Bab 26: Cukup Istimewa
Menyadari ada seseorang di punggungnya, Laba-laba Kepiting Merah Bintang Tujuh yang semula sudah sangat beringas menjadi semakin murka. Ia terus menggeliat, berusaha melemparkan Du Nianci ke dalam lahar panas.
Namun, kaki Du Nianci seolah berakar kuat di punggung laba-laba itu. Tidak peduli seberapa keras makhluk itu melompat, Du Nianci tetap bergeming.
Melihat Laba-laba Kepiting Merah Bintang Tujuh tak berdaya menghadapinya, Du Nianci langsung duduk bersila, lalu mengeluarkan sebuah joran pancing dan sepotong besar ikan mata malam yang telah dimasak dari kantong penyimpanannya!
Begitu ikan mata malam itu dikeluarkan, Laba-laba Kepiting Merah Bintang Tujuh yang semula gelisah tiba-tiba terdiam. Dari sudut mulutnya, cairan tak dikenal mulai menetes terus-menerus.
"Apa itu? Wangi sekali?"
"Lihat! Dia benar-benar mengeluarkan joran pancing! Dia pikir Lembah Neraka ini tempat apa? Apakah dia sedang piknik?!"
Para kultivator lain tidak habis pikir dan merasa sangat terkejut!
Namun, Du Nianci sudah sibuk mengikat ikan mata malam itu ke senar pancing dengan santai, sembari menyunggingkan senyum misterius. Tidak ada yang bisa menolak keahlian memasak Du si Juru Masak, apalagi Laba-laba Kepiting Merah Bintang Tujuh yang rakus ini!
"Hehe! Tangkap ini!"
Du Nianci mencengkeram bulu laba-laba yang panjang dengan satu tangan, lalu mengayunkan joran pancingnya dengan kuat. Ikan mata malam itu segera melayang tepat di depan mata Laba-laba Kepiting Merah Bintang Tujuh.
Aroma yang menggoda menusuk hidung makhluk itu, membuat air liurnya semakin deras mengalir.
Saat laba-laba itu menerjang maju, Du Nianci segera menarik joran pancingnya, membuat sang laba-laba meleset. Ia menerjang lagi, dan meleset lagi.
Laba-laba Kepiting Merah Bintang Tujuh sangat gigih, terus menerjang meski selalu gagal. Sesekali, Du Nianci dengan "murah hati" membiarkannya menggigit sedikit. Setelah merasakan betapa lezatnya ikan mata malam itu, sang laba-laba justru semakin bersemangat untuk mengejarnya.
Lama-kelamaan, ia menjadi terobsesi. Hatinya telah sepenuhnya tertawan oleh ikan mata malam di depannya, hingga ia lupa sama sekali tentang Du Nianci di punggungnya. Ia bahkan tidak sadar bahwa dirinya telah berubah menjadi tunggangan Du Nianci!
Manusia dan laba-laba itu bekerja sama dengan sangat serasi. Para kultivator yang menyaksikan pemandangan ini terdiam seribu bahasa. Apakah ini masuk akal?! Tentu tidak! Namun, Du Nianci benar-benar berhasil melakukannya!
Lahar panas di Lembah Neraka sangat mematikan. Kultivator tahap pembentukan fondasi, bahkan dengan perlindungan energi spiritual sekalipun, akan kesulitan bertahan di sana selama seperempat jam. Namun, Du Nianci yang menunggangi Laba-laba Kepiting Merah Bintang Tujuh justru tampak senyaman berada di rumah sendiri. Ketika ia menyuruh laba-laba itu ke timur, ia tidak akan berani ke barat.
***
Du Nianci terus berkeliaran di Lembah Neraka dengan santai di atas punggung laba-laba, sembari memanen semua Bunga Ekor Bara yang ada di dalam lahar panas dengan cepat dan tepat.
Orang-orang di sekitar meneteskan air mata iri sekaligus penyesalan. Mengapa mereka tidak terpikir untuk menjinakkan Laba-laba Kepiting Merah Bintang Tujuh dengan cara ini? Mungkinkah gadis ini jenius dari keluarga penjinak binatang?
Wajah Pei Shen menunjukkan kebanggaan. Benar saja, metode seperti ini hanya bisa terpikirkan oleh otak kecil kakak seperguruannya!
Sementara itu, mata Yu Ze berkilat keserakahan. Ia tidak menyangka Du Nianci yang tidak berguna itu ternyata bisa sangat berguna kali ini, bahkan berhasil memetik begitu banyak Bunga Ekor Bara. Ia pun mengubah rencananya; jika Du Nianci mau menyerahkan semua Bunga Ekor Bara itu, mungkin ia bisa memaafkan gadis itu untuk beberapa menit...
Saat ini, Du Nianci telah mengelilingi seluruh Lembah Neraka dengan laba-labanya, dan semua Bunga Ekor Bara di dalam lembah telah masuk ke kantongnya. Namun, ia belum menemukan keberadaan api asing! Apakah penilaiannya salah? Apakah waktu kemunculan api asing belum tiba, dan laba-laba rakus ini hanya keluar untuk mencari makan?
Detik berikutnya, lahar panas yang semula tenang tiba-tiba bergejolak. Du Nianci bisa merasakan dengan jelas bahwa Laba-laba Kepiting Merah Bintang Tujuh di bawahnya gemetar ketakutan. Tidak banyak hal di Lembah Neraka yang bisa membuat makhluk itu takut. Du Nianci langsung teringat pada api asing yang tertidur di dalam lembah!
Begitu pikiran itu muncul, lahar di bawahnya tiba-tiba membentuk pusaran raksasa yang mencoba menariknya masuk. Kecepatannya begitu cepat hingga Du Nianci bahkan tidak sempat merapal mantra sebelum ia dan sang laba-laba tertelan ke dalam pusaran!
"Kakak Seperguruan!"
Pei Shen segera melompat turun saat menyadari ada yang tidak beres, namun sayangnya ia terlambat satu langkah dan hanya bisa menatap nanar saat gadis itu ditelan pusaran.
"Sial!"
Dalam kemarahannya, Pei Shen mengayunkan pedang hingga membelah gunung di Lembah Neraka! Sepasang matanya yang biasanya hitam pekat berubah menjadi hijau untuk sesaat. Orang-orang di sekitar gemetar ketakutan oleh aksinya, tidak ada yang berani mengganggu pemuda yang memancarkan aura dingin tersebut.
Tiba-tiba, teringat sesuatu, ia segera mengeluarkan papan jiwa Du Nianci yang dititipkan padanya. Melihat papan jiwa itu masih utuh, ia akhirnya bisa bernapas lega. Papan jiwa belum hancur, berarti Du Nianci untuk sementara aman.
Saat terseret ke dalam pusaran, Du Nianci segera mengerahkan seluruh energi spiritualnya untuk menciptakan perisai es. Namun, tak disangka, Laba-laba Kepiting Merah Bintang Tujuh yang lamban itu justru berbalik dengan gesit, mendekap Du Nianci erat-erat dengan delapan capit besarnya, melindunginya dari semua lahar.
Di dalam otak seukuran kenari milik laba-laba itu, hanya ada satu pikiran: jangan sampai sumber makanannya ini mati! Jika tidak, ke mana ia akan mencari makanan selezat itu lagi?
Du Nianci, yang sempat kebingungan sejenak, segera menyunggingkan senyum misterius lagi. Benar saja! Ia tahu laba-laba rakus ini pasti akan berlutut di bawah spatula besinya!
Laba-laba itu mendekap Du Nianci dan berenang tenang ke kedalaman, seolah ingin membawanya ke suatu tempat. Hingga akhirnya, setelah laba-laba itu melepaskan capitnya dan menurunkan Du Nianci, barulah ia yakin bahwa tempat ini benar-benar memiliki gua tersembunyi!
Di atas kepalanya adalah lahar merah yang mendidih panas, namun tanah yang dipijaknya adalah daratan yang nyata. Yang lebih mengejutkan lagi, tidak jauh dari sana terdapat sebuah rumah bambu sederhana.
Du Nianci waspada. Baru saja melangkah, api biru tiba-tiba berkobar di sekelilingnya, membungkus Du Nianci. Dari dalam rumah bambu, seberkas api biru terbang keluar dan berubah wujud menjadi seorang anak kecil.
"Berani sekali kau! Berani-beraninya memetik semua Bunga Ekor Bara yang aku pelihara!"
"Oh... lalu kenapa?"
Mulut Du Nianci bereaksi lebih cepat daripada otaknya, matanya yang penasaran terus mengamati anak kecil berwarna biru di depannya. Wah! Seumur hidupnya, ia akhirnya melihat sosok "anak api" dari permainan! Dunia kultivasi benar-benar luas dan kaya, tidak bohong! Entah apakah nanti ia berkesempatan melihat anak es...
"Hei! Wanita! Tatapan apa itu?! Aku beritahu, kau sedang bermain api! Kau benar-benar telah membuatku marah! Konsekuensinya sangat serius!"
Du Nianci yang ekspresinya berubah menjadi tidak bisa berkata-kata: ... Apakah anak api ini terlalu banyak membaca novel tentang pria dominan?!
"Wahai Anak Api—"
"Diam! Siapa anak apimu!" Anak kecil berwarna biru itu menghentakkan kaki karena marah! "Aku punya nama! Namaku Chilian!"
Du Nianci: Emmm... Bagaimana ya mengatakannya? Cukup unik.