnya tetap tidak tergerak, Yun Cheng akhirnya meminta sopir berhenti.
“Bos, tunggu sebentar, aku segera kembali.”
Kebetulan mereka berhenti di depan pusat perbelanjaan kota. Yun Cheng turun, berlari masuk, dan setelah lebih dari setengah jam, ia kembali dengan banyak kantong belanjaan.
Ia memasukkan semua barang ke kursi belakang dan berkata dengan bangga, “Bos, bawa barang-barang ini pulang, dijamin istrimu langsung tersenyum lebar.”
Gu Beihan menatap sinis kantong-kantong belanja dengan aroma wangi itu, “Kalau tidak berhasil, aku tidak akan mengganti uangmu.”
Yun Cheng langsung mengeluh, “Bos, jangan begitu, ini saja sudah menghabiskan gaji dua bulan. Kalau tidak diganti, aku bisa makan tanah dua bulan ke depan!”
Gu Beihan kembali menatapnya sinis, “Sudah, cepat naik mobil.”
Setibanya di rumah, Gu Beihan menatap sepuluh lebih kantong belanjaan itu, mendadak merasa canggung.
Seumur hidupnya, kapan pernah ia membawa belanjaan sebanyak ini?
Namun, teringat ucapan Yun Cheng, ia pun kikuk membawa barang-barang itu ke dalam.
Begitu masuk ruang tamu, Fang Rou sedang duduk di sofa dan terkejut melihat Gu Beihan membawa begitu banyak barang.
Gu Beihan sungkan mengaku bahwa itu untuk menyenangkan hati istrinya, jadi ia berbohong, “Oh, ini dari klien… sampel produk, suruh dicoba lalu beri umpan balik.”
Fang Rou pun percaya, karena memang tak pernah melihat Gu Beihan membelikan hadiah sebanyak itu untuk istrinya.
Tak lama kemudian, ia mendekat, memeriksa kantong-kantong itu, matanya langsung tertuju pada satu kantong tas, “Eh? Tas ini baru saja keluar beberapa hari lalu, aku juga ingin membelinya.”
Mendengarnya, Gu Beihan langsung menyerahkan tas itu pada Fang Rou, “Kalau Ibu suka, ambil saja.”
Fang Rou senang sekali, “Bagus, jadi tidak perlu berebut dengan orang lain. Katanya tas ini sangat laris.”
Setelah itu, Fang Rou naik ke atas dengan hati gembira sambil membawa tas barunya.
Gu Beihan mengernyit, “Jadi benar, semua wanita suka barang-barang ini?”
Memikirkan hal itu, ia pun membawa sisa belanjaan itu naik ke lantai atas.