Bab Empat: Hati Seorang Tabib Seperti Hati Orang Tua
Palu kecil itu tampak indah dan menggemaskan, bentuknya mirip dengan pisau bedah, sepertinya memang satu set.
“Seperti yang sudah kukatakan tadi, aku seorang dokter,” ujar Mofei sambil mengangkat kedua tangan. “Jadi aku membawa palu kecil untuk menguji reflek lutut, wajar kan?”
“Sialan kau!” teriak kakek pengemis itu sembari bangkit dan lari terbirit-birit. “Uangmu tidak aku butuhkan!”
Kecepatannya lari mungkin tak kalah dengan pelari tercepat dunia.
“Sial!” wajah Mindy sampai memerah menahan marah, “Kita sudah menolong dia dengan baik hati, malah dia balik menipu kita! Rasanya ingin kubogem dia!”
“Sudahlah,” Mofei hanya bisa tersenyum kecut. “Pengemis tua seperti itu, kau memang tak bisa berbuat apa-apa. Sudah tua bangka, coba kau pukul, bisa-bisa seumur hidup dia menuntutmu!”
“Eh? Ada buku kecil di sini? Ini peninggalan kakek pengemis tadi?”
Mofei menunduk, memungut sebuah buku kecil dari tempat si kakek berbaring tadi. Sampulnya ditulis dengan aksara tradisional, tampak klasik dan kuno.
Didorong rasa ingin tahu, Mofei membolak-balik beberapa halaman secara acak.
[Terdeteksi ‘Buku Panduan Seni Bela Diri Bentuk dan Inti karya Moyouqian’, apakah ingin mempelajari?]
“Hm? Jangan-jangan kakek tua itu sebenarnya pendekar sakti yang menyamar?” Mofei pun mulai curiga.
[Seni Bela Diri Bentuk dan Inti lv1: Kau benar-benar lemah tak berdaya. Kalau malam-malam kau jalan di jalanan, besok paginya tubuhmu pasti ditemukan di sudut gelap... sudah jadi bunga matahari delapan kelopak menghadap mentari. (Pengalaman 0/100)]
Sialan!
Dalam hati Mofei hampir gila dibuatnya!
Di mana pisaunya?
Mana pedang besarku yang panjang empat puluh meter?
Percaya tidak, sistem bodoh ini bakal kutebas sekali tebas!
…
Malam semakin larut, kabut tipis perlahan menyelimuti kota, sorot lampu mobil di tepi jalan dibalut kabut tebal, menyebar menjadi lingkaran cahaya kelabu.
Di bawah sinar bulan, Mofei dan Mindy berjalan santai menuju rumah mereka.
Kadang terasa lucu, banyak yang bilang bulan di luar negeri lebih bulat, padahal di Negeri Elang ini justru ada istilah uang selamat dua puluh dolar.
Artinya, kalau keluar malam, harus bawa uang dua puluh dolar di saku, jadi kalau dirampok, tinggal kasih saja, setidaknya nyawa selamat.
Para perampok biasanya dari kalangan kulit hitam atau Meksiko kelas bawah pecandu ganja, mereka merampok dengan risiko ditangkap, tapi kalau tak dapat uang sepeser pun, mereka bisa saja menembak mati korban karena kesal.
Toh, harga sebutir peluru juga murah.
Kalau bukan di lingkungan ini, Mofei dan Mindy pun tak akan keluar malam-malam. Bukan takut bahaya, tapi malas berurusan dengan masalah!
Tapi ini Pecinan, tempat mereka tinggal sejak belasan hingga dua puluh tahun.
Sudah hapal betul daerahnya!
Baru saja membuka pintu, cahaya putih menyilaukan dari ujung jalan menyapu wajah mereka.
Mofei mengerutkan dahi, melihat sebuah truk kecil berhenti di depan rumah sebelah.
Dulu yang tinggal di sebelah adalah seorang pria paruh baya keturunan Tionghoa, usianya lima puluhan, ingin pulang kampung, rumah pun dijual.
Apa rumah itu sudah laku?
“Bro, nggak silau kan?”
Seorang pemuda pirang tersenyum meminta maaf pada Mofei.
“Tidak apa-apa,” jawab Mofei.
Meski sedikit sebal karena matanya silau, ia tak ambil pusing, namun orang-orang yang turun dari mobil itu tampak agak familiar.
Baru sadar, yang dikenalnya adalah... eh, ibu rumah tangga cantik yang barusan jadi pesulap!
Empat pesulap yang tadi unjuk aksi sulap!
Mofei pun langsung mengingat, basis mereka memang di Pecinan, ternyata kebetulan sekali, jadi tetangga baru.
Setiba di rumah, jam sudah hampir pukul sepuluh.
Jam segini, mau tidur jelas tidak mungkin, seumur hidup pun tak mungkin tidur jam segini, hanya menonton serial atau main gim yang bisa membuat hidup terasa berjalan.
Di sofa, Mofei dan Mindy saling bersandar, menyantap keripik kentang, menonton serial unggulan HBO.
Darah di mana-mana, adegan menegangkan!
Mofei merasa hidupnya lumayan!
“Memang hidup di Negeri Elang penuh masalah, tapi aturan sensor film dan stasiun TV swasta di sini bagus... Di Negeri Kelinci, TV isinya cuma ‘Kambing Ceria’, ‘Beruang Datang’, kalau nonton itu kelamaan kadang aku merasa lumayan juga... menakutkan!”
Mofei menghela napas.
“Kruks!”
Mindy, gadis kecil itu, asik menonton sambil menggigit keripik.
“Buka mulut.”
Mofei menurut, membuka mulutnya.
Sepotong keripik disuapkan Mindy ke mulut Mofei.
Setelah itu Mindy tersenyum manis, lalu kembali fokus menonton.
Beginilah kehidupan yang rusak dan penuh kemalasan itu.
Mofei merasa, kalau begini terus sepuluh hari setengah bulan, mungkin ia akan lupa nama aslinya sendiri.
Saat itulah, ponsel Mofei berdering: “Bro Mofei, ada pekerjaan nih, mau ambil tidak?”
Pekerjaan?
Mofei mengernyitkan dahi, kamu kira aku ini orang macam apa?
“Tidak!”
Ekspresi Mofei perlahan melunak, baru teringat, ia sekarang masih punya identitas dokter.
Oh, ternyata pekerjaan seperti itu!
Lagi pula, ia sedang menikmati waktu berdua menonton serial bersama adik tersayang, mana mungkin mau kerja?
Dikasih uang berapa pun juga, tetap tidak akan pergi!
Lawan bicara terdiam sejenak.
“Tapi di sini ada yang luka parah, butuh perawatan segera, kalau tidak bisa meninggal!”
Nada suara lawan bicara terdengar putus asa.
“Itu lebih membuatku tidak mau datang!” Mofei malas-malasan berkata, “Kalau sampai terjadi sesuatu, aku malah kena masalah! Langsung saja telepon 911!”
“Tapi...” suara di seberang sana terdengar ragu, lama kemudian berkata, “Lukanya tidak bisa dibawa ke rumah sakit...”
“Haha!”
Tawa Mofei datar, tanpa sedikit pun perasaan.
Bukan urusanku!
“Kami bayar lebih mahal, bagaimana?”
“Bukan soal uang!” jawab Mofei santai. “Sudah jam berapa sekarang? Kalau tidur lewat jam sebelas, kulit bisa rusak! Besok saja urusannya!”
Walau ini Pecinan, tetap saja jalan-jalan tengah malam itu sangat berbahaya.
Kalian kira Mofei orang yang butuh uang?
Masih coba-coba mengiming-imingi aku dengan uang?
Dengar ya, Mofei ini sekalipun harus mati kelaparan di luar sana, jatuh dari atap rumah, tetap tidak akan keluar tengah malam untuk praktik!
...
Sepuluh menit kemudian, Mofei mengajak Mindy membawa kotak obat mendatangi sebuah gereja, mengetuk pintu.
Ya, Mofei bukan karena tergiur bayaran tiga kali lipat itu!
Bukan orang seperti itu!
Semata-mata karena tak tega melihat orang sekarat tanpa pertolongan!
Seorang dokter harus punya hati nurani, siapa yang bisa memahami ketulusanku ini?
Aku tak bisa membiarkan anak-anakku mati dalam derita!
Tak lama, seorang wanita muda berpakaian biarawati membuka pintu gereja dengan wajah cemas.
Ya, biarawati itu berpakaian sangat berbeda, tubuhnya besar, dan kelihatannya juga merangkap jadi guru...
Mofei merasa gejala panas dalamnya mau kambuh lagi.