Bab 17: Kucingku Bisa Melakukan Salto Belakang
Belum sempat Vivi menjawab, Fan Mang sudah melihat ada sebuah peti harta karun berkilauan emas di samping mayat alien itu, tampaknya peti itu jauh lebih tinggi tingkatannya dibanding peti sebelumnya. Ia mengulurkan tangan, lalu mengambil peti itu.
Ding~
[Menemukan Peti Emas, buka untuk mendapatkan banyak hadiah]
Pada saat itu, K juga berjalan mendekat. Ketika melihat alien yang telah mati, wajahnya langsung berubah muram.
“Apa yang tadi dia katakan?”
“Dia bilang harus menghindari perang, galaksi ada di sabuk Orion,” tambah Vivi di samping.
“Terima kasih, lalu kau tahu apa maksud dari kalimat itu?” K agak bingung, apakah itu sebuah koordinat antar bintang? Tapi bagaimana mungkin ada galaksi di sabuk Orion?
“Hei, F, sahabat terbaikmu, J, datang!” Suara nyaring terdengar dari luar ruang mayat. Tak lama kemudian, pintu didorong, dan J masuk sambil mengenakan kacamata hitam.
“Siapa kamu? Siapa yang mengizinkanmu masuk?!” Vivi panik, penemuan ini sama sekali tidak boleh diketahui lebih banyak orang.
“Wah, nona, sepertinya aku pernah melihatmu. Kita pernah bertemu di mana, ya?” J memandang Vivi, bukankah ini asisten ahli forensik itu?
“Kau menggoda gadis dengan cara basi seperti itu? Maaf, aku tidak tertarik padamu,” ujar Vivi dingin.
Fan Mang hampir saja tertawa melihat J yang dipermalukan.
“Nona Vivi, ini rekanku, Dokter Edwards. Dokter Edwards, kemarilah, saatnya jadi saksi keajaiban.”
“Kalian berdua turun ke lapangan tapi tak mengajak aku. Untung saja Z melihat potensiku dan mengutusku membantu kalian, eh, melawan serangga. Tanpa aku, kalian pasti tidak bisa, kan? Sial! Apa-apaan ini?!”
J terus saja berceloteh sambil menoleh ke mayat orang kulit putih itu. Saat melihat alien di dalam kepalanya, ia melompat mundur dua langkah.
“Jelas sekali, itu alien,” ujar Vivi dengan nada meremehkan seraya melirik J, lalu menoleh ke Fan Mang, “Rekanmu ini penakut sekali.”
“Mereka adalah orang Akilen, dan ini adalah anggota keluarga kerajaan. Jika kabar ini sampai ke mereka, mereka pasti tidak akan senang,” jelas K.
“Jadi kalian bukan dari Dinas Kesehatan?” Vivi menatap Fan Mang dan rekan-rekannya dengan wajah serius.
“Eh... sebenarnya kami...”
“Kalian dari departemen khusus pemerintah, kan? Datang untuk menutupi kasus alien ini?” Ekspresi Vivi seperti menemukan dunia baru, K pun akhirnya bisa bernapas lega, tak perlu lagi mengarang identitas.
“Baiklah, lihat ke sini.” K mengenakan kacamata hitam, lalu mengeluarkan alat penghapus ingatan.
Fan Mang segera mengenakan kacamata hitamnya, J yang memang sudah mengenakan kacamata pun menutup matanya.
Seketika cahaya terang menyala, Vivi yang sedang mengarang cerita langsung terdiam.
“Hari ini kau hanya melihat satu mayat, kematiannya karena tertimpa benda berat. Lagi pula, kau tidak memelihara kucing. Kucing ini milikku, dan ia bisa salto.”
J menatap Fan Mang yang memasukkan seekor kucing oranye ke dalam tas hewan peliharaan, “Apa yang kau lakukan? Membawa barang milik orang lain melanggar aturan MIB, tahu!”
“Bukan, kucing ini peliharaan alien, jadi tak cocok ditinggal di sini. Kebetulan aku suka kucing, jadi aku akan merawatnya. K, ini tidak melanggar aturan, kan?”
K melepas kacamata hitam dan berjalan keluar, “Kerja bagus. J, kau sudah datang, sekalian tunggu di sini sampai tim logistik datang dan mengurus mayat alien, serta menuntaskan segala urusan.”
“Lalu kalian? Tinggalkan aku lagi?” J tak terima. Baru saja tiba, sudah ditinggal lagi.
“Kami akan mencari jawaban, sekaligus memburu serangga berbahaya itu. J, tugas MIB memang begini, dan pekerjaanmu yang paling minim risikonya. Lihat orang Akilen itu? Mereka baru saja masuk Manhattan lewat pintu masuk yang diawasi MIB, tapi sekarang sudah jadi mayat.”
“Jika kau tidak mau, aku bisa...” K berkata sambil mengenakan kacamata dan mengeluarkan alat penghapus ingatan.
“Tidak, tidak, aku mau. Demi MIB, apa pun aku lakukan,” kata J buru-buru.
Ia sudah berjuang keras untuk bisa turun lapangan, tak mau langsung dipecat MIB.
Jadi J hanya bisa menatap pilu kepergian K dan Fan Mang. Tugas pertamanya di lapangan ternyata harus mengurus sisa-sisa, sungguh berbeda dari bayangannya.
“Hei, F, benar kucing itu bisa salto? Nanti di asrama markas, suruh dia tampil di depanku.”
“Siapa kamu? Bagaimana bisa masuk ke sini? Mana identitasmu?” Vivi siuman, menatap J dengan penuh curiga.
“Eh, aku... siapa ya? Dokter, benar, aku seorang dokter.”
“Tidak, kamu bukan dokter! Segera keluar, atau aku laporkan ke polisi!” Vivi mengeluarkan ponsel dari saku, sambil menggenggam pisau bedah untuk berjaga-jaga.
Tunggu, kenapa kepala mayat itu terbuka? Kenapa ada orang kecil di dalamnya? Sebenarnya ini apa?
Pintu kamar mayat kembali terbuka, dua orang berbaju jas hitam dan berkacamata hitam masuk ke dalam.
“Kau bawa teman juga? Aku tahu, kalian yang membunuh mereka, kan? Sekarang mau membawa kabur mayat untuk menghilangkan jejak!” Vivi kembali berimajinasi.
“Hei, J. K memintamu tinggal membantu di sini? Bantu angkat mayat, urusan sini biar aku yang selesaikan,” kata seseorang sambil membawa kotak.
“Berhenti, aku bilang berhenti! Aku akan menelpon polisi!” Vivi mulai menekan nomor darurat.
Cahaya terang kembali menyala, Vivi pun sekali lagi terdiam.
J menunjuk Vivi, “Baru saja K menghapus ingatannya, kalau kalian terlalu sering menggunakan alat itu, apa dia tidak akan terganggu syarafnya? Nanti dia bisa kena pikun, atau kanker otak segala?”
“Seharusnya tidak, semakin cepat kau bertindak, makin kecil risikonya.”
J bertanya ragu, “Kalian pernah pakai alat itu padaku? Yang alat penghapus ingatan itu.”
“Tidak.”
“Benarkah?”
...
Raja serangga yang mengenakan kulit Edgar duduk di mobil boks milik perusahaan pembasmi serangga, memukul-mukul kotak di tangannya dengan brutal, kotak yang direbut dari keluarga kerajaan Akilen.
“Galaksi” sudah di tangan, ia tak sabar ingin melihatnya. Dengan sumber energi super ini, tidak ada yang bisa menghalangi kebangkitan bangsa serangga.
Bumi ini, ia akan biarkan anak-anaknya datang untuk menguasai. Manusia bumi yang bodoh, berani-beraninya membantai bangsa serangganya, tak terampuni!
Setelah sekian lama mencoba, akhirnya kotak itu retak, “Edgar” mendekatkannya ke mata, ternyata di dalamnya hanya ada bongkahan berlian.
Screeech~
“Edgar” menjerit, “Galaksi”-nya mana? Sumber energi supernya mana?!
Bam bam bam!
Sebuah tiang lampu di luar langsung dihancurkan “Edgar”, ia sudah turun tangan sendiri tapi tetap tertipu, hanya mendapatkan kotak berisi batu-batu tak berharga.
Dengan siapa saja keluarga kerajaan Akilen itu sempat berhubungan? Mungkin dia menyembunyikan “Galaksi” di suatu tempat?
Tiba-tiba ia teringat satu jawaban—toko perhiasan milik keluarga kerajaan itu!