Bab 11: Yang Linlin yang Memiliki Wajah Cantik dan Tubuh Menawan (Mohon Tandai Favorit)
Gemuruh air dari shower mengalir membasahi tubuhnya. Yang Linlin merasakan hangatnya air mengalir di atas kulitnya. Sementara itu, Ling Xiao berada di ruang tamu, mencatat bahan makanan yang akan dimasak besok.
Ia tahu beberapa hari terakhir ini Yang Linlin tidak dalam keadaan baik, bahkan sempat masuk angin, jadi ia berniat membuatkan sup hangat untuknya besok agar tubuhnya terasa lebih nyaman.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka. Ling Xiao mendongakkan kepala. Ia melihat Yang Linlin keluar dengan tubuh terbalut jubah mandi. Jubah itu menutup hingga ke tulang selangkanya, hanya menyisakan sepasang kaki panjangnya yang putih mulus. Namun, harus diakui, tubuh Yang Linlin terlihat semakin langsing saat ia mengenakan jubah mandi itu.
Ia kemudian berkata singkat, “Aku... aku mau masuk kamar dulu.”
“Baik,” Ling Xiao mengangguk, “Pengering rambut sudah aku taruh di kamarmu. Setelah mengeringkan rambut, langsung saja tidur, ya.”
“Baik...” Yang Linlin hendak masuk kamar, namun ia berbalik dan menatap Ling Xiao.
Ling Xiao merasa bingung, “Ada apa? Apa ada yang kamu butuhkan?”
Yang Linlin menggeleng pelan, lalu membungkuk sedikit, “Kak Ling Xiao, terima kasih...”
Setelah berkata demikian, ia masuk ke kamar dan menutup pintu dengan pelan.
Ling Xiao teringat ekspresi tak berdaya Yang Linlin saat awal mereka bertemu. Ia menduga mungkin selama dua hari ini gadis itu benar-benar mengalami guncangan berat. Bagaimanapun, ia tahu bahwa semua ini hanyalah sebuah permainan. Tapi Yang Linlin tidak tahu. Ia benar-benar percaya bahwa semua orang di dunia ini telah menghilang, hanya menyisakan dirinya seorang saja. Kini, dengan hadirnya seorang teman, setidaknya ia punya sandaran secara psikologis.
Saat itu, setelah selesai mengeringkan rambut, Yang Linlin berbaring di atas ranjang. Ia mengambil ponsel dan menatap foto bersama neneknya, matanya kembali memerah. Dengan penuh kerinduan pada sang nenek, ia merapatkan kedua tangan di dada, menekuk kaki, lalu tertidur dalam posisi setengah miring.
Dalam tidurnya, ia bahkan bermimpi kembali ke kehidupan lamanya. Sepulang sekolah, ia pulang ke rumah nenek, makan malam dan berbincang bersama. Malam hari setelah makan, Chen Ting selalu bercerita mengenai kejadian menarik hari itu. Kehidupan seperti itu terasa begitu damai dan harmonis.
Tak tahu sudah berapa lama ia tidur. Yang Linlin terbangun dan membuka mata. Ternyata barusan ia hanya bermimpi. Menyadari itu, hatinya semakin terasa pilu.
Ia membuka lemari dan menemukan beberapa pakaian perempuan milik pemilik rumah sebelumnya. Dari modelnya, tampak cukup modis. Melihat pakaiannya sendiri yang masih basah di kursi, ia pun mengganti dengan yang lain.
Keluar dari kamar, ia memperhatikan keadaan sekitar. Ruang tamu tampak kosong. Ling Xiao tidak ada di sana. Awalnya ia mengira Ling Xiao berada di kamarnya, jadi ia duduk di sofa dengan tenang menunggu.
Namun waktu berlalu, suasana rumah tetap sunyi. Ia mulai gelisah. Dengan hati-hati, ia melangkah ke depan pintu kamar Ling Xiao, mengetuk pelan, “Kakak senior...”
Tok tok tok...
“Kakak senior...”
Setelah memanggil dua kali, tidak ada jawaban. Seketika itu juga, rasa takut menyelinap dalam hatinya.
Saat ia ragu apakah akan membuka pintu, suara pintu rumah terbuka terdengar dari luar. Yang Linlin seketika panik. Ia tidak yakin siapa yang datang, ketakutan muncul begitu saja. Bahkan tangan kanannya hampir meraih gelas di atas meja.
Pintu rumah pun terbuka, Ling Xiao masuk dengan satu kantong di tangan kiri dan satu kantong di tangan kanan.
Saat melihat Yang Linlin berdiri di tengah ruang tamu menatapnya, ia terkejut, “Kamu sudah bangun?”
Ketegangan Yang Linlin perlahan mereda, lalu ia bertanya, “Kamu habis belanja, ya?”
“Belanja? Tidak perlu, supermarket di bawah sudah jadi milik kita,” jelas Ling Xiao.
Barulah Yang Linlin menyadari, semua yang ada di sini kini sudah menjadi milik mereka.
Ling Xiao lalu menyerahkan satu kantong padanya, “Ini untukmu!”
Yang Linlin bingung, “Ini...?”
“Itu semua pakaian baru untuk perempuan, aku ambil dari toko baju. Aku tidak tahu kamu suka model yang mana, jadi aku ambil sebanyak mungkin. Juga... ada pakaian dalam, tapi aku tidak tahu ukurannya, jadi aku ambil semua ukuran yang ada...”
Ling Xiao berkata dengan agak canggung.
Mendengar penjelasannya, hati Yang Linlin terasa hangat. Namun wajahnya pun merona malu. Sambil memeluk pakaian-pakaian itu, dengan gugup ia berkata, “Ma... makasih.”
Setelah itu, ia kembali ke kamar dengan membawa kantong baju. Ia menutup pintu lalu membuka kantong itu. Berbagai macam rok, celana, dan model baju tertata rapi.
Melihatnya, suasana hati Yang Linlin pun sedikit membaik. Sebagai perempuan, memang sulit menahan diri untuk tidak senang jika melihat kosmetik atau baju baru yang cantik. Setidaknya, beban di hati pun sedikit berkurang.
Namun di detik berikutnya, ia mendapati dirinya tertawa geli. Ia mengangkat bra merah terang dan melihat ukurannya, lalu bergumam pelan, “Kebesaran...”
...
Setelah dua hari, Yang Linlin sudah mulai beradaptasi dengan keadaan dunia yang berubah. Ling Xiao awalnya mengira hubungan mereka akan berkembang dari canggung menjadi akrab. Namun, Yang Linlin tetap menjaga sikap hormat. Usai makan, ia selalu kembali ke kamar, meski bicara seperlunya, urusan rumah tangga hampir semua ia kerjakan.
Ling Xiao tidak terlalu memikirkan itu, karena ia tahu suasana hati butuh waktu untuk pulih. Jika ia tidak tahu ini hanyalah permainan, ia juga tak mungkin bisa menyesuaikan diri secepat itu.
“Aku mau ke pom bensin, cari bahan bakar,” ujar Ling Xiao suatu pagi setelah sarapan bersama.
Yang Linlin mengangguk seperti biasa, lalu berkata, “Baik, aku cuci piring saja.”
Setelah itu, ia segera membereskan meja makan.
Ling Xiao meninggalkan rumah dengan mengendarai motor, berkeliling kota. Kini, motor adalah alat transportasi terbaik. Jalanan dipenuhi mobil yang terbengkalai, hanya motor yang bisa melewati lorong-lorong sempit dengan lancar.
Sesampainya di pom bensin, Ling Xiao mengisi jeriken dengan bensin. Ia menengadah menatap langit yang luas dan biru.
Cuaca hari ini cerah sekali.
“Andai tadi sempat menjemur selimut di balkon,” pikirnya menyesal.
Beberapa hari terakhir cuaca lembap, rumah terasa agak basah.
Setelah mengisi penuh jeriken, ia membawanya ke supermarket dan menuangkannya ke generator. Setelah semuanya beres, ia pun pulang.
Begitu membuka pintu, ia melihat Yang Linlin sedang tergopoh-gopoh membawa selimut ke arah balkon. Melihat itu, Ling Xiao segera membantu.
Yang Linlin melihat Ling Xiao pulang, lalu buru-buru menjelaskan, “Aku... aku lihat cuaca hari ini bagus, jadi ingin menjemur selimut.”
“Bagus sekali,” sahut Ling Xiao, “Aku juga baru mau jemur selimut. Selimutku sudah dijemur juga?”
Pertanyaan spontan itu membuat Yang Linlin sedikit malu. Ia berkata, “Maaf... aku sempat ingin menjemur selimutmu juga, tapi aku ragu masuk ke kamar tanpa izin...”
“Tidak apa-apa, aku ambil sendiri saja,” jawab Ling Xiao santai.
Setelah itu, mereka menjemur selimut bersama. Namun saat makan, Ling Xiao memperhatikan Yang Linlin tampak gelisah, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Akhirnya Ling Xiao bertanya, “Ada apa?”
Dengan ragu, Yang Linlin kembali meminta maaf, “Maaf, hari ini aku tidak sempat menjemur selimutmu... lain kali aku pasti akan ingat.”
Ling Xiao jadi bingung sendiri, apa tadi ia terlalu tegas padanya?