Bab Tujuh Puluh Dua: Sumur Dalam yang Membeku
Hotel Marriott yang biasanya megah dan mewah, kini telah menjadi puing-puing. Pecahan kaca berserakan di lantai, asap mesiu dari ledakan roket memenuhi udara, dan sisa api masih membakar karpet serta perabotan.
Mokfei muncul dari reruntuhan sambil memeluk Emil yang tanpa sehelai benang pun, tubuh mereka penuh noda kotoran.
“Sial! Siapa yang punya dendam segede ini sama gue, sampai-sampai pakai RPG buat ngeledakin gue!”
Padahal, dirinya selalu merasa ramah dan santun, tidak pernah cari masalah, jadi siapa yang tega hendak membunuh makhluk polos seperti dirinya?
Dia berpikir sejenak, sepertinya hanya kelompok Pembunuh Bayaran yang cukup gila untuk melakukan ini!
“Gak tahu sekarang gimana nasib Mindy!”
Berkat latihan panjang bersama Mindy, Mokfei sudah sangat terlatih dalam bertahan dan mendeteksi bahaya. Sambil membawa Emil, ia bersembunyi di kamar mandi. Seolah meminjam pakaian dari luar, padahal ia mengeluarkannya dari cincin ruang miliknya, lalu mengenakan pakaian itu untuk dirinya dan Emil.
“Braga... pasti Braga...” Emil mencengkeram kuat pakaian yang dikenakan Mokfei untuknya, bibirnya bergetar ketakutan menghadapi serangan mendadak RPG tadi.
“Kamu bilang apa?”
“Itu pasti Braga! Dia tahu aku berselingkuh, makanya dia suruh orang buat meledakkan kita!” Emil menggenggam lengan Mokfei erat-erat sambil meletakkan wajahnya di sana, berbisik lirih, “Kamu gak tahu, di dunia ini gak ada yang lebih mengenal Braga selain aku! Sejak kecil dia sudah menunjukkan sifat yang luar biasa, penuh ide gila, ambisinya besar dan keinginannya untuk mengontrol sangat mengerikan...”
“Aku dan dia lahir di desa yang sama, dulunya desa itu damai. Karena selalu berani dan cerdas, dia jadi pemimpin anak-anak.
Aku tahu kejahatan pertamanya—waktu itu dia baru tiga belas tahun. Ada sepasang muda-mudi dari luar kota datang ke desa kami untuk berlibur. Mereka marah karena merasa pantai langganan mereka direbut oleh pasangan itu, lalu keduanya berniat mencuri barang mereka. Ketahuan, terjadi cekcok, tapi pasangan itu hanya menegur Braga, sama sekali tidak memukul atau bahkan memaki.
Tapi, jiwa pendendam Braga yang kejam tak bisa menerima itu. Sore harinya, mereka bersama-sama menggembosi ban mobil pasangan itu, menaruh pasir di dalam mesin, membuat mereka terjebak di desa.
Kupikir balas dendamnya hanya sampai situ, ternyata aku salah besar... Malam itu, mereka menculik si pria, menusuknya lebih dari dua puluh kali di bagian yang tidak mematikan, lalu di depan mata lelaki itu...
Mereka membiarkan perempuan itu mengalami hal keji, sementara dia harus menyaksikan pacarnya perlahan kehabisan darah hingga tewas... Sejak kecil hatinya sudah sangat kejam, tak terbayangkan!”
Sampai sekarang, kenangan itu masih membuat Emil ketakutan dan menangis tanpa henti, “Mokfei, kita pasti mati! Kita benar-benar akan mati!”
“Emil, jangan bodoh!” Mokfei menarik Emil ke dalam pelukannya, menghapus air matanya, “Percayalah, selama aku di sini, dia takkan bisa membunuhmu!”
“Tidak! Tidak ada yang bisa menyelamatkan kita! Tapi aku senang, mati bersama Mokfei, bahkan masuk neraka pun aku takkan kesepian.” Sebuah senyum sendu menghiasi wajah Emil.
Mokfei hanya bisa terdiam.
Perempuan ini ada-ada saja, siapa juga yang mau masuk neraka?
Dari kecil Mokfei selalu rajin belajar, sering dipuji guru, bahkan waktu TK pernah dapat beberapa bintang merah.
Sekalipun mati, seharusnya dia masuk surga!
Aku, Mokfei, pasti masuk surga!
Eh... sepertinya ada yang aneh dengan pernyataan itu...
“Emil, kamu ini bodoh atau apa? Kamu lupa gimana caranya kita bisa selamat dari roket itu?”
Emil terdiam sejenak, lalu berkata, “Mokfei kamu mutan ya?”
“Bukan mutan, tapi aku memang punya sedikit kemampuan!” Mokfei tersenyum ringan, “Kamu bilang Braga sejak kecil sudah kejam dan licik, tapi bagiku, dia cuma bocah bandel yang sudah dewasa! Kalau anak nakal tidak mau nurut, ya, tinggal dihajar saja! Tidak perlu dibesar-besarkan!”
Sekarang Mokfei bukan lagi pemuda lugu yang dulu tak berdaya saat diserang bersama Dylan. Ia sudah cukup kuat untuk mengatasi serangan berbahaya.
Setelah memastikan penyerang telah pergi, Mokfei menghapus segala jejak dirinya dan Emil di kamar, kemudian membawanya turun ke bawah hotel.
Sepanjang perjalanan, keduanya mengenakan topi besar untuk menutupi wajah dan sengaja menghindari kamera pengawas.
Ia juga terus berkomunikasi dengan Mindy, meminta bantuan meretas untuk menghapus seluruh rekaman Emil di hotel dan menghilangkan jejak keberadaannya.
Begitu mereka masuk ke dalam mobil Bumblebee, Mokfei baru bisa bernapas lega.
Tak peduli siapa pun musuhnya, selama ada Bumblebee, ia yakin bisa melindungi diri.
Dirinya pun kini bukan lagi orang lemah. Dengan bela diri tingkat hampir empat, keahlian senjata level tiga, kemampuan memperlambat waktu, serta teknik membunuh yang dipelajari dari Mindy, juga persenjataan berat yang tersimpan di cincin ruangnya, bisa dibilang, selama masih ada ruang untuk bermanuver, Mokfei sendirian pun sanggup menghadapi seratus orang!
Baru saja mobil berjalan, Mokfei menerima telepon dari Mia, membuatnya bingung tak karuan.
Biarpun aku suka main perempuan, tapi kamu bukan pacarku, apa urusannya sampai harus putus hubungan segala?
Benar-benar wanita gila!
Mokfei tak memedulikan ucapan Mia. Ia melajukan Bumblebee keluar kota menuju lokasi yang telah disepakati bersama Mindy di pinggiran kota.
——
Setelah Mia menutup telepon, ruang penyadapan FBI juga hanya menyisakan nada sibuk.
“Jadi, dia mengakui dirinya Braga?” Si Raksasa Hijau—eh, maksudnya Kepala Agen FBI New York, Rode, mengelus jenggotnya.
Rode adalah pemimpin tim kasus kejahatan Braga, sedangkan si pirang kecil, Brian, bekerja di bawahnya.
“Belum tentu. Banyak makna ganda dalam ucapan Mia, Mokfei tidak serta-merta mengakui dirinya Braga.” Brian menyahut tenang.
“Karena pilihan kata Mia Trent yang penuh makna ganda dan ketidakpastian, rekaman ini bahkan tak bisa dijadikan bukti tambahan,” ujar staf administrasi FBI dengan nada pasrah.
“Mia itu lulusan Columbia, sangat cerdas!” Brian tersenyum sedikit bangga.
“Semoga cara kita menggertak kali ini membuahkan hasil. Wakil kepala hanya memberi waktu tujuh puluh dua jam! Dalam tiga hari, kalau kasus Braga tidak ada kemajuan, aku dipecat!” Rode melirik Brian, “Tapi sebelum aku turun jabatan, aku pastikan kalian semua duluan yang kupecat!”
Alasan Brian mendekati Mia bukan karena benar-benar ingin mendapat informasi darinya, melainkan karena FBI sedang kehabisan waktu, jadi mereka harus menggoyang keadaan dengan sedikit gertakan!
Brian: “???”
Di sini banyak orang, kenapa cuma aku yang ditatap?
“Anak-anak, untuk masa depan kalian, ayo semua bergerak!” Rode menepuk tangan, “Saya ingin pemantauan non-stop dua puluh empat jam terhadap si bocah itu. Saya ingin tahu setiap detiknya dia berbuat apa! Termasuk berapa lama dia di toilet dan warna celana dalam yang sedang dipakainya!”
——