Bab Dua Puluh Lima: Kehujanan Bersama
Rayuan lembut dari Tian Yitong justru membuat He Miaomiao menangis semakin keras.
"Ceritakan padaku, siapa yang telah menyakitimu?" Tian Yitong menatap He Miaomiao yang matanya sudah semerah kelinci, hatinya ikut teriris melihatnya seperti itu.
Tangan Tian Yitong mengepal erat, yakin sekali pasti ulah bocah itu.
He Miaomiao hanya menggeleng-geleng kepala sambil terisak, tak mau bicara, wajahnya tetap tertelungkup di bahu Tian Yitong, enggan mendongak.
Melihat He Miaomiao tak ingin bicara, Tian Yitong hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut, membiarkannya meluapkan semua emosi.
Tiba-tiba petir menggelegar di langit, membuat jantung He Miaomiao bergetar, ia menengadah menatap langit yang menggelap, tetesan hujan besar-besar menimpa wajahnya.
"Bahkan langit pun tak berpihak padaku," He Miaomiao kembali menangis tersedu, baru kali ini ia menyadari betapa sialnya dirinya hari ini, minum air dingin saja pun bisa tersedak.
Tian Yitong mengerutkan kening, melepas jaket dan menutupkan di atas kepala He Miaomiao, lalu menggandengnya menuju apartemen di depan, tak peduli dirinya basah kuyup.
"Bos, di mobil ada payung," kata sopir ketika keluar sambil membawa payung, namun Tian Yitong dan He Miaomiao sudah berjalan menjauh.
Sopir itu mengerutkan dahi, menatap payung di tangannya, apa ini yang namanya jalan-jalan di bawah hujan seperti di film?
"Kau mau membawaku ke mana?" He Miaomiao menengadah menatap Tian Yitong yang wajahnya datar, lalu melihat rambutnya basah kuyup, ia berjinjit menutupkan jaket di kepala Tian Yitong, "Kau juga basah."
"Yang penting kau jangan basah," jawab Tian Yitong sambil menunduk memandang kedua mata He Miaomiao yang bengkak, lalu memastikan jaket menutup tubuh He Miaomiao dengan rapat, memastikan setetes pun hujan tak akan mengenainya, baru ia merasa lega.
"Aku tak mau ke mana-mana," He Miaomiao tahu pasti ke mana Tian Yitong ingin membawanya, ia pun berontak menolak melangkah lebih jauh.
Ia tak ingin melihat wajah mesra sepasang pengkhianat itu, apalagi membiarkan dirinya dilihat dalam keadaan berantakan begini.
Tian Yitong mengerutkan kening menatap He Miaomiao yang menunduk terus, lalu menangkup wajahnya dengan penuh kasih, "Jangan takut, selama aku ada, semua akan baik-baik saja."
Saat itu He Miaomiao merasa waktu berhenti sejenak, matanya berkedip bingung, kemudian mengangguk pelan.
Setelah itu, He Miaomiao sudah tak tahu lagi apa yang terjadi.
Mungkin Tian Yitong menghormati keinginannya, membiarkannya menunggu di bawah dan ia sendiri naik ke atas.
Dari bawah, terdengar suara teriakan perempuan, suara benda pecah berhamburan, dan suara lelaki memohon belas kasihan.
Kali ini Tian Yitong tampaknya benar-benar marah.
Saat He Miaomiao ragu apakah ia harus menyusul ke atas, Tian Yitong sudah turun.
"Kau baik-baik saja?" tanya He Miaomiao sambil memeriksa Tian Yitong dari ujung kepala sampai kaki, setelah yakin tak ada luka, ia pun lega.
"Ayo, kita pulang," Tian Yitong menggandeng tangan He Miaomiao keluar, diam-diam tersenyum mengingat kecemasan He Miaomiao tadi.
He Miaomiao melihat hujan masih deras di luar, lalu menunduk menatap tangan mereka yang saling bertaut, ia tersenyum kecil dan melepas jaket di kepala, "Mau lari hujan-hujanan?"
"Tidak boleh, nanti kamu sakit," Tian Yitong langsung menolak dengan tegas, mengambil jaket dari tangan He Miaomiao dan kembali menutupkannya di kepala gadis itu.
"Sekali saja, boleh ya?" bisik He Miaomiao dengan nada memohon, tak berani menatap mata Tian Yitong, matanya hanya menunduk menatap sepatu yang sudah basah kuyup.
Tian Yitong menatap wajah memelas itu, melihat hujan semakin deras di luar, ia mendesah pasrah lalu mengusap kepala He Miaomiao, "Kalau sakit, jangan salahkan aku."
He Miaomiao tersenyum bahagia, hendak menarik jaket dari kepala, namun tangan besar Tian Yitong menahan dengan tegas, "Jaketnya jangan dilepas."
Itulah toleransi terbesar dari Tian Yitong, ia lalu menggandeng He Miaomiao berlari ke tengah hujan.
Saat itu He Miaomiao seperti peri kecil, berputar-putar dengan riang sambil menengadah, membiarkan air hujan membasuh segala kesedihan.
Tian Yitong menatap He Miaomiao yang begitu bahagia hingga nyaris terbang, ia pun akhirnya tersenyum lagi setelah sekian lama.
Dari kejauhan, sopir mereka menyeka matanya, ternyata bos mereka bisa juga tersenyum, lalu ia meletakkan payungnya, tampaknya mereka memang tak butuh payung.
"Hatsyi!"
Tian Yitong mengulurkan secangkir air hangat pada He Miaomiao yang duduk di sofa sambil bersin, "Katanya tadi bakal masuk angin, tapi kamu tetap nekat, kan? Sekarang rasakan sendiri."
He Miaomiao menerima cangkir itu dengan tangan gemetar, hangat langsung menjalar ke telapak tangannya, ia menyesap air lalu meneliti sekelilingnya dengan rasa ingin tahu. Dekorasi sederhana, benar-benar gaya Tian Yitong.
"Sudah, cepat mandi dan ganti baju," Tian Yitong mengatur suhu air kemudian keluar dari kamar mandi, menatap He Miaomiao yang masih basah kuyup dengan sedikit kesal, "Bajumu sudah aku taruh di atas ranjang, di sini sementara tak ada pakaian perempuan, jadi pakai saja kemejaku."
"Baik," jawab He Miaomiao meletakkan selimut, bangkit menuju kamar sambil menutup dan mengunci pintu.
Tian Yitong yang berdiri di depan pintu hanya bisa mengangkat alis tanpa kata, apa dia takut aku akan masuk mendadak? Ia menunduk menatap bajunya yang basah, lalu pergi ke kamar lain.
Setelah mengunci pintu, He Miaomiao menatap kemeja putih di atas ranjang, lalu masuk ke kamar mandi.
Ia membuka botol sabun mandi, tercium aroma segar yang samar, rupanya Tian Yitong tetap menyukai aroma ini.
Selesai mandi, Tian Yitong asal-asalan mengeringkan rambut, memikirkan Miaomiao pasti lapar, ia pun berencana memasak.
Saat itu ponsel di meja tiba-tiba berbunyi, Tian Yitong berjalan sambil mengeringkan rambut, melihat itu ponsel He Miaomiao, penasaran ia mengambil dan membaca pesan dari Xin Zi. Ia melirik pintu kamar yang tertutup rapat.
"He Miaomiao, tak kusangka kau tipe perempuan yang berselingkuh, bahkan berani menyuruh orang mengeroyokku. Kita lihat saja nanti!"
Mata Tian Yitong langsung tajam setelah membaca pesan itu, ia dengan cepat membalas pesan, lalu saat mendengar suara pintu dibuka, buru-buru meletakkan ponsel dan berpura-pura duduk di sofa sambil mengeringkan rambut.
He Miaomiao keluar kamar mandi dengan malu-malu menarik-narik ujung kemeja, ia merasa bagian belakang tubuhnya dingin, jangan-jangan Tian Yitong sengaja memberinya baju yang terlalu pendek.
Tian Yitong mengerutkan kening melihat He Miaomiao diam di depan pintu, lalu berjalan mendekat dan melihat rambutnya masih basah, "Ayo, biar ku-keringkan rambutmu."
"Bajunya pendek sekali, aku tidak suka," ujar He Miaomiao sambil tersipu, menarik-narik kemeja, tak berani menatap mata Tian Yitong yang terus mengawasinya.
Melihat Miaomiao mengenakan kemejanya, Tian Yitong harus mengakui, wanita memang paling seksi saat memakai kemeja longgar, terutama bagian paha yang samar terlihat, ia pun menelan ludah. Tak disangka gadis ini tubuhnya lumayan juga.
Melihat Tian Yitong terus menatap pahanya, He Miaomiao tanpa ragu menepuk kepala lelaki itu, "Kalau kau masih ingin punya mata, jangan macam-macam."
"Kamu sama sekali tidak lembut," gumam Tian Yitong kesal, mengalihkan pandangan lalu mengambil kemeja lain dari lemari, mendekat dan mengikatkannya di pinggang He Miaomiao. Gadis itu refleks mundur selangkah.
"Jangan bergerak," Tian Yitong menatapnya dengan sedikit kesal, He Miaomiao pun terdiam dan mengangguk, membiarkan lelaki itu melanjutkan mengikatkan kemeja di pinggangnya.