Bab 29 Kakak Tertua Kami Mencarimu
“Nanti setelah aku selesai mengantar barang, aku mau lihat-lihat mobil. Mau ikut?” tanya Hu Gemuk yang baru saja selesai memindahkan seafood dan bersiap berangkat.
“Kamu saja yang pergi, aku nggak ikut,” jawab Wei Ming sambil memainkan ponselnya. Ia baru saja melihat pesan dari Xu Xianlong yang memintanya mampir ke kantor telekomunikasi, sehingga ia mengurungkan niat ikut. Ia hanya berpesan pada Hu Gemuk agar hati-hati memilih mobil, syukur-syukur langsung pilih Wuling saja.
“Siap!” Hu Gemuk tertawa, lalu mengayuh becak motor tiga rodanya dan berangkat.
Wei Ming masuk ke dalam rumah dan mengobrol sebentar dengan Ren Jumian. Setelah memastikan tidak ada masalah dalam bisnis, ia pun tersenyum, “Setiap hari seafood selalu ada sisa. Kalau sempat, bikinlah sedikit buat teman minum abang, kamu juga makanlah sedikit. Soalnya, ini bagus buat kesehatanmu!”
“Aku sudah sering makan, kok!” jawab Ren Jumian dengan gembira. “Lihatlah wajahku, nggak kelihatan lebih muda? Kaki dan tanganku juga terasa lebih ringan dari sebelumnya...”
“Beratnya nggak pernah kurang, kalian makannya di mana?” Wei Ming memasang wajah sedikit kesal. “Ini bisnis jangka panjang, harga jualnya juga mahal, Kakak jangan sampai mengurangi timbangan orang!”
“Kamu ngomong apa sih!” buru-buru Ren Jumian menjelaskan, “Orang beli seafood, kadang minta tolong aku bersihkan. Bagian-bagian yang nggak mereka mau, kayak perut ikan atau usus, kalau aku sempat ya aku bersihkan buat bikin sup...”
Mendengar itu, Wei Ming pun lega dan mengatakan tak perlu terlalu memikirkan hal itu.
Bagaimanapun juga, barang-barang itu walaupun dijual mahal ke luar, pada akhirnya tetap milik sendiri. Makan atau minum sedikit, sama sekali bukan hal besar.
“Orang lain meremehkan bagian dalam seafood, itu karena mereka nggak ngerti. Kamu kan ngerti, kan?” ujar Ren Jumian. “Asal dibersihkan dengan benar, mau dimasak sup atau ditumis, rasanya nggak kalah dari ikan atau kepitingnya sendiri!”
Wei Ming juga berasal dari desa nelayan, tentu tahu kalau bagian dalam seafood, asal diolah baik, rasanya enak dan tak kalah dari dagingnya.
Tapi mengingat pasangan suami istri itu sudah membantu usahanya, sebulan cuma digaji sepuluh ribu, bahkan tak sebanding dengan penghasilannya setengah hari, masih pula berusaha menghematkan uang untuknya, ia jadi merasa sedikit tidak enak hati.
“Kalau bukan karena kamu, kami suami istri nggak tahu bagaimana hidup. Jadi kamu nggak usah khawatir,” kata Ren Jumian dengan terharu, meminta Wei Ming segera mengurus urusannya sendiri, sementara ia membuka pintu rolling.
Begitu pintu terbuka, kerumunan yang sudah menunggu lama pun langsung menyerbu masuk...
Setelah menyapa beberapa pelanggan lama, Wei Ming berjalan santai menuju kantor telekomunikasi.
Dari kejauhan, Sun Song yang membawa beberapa seafood dari pelabuhan kembali ke pasar, melihat Wei Ming, wajahnya langsung berubah, langkahnya pun dipercepat...
Tapi mana bisa lolos dari pengamatan Wei Ming?
“Wah, bukankah ini Bang Song?” Wei Ming menyapa dengan santai. “Beberapa hari lalu katanya mau bawa seafood-ku buat diperiksa laboratorium, hasilnya gimana? Ada ketahuan kandungan berlebihan atau melanggar?”
Sun Song mendengar itu, wajahnya langsung menegang, tidak berkata sepatah kata pun.
“Lihat ekspresi begitu, berarti seafood-ku nggak ada masalah, ya?” Wei Ming pura-pura lega, menepuk dadanya. “Terima kasih ya, Bang Song!”
“Terima kasih apanya?” Sun Song bingung.
“Apa lagi?” ujar Wei Ming. “Sebenarnya aku juga mau periksa seafood-ku, takut ada kandungan berbahaya, tapi sayang uang. Nggak nyangka Bang Song rela keluar puluhan ribu buat periksa—padahal kita bukan siapa-siapa, Bang Song sudah bantu aku hemat banyak uang, masa aku nggak terima kasih?”
“Terima kasih apaan!” Mendengar itu, Sun Song yang sudah jengkel karena hasil pemeriksaan nihil tapi keluar banyak uang, langsung naik pitam, “Jangan semena-mena sama orang, ya!”
“Bukan aku yang semena-mena, kamu sendiri yang cari gara-gara!” balas Wei Ming.
“Kali ini aku kalah, tapi jangan senang dulu!” Sun Song menatap tajam pada Wei Ming, giginya gemeretak, “Kita lihat saja nanti, aku nggak percaya kamu nggak bakal kena batunya sama aku!”
“Mau lihat aku jatuh di tanganmu, itu susah!” Terbayang sudah beberapa tahun dipersulit orang ini, bahkan orang tuanya ikut dihina...
Hari ini akhirnya bisa membalas dendam, Wei Ming pun tertawa terbahak-bahak!
“Kamu Wei Ming, kan?” tiba-tiba terdengar suara dari samping. Seorang pria berambut keriting berkata, “Bos kami ada bisnis, mau bicara denganmu!”
“Nggak tertarik!” Begitu melihat tampang mereka, Wei Ming langsung menolak dan berbalik hendak pergi.
Beberapa pria bertato naga dan burung di lengan langsung menghadang jalannya.
Wei Ming mengangkat alis, menoleh ke si keriting, “Mau cari ribut, ya?”
“Kami juga nggak mau ribut!” si keriting berkata dingin. “Sekarang baik-baik dulu, kalau nggak mau nurut, nanti terpaksa pakai kekerasan!”
Wei Ming mengepalkan tinju, dalam hati berkata, sejak berlatih kekuatan tubuhnya melonjak, sudah lama ingin coba tenaga, tangannya gatal juga!
Tapi mengingat sekarang sedang berbisnis, lebih baik menghindari masalah, ia pun mengendurkan tinju dan tertawa, “Kalau begitu, ayo tunjukkan jalan!”
“Pintar juga!” si keriting mengejek, lalu berjalan di depan.
Dari kejauhan, Sun Song yang melihat kejadian itu pun mengernyit. Orang-orang itu bukannya anak buah Huang Mazi? Apa urusan mereka dengan Wei Ming?
Sun Song tahu bisnis Huang Mazi adalah penyelundupan, meski belum tahu apa yang mereka inginkan dari Wei Ming, pasti bukan urusan baik...
Ia lalu memutar otak, mengeluarkan ponsel dan menelepon, “Coba tolong selidiki, akhir-akhir ini Huang Mazi dan anak buahnya lagi sibuk apa...”
Setelah menutup telepon, Sun Song pun tersenyum dingin, dalam hati berkata, “Wei Ming, jangan sampai aku pegang kelemahanmu... Kalau sampai aku dapat, habis kau!”
Tentu saja Wei Ming tak tahu soal itu, ia hanya berjalan santai mengikuti si keriting dan teman-temannya.
Tak jauh dari sana, si keriting masuk ke sebuah warung sarapan, menunjuk pada pria yang sedang makan di meja, “Inilah bos kami!”
“Sudah kelihatan,” jawab Wei Ming sambil duduk di hadapan Huang Mazi. “Kamu cari aku?”
“Kamu lumayan berani juga!” Huang Mazi menatapnya sambil tersenyum. “Namaku Huang, pasti kamu pernah dengar soal aku!”
“Nggak peduli namamu siapa, langsung saja, ada urusan apa?” Wei Ming menjawab.
“Kamu ini kurang ajar ya? Berani-beraninya bicara begitu pada bos kami?” si keriting dan teman-temannya marah. Tapi Huang Mazi tetap tenang, melambaikan tangan agar mereka diam, lalu berkata, “Kalau begitu, aku terus terang saja—kami mau beli perahumu!”
“Tidak dijual!” jawab Wei Ming.
“Jangan buru-buru menolak, dengar dulu harganya!” Huang Mazi tersenyum. “Asal kamu mau jual, aku siap bayar satu juta!”
Saat menyebut nominal itu, Huang Mazi yakin sekali...
Dengan harga ini, bisa beli lima atau enam kapal mesin biasa! Kapalmu secepat apapun, aku yakin kamu nggak akan menolak!
Namun mendengar itu, bukannya tergiur, Wei Ming malah menatap sinis. Dalam hati berkata, kapal itu sudah menyatu dengan alat sihir dari kerang...
Satu juta saja mau beli?
Kau kira satu jutamu dolar Amerika atau euro?
Boro-boro bukan, meskipun iya pun...
Aku tetap tidak akan menjualnya!