Memelihara ayam dan bebek, menangkap ikan dan udang, kadang-kadang menyelami bangkai kapal, mencari harta karun, sarang burung walet di tebing sungguh bermutu tinggi, teripang di dasar laut berkelompok-kelompok, memeluk ikan listrik menjelajahi kota kuno, menunggangi paus menaklukkan bajak laut, pegunungan dan lautan ini aku yang mengatur, hidup menyepi di pulau terpencil penuh kebahagiaan... Desa terpencil di pulau sunyi, masa muda paling santai dan tenteram.
Desa Seribu Pulau, adalah sebuah pemukiman yang terletak ratusan mil dari pesisir, terdiri dari puluhan pulau besar dan kecil. Sebuah perahu kecil meluncur di atas air laut yang begitu jernih, sehingga tampak seolah-olah sedang melaju di atas kaca bening, memancarkan keindahan bak dalam mimpi ketika dipandang dari kejauhan.
Berdiri di atas perahu itu, Wei Ming tampak seperti terpesona dan terpukau... Jika bukan karena seekor anjing tua yang berlari-lari di sepanjang pantai, terengah-engah sambil terus menggonggong, ia mungkin sudah larut dalam keindahan ini, jiwanya melayang ke negeri para dewa!
"Hei, Huang Tua, gonggong dua kali saja cukup, jangan berisik terus!"
Wei Ming yang merasa suasananya terusik, menoleh dan memarahi anjing tuanya. Sang anjing membalas dengan tatapan tajam dan geraman rendah, matanya persis seperti seorang ayah yang menatap anaknya yang malas dan hanya tahu enaknya saja.
"Sudahlah, aku menyerah! Aku akan segera menebar jala, puas kan?" Wei Ming akhirnya mengalah.
Begitu jala mulai ditebar, si anjing pun berhenti menggonggong, mencari tempat teduh di pantai dan berbaring dengan lidah terjulur, sesekali menoleh ke arah perahu.
"Kelakuan anjing ini... entah belajar dari siapa!" Wei Ming mengomel sambil menebar jala, dalam hati curiga jangan-jangan anjing ini memang sengaja dikirim oleh Ayahnya, Wei Tua, untuk mengawasi dia.
Kalau tidak, setiap kali ia bermalas-malasan, tatapan si anjing persis sama dengan tatapan Ayahnya!
Ia teringat, meninggalkan jabatan manajer di perusa