Bab 2: Kiamat di Bumi?!
"Berhenti, jangan bergerak! Kalau kau lari lagi, aku tembak!" J mengacungkan pistol dengan kedua tangan, membidik perampok itu. Sayangnya, perampok itu sudah berlari ke jalan raya yang ramai dengan pejalan kaki. Ia khawatir salah sasaran.
"Brengsek! Kalau kau tertangkap, akan kupatahkan kakimu!"
J mengejar sekuat tenaga, melihat perampok itu melompat ke sebuah jembatan penyeberangan. Gerakannya sangat cepat, setiap lompatan pun tampak tinggi sekali. Apa dia pemain parkour?
Melihat J mengejar ke jembatan, Fan Mang pun buru-buru ikut naik. Namun fisiknya tak sebaik J. Untung saja ia masih punya kartu pengalaman LV2 sebagai senjatanya.
Begitu berpikir, kartu LV2 itu menghilang, dan Fan Mang merasakan kekuatan baru dalam tubuhnya. Rasa lelah karena berlari cepat tadi pun langsung sirna.
Perampok itu memegang pagar jembatan, dan ketika melihat J dan Fan Mang hampir menyusul, ia tanpa ragu melompat ke bawah. Ia hanya sedikit menekuk lutut, lalu berlari kencang menjauh.
J tertegun. Apakah perampok zaman sekarang sudah tak peduli nyawa? Eh, Fan, kau mau apa?!
Kebetulan sebuah bus tingkat melintas di bawah jembatan. Fan Mang membidik posisinya, lalu langsung melompat turun. Orang biasa pun bisa, apalagi dia, detektif tangguh New York. Dia pasti bisa.
J menggertakkan gigi, ikut melompat juga. Ia berguling saat mendarat, dan ketika berdiri lagi, melihat Fan Mang melompat dari lantai dua bus yang sedang berjalan, mengejar perampok itu.
"Wah, siapa itu? Keren sekali!" seru seorang wanita pirang dengan mata berbinar. Fisiknya pasti luar biasa, pasti hebat juga di bidang lain!
J melongo. Siapa di antara kita yang polisi sebenarnya? Kok kau lebih nekat dariku? Aku kan detektif terhebat di New York, masa kalah aksi?
"Jangan panik! Polisi New York sedang mengejar penjahat," seru J sambil menunjukkan lencananya. Ia menuruni tangga bus dan melompat keluar dari pintu lantai satu.
Lantai dua terlalu tinggi. Sejak kapan Fan Mang jadi sekuat itu?
Kebetulan sebuah truk melintas di tikungan. J memegang badan truk itu dan melihat kedua orang yang sedang berlari di pinggir jalan. Luar biasa, stamina Fan Mang ternyata hebat juga, kenapa ia tak pernah tahu sebelumnya?
Perampok itu menoleh ke belakang; tak ada yang mengejar lagi, ia akhirnya bernapas lega. Ternyata bertemu polisi Bumi, tapi sekarang ia berhasil lolos, bukan?
Kasihan orang-orang Bumi ini, mereka belum tahu bahwa kiamat sudah dekat. Saat dia itu tiba, takkan ada kehidupan tersisa di Bumi.
Fan Mang melihat J menumpang kendaraan dan melewatinya. Sial, kenapa ia tak terpikir untuk menumpang juga? Tapi tubuh dengan LV2 memang luar biasa; ia merasa jauh melebihi banyak tentara elit saat ini.
"Fan, terima kasih atas jasamu untuk kota ini. Tapi urusan menangkap penjahat, serahkan pada detektif terhebat New York seperti aku."
Baru saja perampok itu hendak memeriksa isi tas, tiba-tiba sesosok tubuh menerjang. Tangan orang itu mencengkeram pergelangan tangannya, membenturkan ke dinding, lalu mengeluarkan kartu identitas polisi dari saku.
"Heh, lihat ini, polisi New York! Artinya aku akan membawamu ke kantor polisi! Kau sudah merusak makan malamku, tahu tidak, brengsek!"
"Dia akan datang! Dia akan datang!" ujar perampok itu dengan nada panik.
"Kalau dia datang, akan kutangkap juga dan kubawa ke kantor polisi," kata J, mengira yang dimaksud adalah komplotan si perampok. Menangkap satu kelompok tentu lebih baik daripada satu orang, bisa jadi ia dapat promosi dan kenaikan gaji, lalu akhirnya Lilith si rekan kantor yang seksi itu akan memandangnya.
Saat ia tengah membayangkan masa depan yang indah, ia melihat perampok itu entah dari mana mengeluarkan senjata sepanjang lengan dengan bentuk aneh.
Fan Mang tepat tiba, menendang pergelangan tangan perampok, senjata itu terjatuh ke tanah, pecah seperti kaca, lalu berubah jadi bola api.
Sialan!
J nyaris mengumpat. Dari mana senjata sebesar itu keluar? Apa perampok ini seorang pesulap? Kenapa senjatanya bisa hancur dan terbakar?
Perampok itu memanfaatkan kelengahan J, tiba-tiba menubruk ke belakang, kedua kakinya cepat menjejak dinding, tubuhnya berputar 360 derajat, lalu mendorong J hingga menubruk dinding dan berhasil lepas dari cengkeraman.
Apa yang terjadi dengan perampok ini? Bisa melompat dari jembatan dan mendarat mulus, lari kencang, lompat tinggi, tenaga besar; dengan fisik seperti itu mending jadi atlet, kenapa malah merampok?
Namun, tak ada penjahat yang bisa lolos dari detektif tangguh New York. Kali ini pun tidak!
J mengeluarkan pistol, membidik dengan kedua tangan, tapi melihat perampok itu berlari ke arah gedung parkir, sementara Fan Mang juga sedang mengejar ke sana.
"Hei, Fan! Aku sudah bilang, urusan ini serahkan padaku. Orang itu sangat berbahaya!"
Sambil berteriak, J berlari mengejar. Ia tak mau teman sekamarnya tertimpa bahaya.
"Mana dia? Ke mana larinya?" J berdiri di samping Fan Mang, mencari jejak perampok.
Belum sempat Fan Mang menjawab, tiba-tiba sesosok tubuh meloncat dari rerumputan, menempel di dinding luar gedung, lalu memanjat ke atas dengan cekatan.
J terperangah. Itu dinding vertikal, tak ada tangga, bahkan pipa pun tidak. Bagaimana perampok itu bisa memanjat?
"Fan, tunggu di sini. Biar aku yang menangkapnya. Tak peduli secepat apa dia, tak ada penjahat yang bisa lolos dariku!" J berlari ke pintu utama gedung parkir, sayangnya sudah terkunci.
Ia mengangkat pistol, menembak kaca hingga pecah, lalu menerobos masuk. Ia menaiki tanjakan dalam gedung parkir, berlari ke atas.
"Sialan! Kenapa gedung ini tinggi sekali!" J terengah-engah. Ia bersumpah, kalau perampok itu tertangkap, akan ia beri pelajaran.
Saat itu ia melihat sesuatu naik di sisi lain. Fan Mang melambai ke arahnya. Kenapa ia tak kepikiran naik lift? Setelah jam kantor, lift tidak dimatikan, ya?!
Perampok itu terjebak di atap, semua pintu dikunci. Ia mencoba satu per satu, akhirnya ada satu pintu yang terbuka.
"Coba lari lagi!" J menahan napas, membidik kepala perampok itu dengan kedua tangan. Kalau berani lari lagi, akan ia tembak.
"Dia sudah datang," ujar perampok itu sambil mengangkat tangan dan mundur perlahan. "Dia datang karena aku gagal, jadi dia akan membunuhku."
J mengerutkan dahi. Apa si perampok ini sudah gila? Ucapannya tidak nyambung, jangan-jangan pemakai narkoba?
"Fan, tolong ambilkan borgol dari pinggangku, aku mau membawa orang linglung ini ke kantor polisi supaya sadar."
Fan Mang tidak mengambil borgol, melainkan menatap perampok itu. Inilah, pikirnya, makhluk luar angkasa. Penampilannya benar-benar mirip manusia Bumi.
"Kau bilang akan ada yang membunuhmu. Kapan dia datang? Apa kau bisa menghubunginya?"
J mengernyit, heran Fan Mang menanggapi omong kosong perampok itu.
"Kiamat di Bumi sudah dekat. Dia akan membunuh semua orang. Kalian semua akan mati!" Perampok itu tidak menjawab pertanyaan Fan Mang, malah terus mengoceh.
Tiba-tiba, mata perampok itu berkedip, tapi kelopak matanya tak bergerak, seolah ada lapisan tambahan yang menutup.
Tangan J bergetar. Hari ini ia sudah menyaksikan terlalu banyak keanehan pada perampok ini. Mustahil manusia bisa berkedip seperti itu, ini bukan trik sulap.
"Kau siapa sebenarnya?"
Perampok itu tak menjawab, hanya tersenyum misterius dan mundur perlahan sampai ke tepian atap.
"Hei, hati-hati, lihat ke belakang. Turunlah, nanti kutunjukkan ke dokter."
Cuma merampok tas, paling-paling ditambah pakai narkoba, masak sampai nekat bunuh diri?
Fan Mang buru-buru berkata, "Jangan takut, beritahu aku bagaimana menemukan orang yang ingin membunuhmu, biar kami yang mengatasinya."
"Tak ada gunanya, kalian semua akan mati, Bumi akan musnah."
Perampok itu merentangkan tangan, lalu tubuhnya jatuh ke belakang.
Fan Mang berlari secepat kilat, berusaha meraih tubuhnya. "Tunggu, ayo bicara dulu~~~"