Bab Tiga Puluh Delapan: Ambil Senjatamu, Angkat Kapakmu!
Para pemain utama Universitas Teknologi Tiancheng perlahan mulai memainkan irama pertandingan mereka sesuai arahan Yu Manman. Benar saja, begitu mereka berhasil menahan pemain nomor 5 dan 10 dari Akademi Arsitektur Aolin, laju perolehan poin lawan pun melambat drastis.
Sementara itu, para pemain utama Tiancheng terus menekan saat menyerang. Berkat latihan menembak selama lebih dari setengah bulan terakhir, tingkat akurasi para pemain utama pun meningkat signifikan. Dengan begitu, saat kuarter kedua berakhir, Universitas Teknologi Tiancheng memimpin dengan skor 41-22.
Setelah jeda istirahat lima belas menit, kuarter ketiga pun dimulai. Para pemain utama Tiancheng mempertahankan irama permainan mereka, semangat bertambah tinggi. Sentuhan mereka pun makin matang—Kapten Meng Lang dengan mudah mencetak dua poin lewat layup tiga langkah; small forward Zhu Di mencetak dua poin lewat tembakan fade away; power forward Sun Peng menerobos ke bawah ring, dikepung tiga lawan, tetap berhasil mengangkat bola tinggi dan mencetak dua poin; point guard Zhou Xiaoshan dan shooting guard Xu Gaofeng bergantian menembak tiga angka—masing-masing menambah tiga poin.
Di saat yang sama, lawan hanya mampu mencetak dua kali tembakan dua angka. Skor di papan menjadi 53-26.
“Hanya kurang tiga poin lagi untuk menaklukkan lawan dengan selisih tiga puluh poin!” guard cadangan He Zhikun kembali berseru penuh semangat.
Geng Haoshi membatin: Ternyata benar seperti kata pelatih cantik itu, tim basket Akademi Arsitektur Aolin yang peringkatnya 637 dalam liga nasional universitas memang benar-benar tidak diperhitungkan.
Waktu terus bergulir, para pemain utama Tiancheng tetap mengendalikan jalannya pertandingan. Kuarter ketiga berakhir dengan skor telak 72-31.
“Benar-benar memuaskan!” Zhu Di, small forward utama yang sedang beristirahat di bangku, terlihat sangat puas dan nyaman.
“Ya, ya!” Pemain utama lainnya pun mengangguk setuju. Ini adalah pertama kalinya mereka bisa bermain dengan begitu lepas dan menghancurkan lawan. Dulu mereka selalu kalah, tapi melihat kondisi sekarang, hati mereka pun terasa sangat lega.
“Pelatih cantik, sekarang kami sudah unggul 41 poin. Bukankah saatnya kami para pemain cadangan diberi kesempatan turun ke lapangan untuk berlatih?” Melihat para pemain utama begitu puas, Geng Haoshi pun merasa semangatnya membara untuk bisa bermain.
Tentu saja, alasan utama Geng Haoshi begitu ingin segera turun ke lapangan adalah agar sang Dewi Mimi yang akan datang menonton nanti bisa melihat dirinya tampil gagah di lapangan.
Sebelum pertandingan, Yang Mimi sudah memberitahu Geng Haoshi bahwa ada urusan yang harus diselesaikan sehingga akan terlambat datang menonton pertandingannya.
Selama tiga kuarter pertama, Geng Haoshi terus berdoa supaya Dewi Mimi datang terlambat, karena ia tidak ingin Yang Mimi melihat dirinya hanya duduk di bangku cadangan tanpa turun bermain.
Geng Haoshi membatin: Sekarang kami unggul 41 poin. Jika di kuarter keempat aku bisa main, lalu saat Dewi Mimi datang melihat kami menang sebanyak ini, pasti dia akan mengira aku banyak berkontribusi. Saat itu, Dewi Mimi pasti akan memandangku dengan cara berbeda. Bahkan, mungkin akan jatuh cinta padaku… Ah, pasti akan begitu…
Jadi, sekarang adalah saat terbaik untuk turun ke lapangan. Geng Haoshi menatap Yu Manman dengan sorot mata penuh tekad. “Pelatih cantik, izinkan kami turun bermain!”
Mendengar permintaan Geng Haoshi, para pemain cadangan lain pun memberanikan diri menatap Yu Manman dengan penuh harap.
“Kalian benar-benar ingin turun bermain?”
“Ya!” Para pemain cadangan serempak mengangguk, menatap Yu Manman dengan penuh harapan.
“Kalian boleh turun,” Yu Manman menyapu para pemain cadangan dengan pandangan matanya, “tapi ada satu syarat.”
“Kalian harus bisa memperlebar selisih skor… Jika tidak, siap-siap saja menerima hukuman.” Meski Yu Manman tersenyum, para pemain bisa melihat hawa dingin di matanya.
Memperlebar selisih skor?! Berarti dengan keunggulan 41 poin sekarang, mereka harus memperbesarnya lagi! Para pemain cadangan menelan ludah, mulai ragu.
“Tidak masalah, Pelatih cantik. Kami janji akan menyelesaikan tugas!” seru Geng Haoshi lantang.
Geng Haoshi tidak berpikir sejauh itu, baginya yang terpenting adalah Dewi Mimi bisa melihat dirinya berdiri di lapangan nanti.
“Hey, jangan pengecut!” Geng Haoshi menoleh pada rekan-rekan cadangan, “Kita punya pelatih cantik, anggun, dan jago menghukum. Kita juga punya pemain utama yang gagah berani, pantang menyerah, dan selalu memberi teladan. Dengan pelatih dan teladan sehebat ini, masa semangat kalian tidak terpacu?”
Walau kata-kata Geng Haoshi terdengar lebay, keraguan di mata para pemain cadangan pun perlahan sirna dan digantikan dengan semangat baru.
“Benar, apa yang dibilang Er Ge itu betul!” ujar Zhang Zhaolong, small forward cadangan.
Pemain cadangan lainnya ikut mengangguk setuju.
"Priiit—" Peluit kuarter keempat dibunyikan.
"Baiklah, kawan-kawan! Saatnya kita turun ke lapangan!" seru Geng Haoshi dengan lantang.
Pemain cadangan pun mengikuti di belakang Geng Haoshi, semuanya penuh percaya diri dan semangat membara.
Geng Haoshi melangkah ke tengah lapangan, melirik ke belakang pada rekan-rekannya, “Ayo, kawan-kawan, siapkan senjata!”
Sret, sret, sret. Para pemain cadangan serentak mengeluarkan kapak kayu tiruan dari balik pinggang baju mereka.
Para pemain Akademi Arsitektur Aolin terkejut bukan main: Gila! Kapak?! Apa mereka bukan hanya ingin menang, tapi juga berniat menyerang kami?!
Wasit pun melongo: Sudah unggul sebanyak ini, apa mereka masih mau melukai lawan?
Sebenarnya, penonton yang berpikir cepat pasti sudah bisa menebak, berikutnya akan ada pertunjukan tarian kapak yang terkenal dalam film "Kungfu" yang dibawakan oleh Zhou Xingxing, dipimpin oleh Geng Haoshi. Ini adalah aksi masuk lapangan yang sudah beberapa kali dilatih Geng Haoshi bersama para pemain cadangan untuk memeriahkan suasana.
Geng Haoshi semakin bersemangat menari… “Hei, kamu! Kembali ke sini sekarang juga!” Yu Manman baru tersadar.
Tadi dia belum sempat menentukan siapa saja pemain cadangan yang akan turun, tapi peluit kuarter keempat sudah terlanjur dibunyikan. Saat melihat Geng Haoshi memimpin rekan-rekan cadangan masuk lapangan dan mengacungkan kapak, Yu Manman sempat tertegun beberapa saat, hingga akhirnya terjadilah adegan konyol ini.
Tak lama kemudian, Geng Haoshi kena marah besar dari Yu Manman dan dihukum jongkok di pinggir lapangan untuk introspeksi.
Selain Geng Haoshi dan center cadangan Li Meng yang duduk di pinggir lapangan, lima pemain cadangan lainnya sedang bertanding di lapangan.
Geng Haoshi masih belum menyerah untuk bisa bermain, sesekali ia mengganggu Yu Manman, memohon agar diizinkan turun ke lapangan.
Kelima pemain cadangan ini pun tampil tidak mengecewakan, skor kini menjadi 86-41.
Geng Haoshi mencium aroma wangi yang samar… Ketika menoleh, ia melihat Yang Mimi sedang berjalan ke arahnya!
Tidak bisa, aku harus segera masuk lapangan! Geng Haoshi kembali memohon pada Yu Manman, “Pelatih cantik, izinkan saya main sebentar saja… sebentar saja.”
Yu Manman melirik jam, “Baiklah.”
“Pergantian pemain!”
Geng Haoshi pun melangkah ke lapangan… Akhirnya! Aku benar-benar bermain dalam pertandingan!