Bab Tujuh Puluh Satu: Dalang di Balik Layar
Rumah Mia, yang juga merupakan rumah Dominic, adalah hasil rancangan Mia sendiri. Tidak hanya menawarkan keindahan estetika, yang lebih penting lagi, rumah itu menghadirkan kenyamanan dan kedekatan dengan alam bagi siapa pun yang tinggal di dalamnya.
Tata ruang luar rumah terasa sedikit tertutup, namun secara keseluruhan menonjolkan keunggulan pada bentuk yang mungil dan rapi.
“Tok tok tok!”
Brian, si anjing golden retriever kecil, berdiri di depan pintu rumah Mia dan mengetuknya.
Mia yang semula membuka pintu dengan wajah ceria, langsung berubah dingin ketika melihat Brian berdiri di depannya. “Ada apa kamu ke sini?”
Brian mengenakan setelan jas yang rapi, wajahnya tampak serius. Ia terdiam sejenak, lalu mengangguk dengan tegas...
Tanpa bersikap ramah sedikit pun, Mia berbalik masuk ke dalam rumah, bahkan tak menutup pintu. Pesannya sangat jelas.
Hubungan mereka memang belum selesai, sebab Brian pernah menjadi agen penyusup yang membuat kakak Mia celaka. Kini, keduanya masih terombang-ambing di tepian cinta dan benci, keluar masuk dari kehidupan satu sama lain tanpa benar-benar bisa melepaskan.
Ah, cinta yang penuh drama seperti itu sungguh...
Cinta, jika suka bersama, kalau tidak ya berpisah saja. Hubungan yang setengah-setengah hanya akan membawa masalah bagi diri sendiri.
Brian tersenyum pahit di sudut bibirnya, lalu masuk ke rumah Mia.
Jika bukan karena benar-benar jatuh hati, siapa yang mau jadi pengejar cinta yang penuh harapan sia-sia?
“Ada urusan apa kamu mencariku?” tanya Mia datar, tanpa ekspresi.
“Aku ke sini bukan untuk membicarakan soal Dom hari ini.” Brian mengatur napas, lalu berkata dengan serius, “Aku ingin menanyakan sesuatu tentang teman kecilmu, Mofi.”
“Mofi?” Mia menatap Brian dengan bingung. “Kenapa kamu menanyakan dia?”
“Berdasarkan informasi yang kami miliki di FBI, dia kemungkinan besar berkaitan erat dengan gembong narkoba besar di Pantai Barat, Braga. Bahkan, mungkin saja dia sendiri sebenarnya adalah Braga,” jawab Brian dengan wajah berat.
“Apa katamu?” Mia terkejut, menatap Brian dengan tak percaya. “Kalian pasti salah paham. Memang, Mofi sehari-hari suka bertingkah, senang bercanda, sering ganti pacar, bahkan kadang menggoda istri orang lain. Tapi, dia tidak mungkin sampai jadi bandar narkoba, kan?”
“Kami memang baru menduga, tapi itu bukan berarti kami tidak punya bukti sama sekali,” ujar Brian, mencoba menjelaskan.
“Braga adalah gembong narkoba kejam yang muncul di New York dua tahun lalu. Jumlah narkoba yang ia edarkan bahkan lebih banyak daripada Pablo Escobar selama sepuluh tahun. Orang tua Mofi meninggal dua tahun lalu, jadi sangat mungkin dia mengalami gangguan psikologis akibat kejadian itu.
Braga sangat misterius. Selama dua tahun, kami sudah mengirim tiga agen terbaik, namun yang kami dapatkan hanyalah kantong jenazah. Kami tak punya data apapun tentangnya; tidak ada foto, sidik jari, bahkan tanggal lahir pun tidak diketahui. Selain tangan kanannya, Raymond Campos, secara teori Braga bisa jadi siapa saja. Mofi juga sosok yang sangat misterius. Kami menemukan banyak celah dalam riwayat hidupnya, seolah-olah ada seseorang yang sengaja menghapus jejaknya. Jika ternyata dia adalah Braga, semuanya masuk akal.
Di kelompok Braga, ada orang ketiga yang cukup penting, seorang mantan agen Mossad bernama Giselle. Mofi sudah berhubungan dengan wanita itu sejak lima tahun lalu, dan sampai sekarang, setiap dua bulan mereka pasti berkomunikasi.
Dari hasil penyelidikan terbaru, Braga ternyata punya istri bernama Emily, dan Mofi sudah menjalin hubungan gelap dengannya sejak dua tahun lalu...
Selain itu, Mofi adalah seorang dokter. Kalau dia memang memproduksi narkoba...”
Brian lalu mengeluarkan setumpuk dokumen. Satu demi satu, perbandingan dan analisis antara Mofi dan Braga dipaparkan. Kesimpulan akhir FBI: ada kemungkinan 70% bahwa Mofi adalah dalang di balik sindikat narkoba Braga.
Padahal, sebelum seorang tersangka benar-benar divonis bersalah oleh hakim, biasanya hanya ada bukti 99% kemungkinan. Tujuh puluh persen saja sudah cukup membuat seseorang masuk dalam daftar pengawasan utama FBI.
Jika saja Mofi melihat analisis perbandingan itu, mungkin ia juga akan terkejut sendiri: ternyata dirinya sehebat itu sampai punya identitas lain sebagai Braga!
Sesungguhnya, itulah kecerdikan Braga. Ia menciptakan identitas samaran Raymond Campos sebagai tangan kanan, sehingga kecurigaan terhadap dirinya pun lenyap sama sekali.
Sementara Mofi, karena terlalu pintar bermain peran, akhirnya menjerat semua perempuan di sekitar Braga, hingga FBI menaruh curiga.
Hati Mia kacau balau. Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa Mofi yang konyol itu ternyata bisa menjadi gembong narkoba kejam.
Citra Mofi dalam benaknya benar-benar hancur berantakan!
Atas permohonan Brian, Mia akhirnya menceritakan beberapa hal tentang Mofi, meski tidak terlalu banyak. Selain soal Mofi yang pernah mengejarnya dan surat cintanya yang sempat dipublikasikan, sebenarnya mereka berteman baik sejak kecil dan tidak pernah disakiti Mofi atau keluarganya. Sekalipun Mofi benar-benar gembong narkoba, Mia tak mungkin langsung menuduhnya.
Setelah Brian pergi, Mia merasa gelisah. Ia tiba-tiba teringat tentang insiden baku tembak di jalan semalam. Gadis kecil itu jelas-jelas Mindy. Itu artinya...
Tidak, ini tidak boleh dibiarkan!
Mia segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon Mofi, “Mofi?”
“Iya, ini aku. Siapa ini?”
“Mia!”
“Oh, ada apa?”
“Kamu... apa selama ini melakukan sesuatu yang buruk?” Mia hampir saja menanyakan langsung, tapi mendadak ia menahan diri dan memilih bertanya secara halus.
“Hal yang buruk? Aku memang sering melakukan hal buruk, kamu maksud yang mana?”
“Baiklah, aku kasih tahu saja. Aku dengar kamu dan Braga...”
“Dari mana kamu tahu!” Sebelum Mia selesai, Mofi sudah berseru kaget. Ia melirik Emily yang duduk di sampingnya, lalu panik berkata, “Mia! Tolong dengar aku, kumohon jangan sampai kamu ceritakan ini ke siapa pun! Aku juga belum tahu kamu dapat info dari mana, tapi semua ini cuma kesalahpahaman!”
“Mofi!” teriak Mia dengan suara penuh emosi. “Aku sangat kecewa padamu! Tak kusangka kamu sampai tega jadi bandar narkoba. Aku sarankan kamu segera menyerahkan diri ke NYPD hari ini juga!”
“Apa? Bandar narkoba? Kapan aku...”
“Sudahlah! Jangan coba-coba kabur sebelum FBI mendapatkan bukti penting dan menangkapmu! Jangan kamu pikir bisa melarikan diri naik kapal selundupan keluar Amerika, lalu pindah ke Rusia, Tokyo, Iran, atau Kuwait! Jangan sampai aku bertemu kamu lagi! Sepanjang hidupku, yang paling kubenci adalah bandar narkoba. Kalau aku bertemu kamu lagi, aku tak segan menembak kepalamu dengan senapan!”
Mia menutup telepon dengan penuh amarah!
Mofi hanya bisa bengong mendengar nada sibuk dari ponsel. Sebenarnya apa yang ingin Mia katakan?
Tiba-tiba ditelepon hanya untuk diberitahu bahwa ia sudah tahu dirinya menggoda istri orang, lalu ingin bermusuhan seumur hidup?
“Benar-benar tidak waras!”