Bab 29: Kau Bisa Naik Sepeda?! (Mohon Dukungan Suaramu!)
Sering kali, ketika mengalami sesuatu atau mendengar sebuah kalimat, rasanya seperti kejadian itu pernah terjadi sebelumnya.
Saat ini, itulah yang dirasakan oleh Yang Linlin. Ia merasa kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Ling Xiao, seolah-olah pernah didengarnya di masa lalu. Namun, ia tak bisa mengingat pasti, apakah itu terjadi dalam mimpi atau kenyataan.
Sebelum memberikan air mineral kepada Yang Linlin, Ling Xiao dengan perhatian membuka tutup botolnya terlebih dahulu.
Yang Linlin pun segera mengucapkan terima kasih, “Terima kasih, Kak.”
“Tak perlu berterima kasih. Kau juga tak usah memanggilku Kakak Tingkat seperti Chen Ting, cukup panggil namaku, Ling Xiao, atau Kak Xiao saja,” jelas Ling Xiao sambil tersenyum. “Dulu aku sudah pernah meminta Chen Ting untuk mengubah panggilannya, tapi dia bilang memanggil Kakak Tingkat terasa lebih akrab.”
“Kalau begitu, aku panggil... Kak Ling Xiao,” pikir Yang Linlin sejenak, lalu berkata, “Dengan begitu, tetap terasa sopan dan juga lebih hangat.”
“Baik.”
Ling Xiao mengangguk.
Tiba-tiba ia juga teringat, dalam mimpinya, Yang Linlin memang memanggilnya seperti itu.
“Benar-benar kebetulan,” demikian pikir Ling Xiao pertama kali.
Mereka kembali ke bawah naungan pepohonan.
Kini keduanya sudah lebih akrab dalam percakapan.
Yang Linlin lebih dulu berkata, “Ting-ting belum juga selesai membeli tiket, sepertinya orangnya lumayan banyak.”
“Benar juga, bagaimana kalau kita lihat ke sana?” usul Ling Xiao.
“Baik.”
Mereka berdua segera menuju ke antrean.
Saat itu, Chen Ting sudah sampai di depan loket.
Ia menempelkan ponselnya ke kode QR di dinding dan berkata, “Sudah, aku sudah bayar.”
Tak lama, ia keluar dari antrean.
Baru saja keluar, ia melihat Ling Xiao dan Yang Linlin berdiri berdampingan di belakangnya.
Chen Ting memandang mereka berdiri bersebelahan.
Harus diakui, mereka memang serasi—pria tampan dan wanita cantik.
Satu berwajah manis, mengenakan gaun putih panjang, ibarat Putri Salju.
Satunya lagi tampan dan cerah, layaknya ksatria yang diam-diam melindungi sang putri.
Chen Ting menyerahkan tiket pada mereka, lalu berkata dengan heran, “Tak disangka, tiket kebun binatang ini ternyata cukup murah.”
Saat itu, beberapa laki-laki dalam antrean tak bisa menahan diri untuk melihat mereka dua kali.
Seorang gadis pendiam mengenakan gaun putih panjang, seorang gadis periang dengan celana pendek.
Semua mata tertuju pada Ling Xiao.
Ah! Sungguh pemenang dalam hidup!
Ling Xiao tentu menyadari bahwa ada yang memperhatikan mereka.
Ia pun segera mengusulkan, “Kalau begitu, ayo kita masuk.”
“Baik, mari lihat-lihat binatang kecil!”
Mereka bertiga pun masuk ke dalam kebun binatang.
Saat berjalan-jalan, Chen Ting tampak sangat perhatian.
Ia memilih berdiri di sisi paling kiri, tangan kanannya menggandeng tangan Yang Linlin, menempatkan Yang Linlin di tengah.
Selain itu, saat berbicara dengan Ling Xiao, Chen Ting sesekali mendorong Yang Linlin ke arah Ling Xiao.
Yang Linlin hanya bisa tersenyum pahit.
Ia merasa tindakan ini terlalu mencolok.
Jika sampai diketahui kakak tingkat, ia khawatir dianggap sebagai gadis yang terlalu mudah didekati.
Karena itu, saat berada di area istirahat dan hendak ke toilet, Yang Linlin mencari kesempatan untuk berbicara dengan Chen Ting, “Ting-ting, kamu membuatku jadi sangat canggung.”
“Kenapa canggung?” tanya Chen Ting heran. “Aku kan sedang menciptakan kesempatan untukmu!”
Yang Linlin ragu-ragu, “Tapi... ini pertama kalinya kita main bersama, apa nggak terlalu jelas?”
“Kenapa harus dipermasalahkan? Anak muda zaman sekarang pacaran memang begini,” jelas Chen Ting. “Pertama kali main bareng, saling mengenal, kedua kali sudah bisa gandengan atau dipeluk, ketiga kali keluar rumah sudah harus bawa KTP.”
Yang Linlin bingung, “Bawa KTP?”
“Mau sewa kamar hotel masa nggak butuh KTP?”
Chen Ting mengeluh, “Aduh, kamu itu terlalu jaim, dan nggak tahu cara bergaul dengan laki-laki. Setiap ada cowok yang mendekat, kamu selalu menjauh. Mana bisa pacaran dengan cara begitu?”
Yang Linlin terdiam, tak bisa membantah.
Karena memang benar apa yang dikatakan Chen Ting.
Dirinya memang seperti itu.
“Tapi... aku merasa aku sudah cukup nyaman berinteraksi dengan kakak tingkat, dan aku ingin semuanya berjalan perlahan saja,” Yang Linlin tetap bersikeras.
“Ya sudah, kalau begitu aku nggak akan ikut campur lagi~” kata Chen Ting sengaja.
“Eh, eh!~”
Yang Linlin tahu Chen Ting pura-pura marah, ia segera meraih tangan Chen Ting sambil berkata, “Aku cuma merasa kakak tingkat berbeda dengan cowok-cowok lain. Kalau dijalani pelan-pelan, mungkin hasilnya lebih baik. Ting-ting, aku bukan menyalahkanmu, maaf ya.”
Chen Ting pun tertawa, “Aku kan nggak bilang aku marah. Tapi jujur, dari dulu kamu tuh nggak pernah peduli soal pacaran atau hubungan laki-laki dan perempuan. Sekarang kamu sampai segitunya, aku benar-benar terharu.”
“Apa sih yang kamu omongin!” Yang Linlin memukul pelan bahu Chen Ting.
“Aduh! Berani-beraninya kamu memukulku, lihat saja, nanti aku geprek kamu! Biar nggak gede kepala!” kata Chen Ting sambil bercanda, lalu mereka pun saling kejar-kejaran keluar dari toilet perempuan.
Kebetulan Ling Xiao sedang menunggu di depan pintu.
Melihat mereka bercanda seperti itu, Ling Xiao pun ikut tersenyum.
Ketika melihat Ling Xiao menatap mereka, Yang Linlin langsung berhenti bercanda dan bersikap lebih serius.
Chen Ting yang melihat itu pun tak tahan untuk tertawa geli.
Karena Kebun Binatang Bei Jiang sangat luas, Ling Xiao melihat ada tempat penyewaan sepeda tak jauh dari sana, lalu mengusulkan, “Bagaimana kalau kita berkeliling naik sepeda saja? Jadi tidak perlu jalan kaki.”
“Setuju, setuju!” seru Chen Ting sambil mengangguk.
Yang Linlin hendak berkata sesuatu, tapi akhirnya urung.
Mereka bertiga pun menuju tempat penyewaan sepeda.
Ling Xiao bertanya pada pemilik, “Pak, bagaimana cara sewanya?”
“Sepeda tunggal, Rp15.000 per jam, sepeda tandem Rp25.000 per jam,” jelas si pemilik.
Agar Ling Xiao dan Yang Linlin punya kesempatan berduaan, Chen Ting buru-buru berkata, “Linlin nggak bisa naik sepeda, jadi Kakak Tingkat, kamu saja yang naik sepeda tandem sama Linlin, aku sendiri pakai sepeda tunggal.”
Ling Xiao agak terkejut, ternyata sama persis seperti dalam mimpinya.
Ia memandang Yang Linlin dan bertanya, “Kamu nggak bisa naik sepeda?”
Yang Linlin gugup, “Aku...”
Ia sebenarnya malu mengaku tidak bisa naik sepeda, apalagi sebagai orang dewasa, itu terasa sangat memalukan.
Jadi ia buru-buru menggeleng, “Aku... aku bisa, cuma belum terlalu lancar saja.”
Chen Ting terkejut, “Linlin, kamu sudah bisa?”
Wajah Yang Linlin memerah, ia pura-pura tenang menjelaskan, “Kalau kalian nggak percaya, aku bisa tunjukkan. Pak, boleh coba sepedanya sebentar?”
Tadinya ia pikir pemilik sepeda tidak akan mengizinkan, jadi ia bisa menghindar dengan alasan itu.
Namun, si pemilik justru seperti penonton yang penasaran, langsung mengizinkan, “Boleh, silakan saja.”
Yang Linlin jadi terpaku sejenak, tapi akhirnya ia melangkah ke sepeda tunggal, menggenggam setang erat-erat, dan mempersiapkan diri.
Chen Ting masih mengingatkan dari samping, “Linlin, hati-hati ya.”
Yang Linlin menarik napas dalam-dalam, lalu mengayuh pedal.
Tangan berusaha mengendalikan setang, menjaga keseimbangan.
Eh?
Tunggu sebentar.
Kenapa terasa begitu mudah?
Ling Xiao melihat itu, tertawa, “Ternyata Linlin memang bisa bersepeda.”
Chen Ting di sampingnya pun mengernyitkan dahi, bergumam heran, “Sejak kapan Linlin bisa naik sepeda, ya...”