Bab 43: Haruskah Kau Selalu Melawanku?
Waktu berlalu detik demi detik, selisih skor kedua kelompok hampir tidak ada, suasana pun semakin tegang. Sorak-sorai dari bawah panggung juga terbagi rata untuk kedua tim, seolah-olah pertandingan akan berakhir imbang. Namun siapa pun tahu, jumlah suara adalah angka ganjil, hanya mungkin satu tim yang menang, pada akhirnya tetap harus ada pemenang dan yang kalah di antara mereka.
Telapak tangan Wen Zhinan pun mulai berkeringat, sudah bertahun-tahun ia tak merasa setegang ini. Akhirnya, pembawa acara berseru, "Berhenti!" dan angka di layar lebar pun berhenti bergerak, mantap di angka "1019" dan "890".
Kelompok Wen Zhinan-lah yang mendapatkan "1019", mereka pun keluar sebagai pemenang.
Semua anggota kelompok sangat gembira, bahkan Liu Yunxi yang biasanya dingin pun kini wajahnya dipenuhi senyum. Zhao Jingya berbalik dan memeluk Liu Yunxi, Liu Yunxi pun tidak menolak. Xi Yinyin malah begitu girang hingga melompat-lompat di atas panggung, sedangkan Cheng Zi tak bisa menahan diri memeluk Wen Zhinan.
Namun saat ia memeluk Wen Zhinan, ia tiba-tiba terdiam. Hubungan mereka sebelumnya begitu canggung, kini ia yang memulai memeluk Wen Zhinan, tentu saja hatinya merasa kikuk. Tapi di hadapan kamera dan penonton, ia pun tak bisa berbuat lain, akhirnya ia memaksakan berkata, "Kita menang."
Wen Zhinan juga tidak menolaknya, ia menepuk ringan punggung Cheng Zi.
Mereka turun dari panggung, Cheng Zi ragu sejenak, tapi akhirnya tetap menarik tangan Wen Zhinan, "Jangan salah paham, aku tadi memang terlalu senang."
Wen Zhinan mengangguk, "Jadi, sekarang kau akan kembali dan bilang pada yang lain kalau tadi tak sengaja memelukku, bahwa hubungan kita tidak sebaik itu?"
Wajah Cheng Zi semakin memerah, Wen Zhinan menepuk bahunya, "Kalau memang tidak, kenapa harus dijelaskan? Kalau kau masih belum bisa melupakan masalah di antara kita, lain kali pembagian kelompok, ingatlah untuk menghindariku."
Setelah berkata demikian, ia pun berbalik dan pergi.
Cheng Zi memandangi punggung Wen Zhinan yang tegak dan kokoh, ada sedikit kesan gagah darinya.
Pertandingan kelompok berikutnya berlangsung dengan semangat membara, setelah kelompok Wen Zhinan tampil lebih dulu, mereka justru merasa lebih tenang, duduk di ruang istirahat menonton penampilan kelompok lain dengan diam.
Setelah keenam kelompok selesai bertanding, tim putri akhirnya menang tipis satu poin, yang berarti tidak ada anggota yang harus meninggalkan tim kali ini.
Semua pun menghela napas lega, kembali ke penginapan untuk tidur menenangkan diri. Beberapa hari terakhir, banyak yang kurang tidur karena tekanan mental yang tinggi.
Wen Zhinan keluar dari kamar mandi setelah mandi, lalu Xi Yinyin berkata, "Nine, tadi ponselmu terus berdering."
Wen Zhinan mengiyakan, lalu mengambil ponselnya. Ternyata Gu Beihan yang menelepon—lima panggilan tak terjawab, semuanya darinya.
Ia mengernyitkan dahi, membawa ponsel keluar kamar.
Ia tahu persis mengapa Gu Beihan mencarinya. Ia memang tak memberi tahu lebih dulu, jadi wajar saja kalau akan ada adu mulut, apalagi sebelum Gu Beihan berangkat dinas hubungan mereka memang sedang kurang baik.
Ia berjalan hingga ke bawah pohon, memastikan tak ada orang atau kamera, barulah ia menghubungi Gu Beihan.
Setelah beberapa dering, telepon diangkat.
“Kau mencariku?”
“Kau di mana?”
“Aku di lokasi syuting.”
Wen Zhinan menjawab ringan, ia menebak Gu Beihan pasti sudah tahu, hanya bertanya untuk memastikan.
“Kenapa kau ikut acara ini tanpa membahas denganku dulu? Apa kau tahu siapa dirimu? Sebelum melakukan ini, apa kau tidak memikirkan aku?”
“Gu Beihan, lucu sekali kau! Kenapa aku harus membahas ikut acara denganmu? Sebelum kau melakukan sesuatu, kau juga tak pernah membicarakannya denganku! Lagi pula, ikut acara ini bukan hal yang memalukan, apa hubungannya dengan statusku?”
“Kau! Kau sengaja menentangku?”
“Gu Beihan, jangan terlalu menganggap dirimu penting. Aku tak perlu melakukan semua ini hanya untuk melawanmu! Sebelum aku datang, aku sudah bicara dengan Kakek, beliau mendukungku. Aku juga sudah mencoba meneleponmu, tapi ponselmu selalu tidak bisa dihubungi, jadi kau tak perlu sekarang datang menyalahkanku.”
Gu Beihan terdiam, beberapa hari ini ia sibuk rapat di luar negeri, ponsel tidak selalu bersamanya, jadi memang ia tak menerima telepon Wen Zhinan.
“Kirimkan lokasimu, aku akan menjemputmu!”
Wen Zhinan tertawa kecil, “Tak perlu, kami di sini dikarantina, beberapa waktu ke depan aku takkan pulang. Kalau tidak ada keperluan penting, jangan telepon aku, latihan kami juga sangat padat, ponsel sering tak di tangan.”
“Apa maksudmu, Wen Zhinan?”
“Tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin memberitahumu bahwa aku juga bukan orang yang tak punya kesibukan. Sekarang aku punya pekerjaan dan urusanku sendiri. Mungkin ke depannya aku tak punya waktu lagi mengawasimu atau mencari-cari masalah denganmu, kau seharusnya senang akan hal itu.”
Gu Beihan terdiam cukup lama sebelum berkata, “Kapan kau libur dan bisa pulang? Aku akan menjemputmu!”
Nada Gu Beihan kini jauh lebih lunak, Wen Zhinan semula mengira mereka akan bertengkar hebat, siapa sangka ia malah cepat menurunkan ego.
Lalu ia berkata, “Setelah pertandingan kedua nanti akan ada waktu senggang dua hari, sekitar seminggu lagi.”
“Baik, nanti kirimkan alamatnya padaku.”
Setelah menutup telepon, Wen Zhinan masih agak heran, Gu Beihan setenang itu?
Atau ia diam-diam menunggu waktu untuk mengungkit masalah?
“Tunggu, siapa di sana?” Suara seseorang terdengar, cahaya senter menyorot ke arahnya—seorang staf sedang berpatroli.
Wen Zhinan buru-buru menutupi matanya dari cahaya, “Ini aku, Nine.”
“Oh, rupanya Nine. Tengah malam begini tidak tidur, ngapain ke sini? Jangan-jangan lagi makan sembunyi-sembunyi ya?”
Soal kelompok mereka yang pernah pesan makanan dari luar sudah jadi bahan omongan di tim produksi, hal itu membuat Wen Zhinan agak malu.
Ia berjalan mendekat, menggoyangkan ponsel, “Tidak, aku hanya menelpon sebentar.”
Staf itu memandanginya sejenak, “Kalau begitu, cepat kembali ke kamar, jangan berkeliaran di luar.”
Wen Zhinan kembali ke penginapan, bahkan sebelum masuk, ia sudah mendengar percakapan beberapa orang di dalam.
“Aku dengar dari Qi Qi, katanya Nine menikah dengan pria kaya, makanya dia keluar dari dunia hiburan. Sekarang tiba-tiba muncul lagi karena rumah tangganya tidak bahagia, mau cerai.”
“Info itu bisa dipercaya? Qi Qi memang paling suka menyebar gosip, sudah sering kena batunya. Lagipula, aku rasa Nine sama sekali tak seperti istri konglomerat. Lihat saja penampilannya dari atas sampai bawah, tak lebih mahal dari punyaku.”
“Qi Qi bilang, itu juga katanya sahabat Nine sendiri yang cerita. Katanya dulu Nine susah payah menggaet anak orang kaya, langsung buru-buru menikah. Sekarang sudah bosan, cerai pun tak dapat apa-apa, makanya buru-buru ingin kembali kerja!”
“Sudah, jangan sembarangan ngomong. Nine itu istri pejabat atau bukan, apa urusannya sama kalian?”
“Yinyin, kamu bela dia begitu, jangan-jangan dia sudah menjanjikan sesuatu ke kamu?”
“Apa sih, aku cuma bicara apa adanya. Kalian nggak takut kena batunya, ngomong di belakang kayak gini?”
“Aduh, Yinyin, kamu masih anak SMA ya? Jangan polos-polos amat! Nanti sudah ketipu masih juga bantu hitungin uang buat orang yang menipu!”
Tiba-tiba, pintu didorong keras hingga terbuka...