Bab 13 Menghajar Li Feng Sampai Babak Belur

Viajando para Da Xia, Fiquei Rico Caçando Espada Voadora de Flocos de Neve 2572kata 2026-08-03 11:16:57

Halaman (1/3)

Malam semakin pekat.

Melihat lobak, sawi, roti kukus kasar, dan bubur jewawut di atas meja, seluruh keluarga sama sekali tidak berselera makan.

“Menantu, kenapa lagi-lagi hanya hidangan berkuah bening begini? Setidaknya masukkan dua potong daging,” keluh Liu, sang ibu mertua.

Wang Chunlan menjawab dengan kesal, “Memangnya aku bisa berbuat apa? Kak Feng sudah dua hari tidak pergi berburu. Persediaan makanan di rumah juga tidak banyak, sementara Tahun Baru masih beberapa waktu lagi. Bagaimanapun, kita harus berhemat, bukan?”

“Huh, dulu saat keluarga Shen bertiga masih tinggal di sini, makanan kita juga tidak pernah seburuk ini. Sekarang hidup kita malah semakin mundur,” gerutu Li Dafa. “Aku dengar si durhaka Li Guanqi itu berhasil memburu dua ekor serigala lagi dan menjualnya dengan harga tinggi. Kalian mau seluruh kota menertawakan keluarga kita?”

“Ibu, aku mau makan daging! Aku mau makan daging!” protes Li Shu dan Li Shan sambil mengetukkan sumpit ke mangkuk porselen.

Saat itu, Li Feng sedang berbaring di ranjang dengan tubuh terbalut perban.

Ketika pintu didobrak, sekop yang menghantamnya telah mematahkan batang hidungnya. Wajahnya terasa nyeri seperti ditusuk jarum.

Ditambah lagi suara celotehan yang bersahut-sahutan di seluruh ruangan, membuatnya semakin pusing dan jengkel. Ia pun menggeram, “Kalian berdua bocah kurang ajar, berisik sekali! Kalau tidak mau makan, enyah dari sini! Kalian sudah terlalu dimanja sampai menjadi begini!”

Meski terdengar seperti sedang memarahi Li Shu dan Li Shan, perkataan itu sebenarnya juga menghina Li Dafa dan Liu.

Pasangan tua itu tentu saja memahami maksudnya, tetapi hanya bisa menahan amarah dan memendam kekesalan dalam hati.

Tiba-tiba terdengar suara benturan keras.

“Hei, Zhao! Kalau sedang marah, lampiaskan saja kepada istrimu. Apa salah pintu rumahku sampai kau tendang?” teriak Li Feng.

Baru dua hari, entah sudah berapa kali pintu depan rumahnya didobrak. Cepat atau lambat, pintu itu benar-benar harus dilas hingga tidak bisa dibuka lagi!

Namun, yang dilihatnya bukanlah pasangan Zhao Desheng, melainkan sepasang mata hitam pekat.

Wajah Li Guanqi tampak dingin dan tegas, menatap lurus ke depan.

Pakainnya sangat lusuh, tubuhnya masih kurus dan lemah, tetapi amarah yang terpancar dari sekujur tubuhnya membuat orang bergidik ketakutan!

“Dasar durhaka, masih berani datang kemari! Cepat keluar!” bentak Li Dafa.

“Tidak boleh pergi!” seru Wang Chunlan sambil menyilangkan tangan di dada. “Li Guanqi, hebat sekali kau! Lihat apa yang telah kau lakukan kepada Kak Feng. Kau harus membayar ganti rugi—satu liang… tidak, setidaknya dua liang perak!”

“Nasihatku, sebaiknya kalian duduk diam-diam.”

Wajah Li Guanqi tanpa ekspresi. Ia bahkan tidak sudi beradu mulut dengan orang-orang itu.

Ia melangkah lebar dan langsung masuk ke kamar Li Feng.

“Bocah sialan, apa yang hendak kau lakukan?” Li Feng melompat dari ranjang.

Li Guanqi tersenyum mengejek. “Masih belum jelas? Aku hendak menghajarmu!”

Setelah berkata demikian, ia mencengkeram kerah baju Li Feng dan menghantam wajahnya dengan tinju kanan.

Krek!

Batang hidung yang baru saja disambung oleh tabib kembali patah. Darah pun mengalir deras.

“Aduh! Dasar binatang!”

Halaman (1/3)

Halaman (2/3)

Li Feng menjerit kesakitan.

“Ini sudah keterlaluan!” Wang Chunlan terkejut. “Shu, masih berdiri saja? Cepat bantu ayahmu!”

Li Shu masih melahap makanannya dengan rakus. Setelah mendengar desakan ibunya, barulah ia meletakkan mangkuk dan sumpit.

“Berani kau memukul ayahku!”

Tubuh gendutnya baru saja bangkit berdiri ketika—

Sret!

Sinar dingin melesat dari kamar dalam, nyaris menggores telinga Li Shu, lalu menancap di dinding.

Itu adalah pisau kecil dari tulang pergelangan yang dilemparkan Li Guanqi dari pinggangnya. Tatapan dinginnya menyapu Li Dafa dan yang lainnya.

“Aku akan mengatakannya untuk terakhir kali. Jangan bergerak sembarangan!”

“Uuuh!”

“Huaaa!”

Li Shu ketakutan sampai mengompol, sedangkan Li Shan memeluk mangkuknya sambil menangis tersedu-sedu.

Li Dafa dan yang lainnya menarik napas tajam. Seluruh tubuh mereka menegang, dan tidak seorang pun berani bergerak.

“Bocah sialan, kau benar-benar mengira aku tidak mampu membereskanmu?”

Wajah Li Feng berlumuran darah. Dalam amarahnya, ia meraih tongkat di sisi ranjang dan hendak menghantam Li Guanqi.

Namun, Li Guanqi tentu tidak akan memberinya kesempatan.

Sebelum datang, ia telah meminum dua butir Pil Pemusat Semangat yang diberikan Wei Qingquan.

Obat itu merupakan tonik yang sangat manjur. Tak lama setelah menelannya, seluruh tubuh terasa panas, tenaga mengalir deras, dan napasnya menjadi kuat.

Buk! Buk! Buk!

Ia menginjak lengan Li Feng, lalu menghujamkan kedua tinjunya seperti hujan badai.

“Jangan pukul lagi! Jangan pukul lagi! Bagaimanapun juga, aku ini pamanmu!” Li Feng meringis kesakitan. Ia merasa seluruh tulangnya hampir remuk, sehingga buru-buru memainkan kartu hubungan keluarga.

“Makhluk buas sepertimu yang bahkan lebih rendah daripada binatang, pantas menyebut dirimu paman?” kata Li Guanqi dengan suara dingin. “Dengarkan baik-baik. Jika kau berani mengusik ibuku dan adik perempuanku lagi, aku akan membunuhmu. Mengerti?”

“Mengerti, mengerti, mengerti! Aku tidak akan berani lagi, sungguh!”

Li Feng mengangguk cepat seperti ayam mematuk beras.

Ia benar-benar takut akan dipukuli sampai mati.

Barulah Li Guanqi bangkit dan berjalan menuju ruangan luar.

“Kau… jangan bertindak sembarangan,” kata Wang Chunlan sambil mundur ketakutan ketika melihatnya mendekat.

Untungnya, Li Guanqi hanya hendak mengambil kembali pisau tulang yang menancap di papan kayu itu dan tidak melakukan tindakan berlebihan.

Saat keluar rumah, ia kebetulan melihat anjing kuning besar di halaman sedang makan.

Ia teringat bahwa sejak kecil, anjing galak itu sering menggonggong dan berusaha menggigitnya serta adik perempuannya.

Namun, ketika Li Guanqi datang tadi, anjing itu bahkan tidak berani menggonggong sekali pun.

“Dasar penjilat! Masih mau makan?”

Li Guanqi menendang mangkuk makanan anjing itu hingga terbalik, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Halaman (2/3)

Halaman (3/3)

“Dia sudah gila! Anak itu pasti sudah gila!”

“Kak Feng!”

Keluarga Li pun menjadi kacau balau. Suara tangisan dan jeritan terdengar bersahut-sahutan.

Baru saja berbelok, Li Guanqi kembali bertemu dengan pasangan Zhao Desheng.

“Hampir saja aku melupakan kalian berdua,” dengus Li Guanqi.

Pasangan Zhao Desheng langsung tersentak ketakutan.

Sebenarnya, mereka hendak kembali beristirahat di gudang, tetapi kebetulan menyaksikan seluruh proses Li Guanqi menghajar Li Feng.

Sungguh mengerikan dan mengenaskan!

“Guanqi, dengarkan pembelaanku—tidak, maksudku, dengarkan penjelasanku,” kata Zhao Desheng tergesa-gesa. “Gagasan busuk itu semuanya berasal dari Li Feng. Aku paling-paling hanya bisa disebut kaki tangan!”

“Benar, benar! Sebelum kami masuk waktu itu, kami bahkan sudah mengetuk pintu,” sambung Zhou dengan cepat. “Aku mengakui bahwa kami seharusnya tidak menyewa dua kamar itu. Tetapi kami juga benar-benar tidak punya pilihan. Uang sewanya sudah dibayar, rumahnya tidak kami dapatkan, dan sekarang kami malah babak belur seperti ini.”

Zhou pun menangis tersedu-sedu. “Bagaimana mungkin kami bisa terus hidup seperti ini!”

Li Guanqi menatap mereka berdua.

Mereka masih memiliki sedikit hati nurani, meski tidak banyak.

Terlebih lagi, dalam arti tertentu, mereka berdua juga merupakan korban. Pelajaran yang mereka terima rasanya sudah cukup.

Setelah berpikir sejenak, ia bertanya, “Saat menyewa rumah itu, kalian tidak membuat surat perjanjian?”

“Ada, ada!” Zhou segera mengeluarkan selembar kertas kusut dari lengan bajunya. “Lihatlah. Di sini tertulis jelas bahwa uang sewanya seribu keping tembaga dengan masa sewa satu tahun. Kami bahkan belum tinggal setengah tahun.”

“Yang menandatangani adalah Li Feng,” gumam Li Guanqi. “Aku punya sebuah cara. Mau mendengarnya?”

“Mau!” Zhou tersenyum memelas. Dalam hati ia akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya ia tidak perlu dipukuli lagi. Ia pun terus memujinya, “Keponakan sulung, kau sungguh mahir dalam ilmu sastra dan bela diri, pemberani sekaligus cerdik. Gagasanmu pasti akan berhasil!”

“Akta tanah itu sejak awal adalah milikku. Karena itu, tanda tangan Li Feng tidak memiliki kekuatan hukum apa pun.”

Zhou bertanya, “Maksudmu, kami harus melaporkannya kepada pejabat?”

Li Guanqi mengangguk.

“Gagasan bagus!” Wajah Zhao Desheng langsung berseri-seri. Ia segera mengambil keputusan. “Kalau begitu, sudah ditetapkan. Kita laporkan kepada pejabat!”

Halaman (3/3)