Bab Seratus Empat Puluh Tujuh: Takut Kehilangannya
Setelah menggandeng Xiao Jun masuk ke dalam rumah, Wu Hao langsung menyalakan televisi dan memindahkannya ke saluran kartun yang biasa ditonton bocah itu. Jelas sekali bahwa ia jarang meluangkan waktu untuk mengurus anak, namun ia masih mengingat beberapa kesukaan putranya.
"Xiao Jun, duduklah yang manis di sini untuk menonton televisi sebentar. Ayah mau ke atas untuk melihat apa yang sedang Ibu lakukan." Setelah menggandeng Xiao Jun duduk di sofa dan melihat bocah itu langsung terpikat oleh tayangan di layar kaca, Wu Hao berucap lembut.
Xiao Jun hanya mengangguk kecil. Matanya sama sekali tidak bergeser dari televisi, karena SponsBob adalah kartun favoritnya. Peristiwa apa pun tidak akan mampu merusak suasana hatinya untuk terus menyaksikan SponsBob.
Setelah menempatkan Xiao Jun dengan aman, sebelum naik ke lantai atas, Wu Hao sempat-sempatnya pergi ke dapur untuk menuangkan segelas jus bagi putranya, semata-mata karena khawatir bocah itu akan merasa kehausan nanti. Memastikan semuanya telah beres, ia melangkah pelan-pelan dengan hati-hati menuju lantai atas.
Jika tidak salah duga, wanita itu pasti sedang tidur di kamar saat ini. Mengingat kondisinya yang tengah berbadan dua, beberapa bulan pertama kehamilan biasanya membuat wanita lebih sering tidur, meskipun rasa mual di pagi hari kerap kali sangat parah. Sepertinya ia harus mencari seseorang yang berpengalaman untuk bertanya bagaimana cara mengatasi gejala morning sickness tersebut.
Jika ingatannya tidak salah, saat Meilan mengandung Xiao Jun dulu, wanita itu mengalami mual dan muntah yang begitu hebat. Namun, saat itu ia sendiri sedang sibuk dengan urusan pekerjaannya, sehingga tentu saja ia mengabaikan perasaan wanita tersebut.
Kedatangan anak ini sekarang bisa dianggap sebagai sebuah kesempatan baginya untuk menebus kesalahan. Mungkin ia bisa memanfaatkan momen ini untuk mengubah posisinya di dalam hati wanita itu, siapa tahu kedudukannya bisa kembali seperti sedia kala. Dengan begitu, ia tidak perlu lagi merasa cemas setiap saat bahwa wanita itu akan mencari berbagai cara untuk meninggalkan sisinya. Terutama setelah apa yang terjadi belakangan ini, ia sangat takut peristiwa itu akan terulang kembali.
Setiba di depan pintu kamar, Wu Hao dengan hati-hati mendorong daun pintu hingga terbuka. Sekilas pandang, ia melihat wanita kecilnya sedang tidur pulas di atas ranjang. Harus diakui, ia lebih menyukai pemandangan saat wanita itu bersikap tenang seperti ini, sebab hanya dalam keadaan inilah wanita itu terlihat paling menggemaskan.
Biasanya, ketika terjaga, wanita itu selalu bersikap seperti seekor landak kecil. Setiap kata yang diucapkannya atau bahkan sekadar tatapan matanya selalu menyiratkan duri-duri tajam. Ia merasa wanita itu tidak lagi seramah dulu, mungkin karena ia telah terlampau melukai hatinya. Barangkali hasil seperti ini memang sudah sepatutnya menjadi hukuman baginya.
Meilan yang masih terlelap sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang di dalam kamar. Wu Hao melangkah ringan mendekati sisi ranjang lalu duduk di tepi kasur. Dengan tatapan penuh kelembutan, ia memandangi wajah yang tengah tertidur lelap itu, hingga akhirnya tak kuasa menahan diri untuk membungkuk dan mengecup keningnya.
Sebenarnya ada rasa cemas yang menyelinap di lubuk hatinya; takut kalau pada detik saat bibirnya menyentuh kening itu, wanita itu akan tiba-tiba terbangun. Jika sampai wanita itu terjaga seketika, alasan apa yang harus ia berikan untuk menjelaskannya?
Namun, melihat wanita di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bergerak, mau tak mau ia menggelengkan kepala sembari tersenyum samar. Di waktu-waktu biasa, wanita itu pasti sudah terbangun sejak tadi. Barangkali karena kehamilannya saat ini, ia menjadi tidur begitu pulas. Kendati demikian, ia justru lebih menyukai saat-saat wanita itu tidur nyenyak seperti ini.
Sebab di masa lalu, ia masih sering menerima panggilan bisnis di tengah malam. Setiap kali telepon berdering, wanita itu pasti terbangun, meskipun ia telah berulang kali berkata, "Anggap saja kamu tidak mendengar dering suara ini."
Namun, tidak peduli apa yang ia katakan, setiap kali ponselnya berdering, wanita itu selalu terbangun. Belakangan, demi memikirkan kenyamanan istrinya dan tidak ingin urusan pekerjaan mengganggu waktu istirahatnya, ia selalu mematikan ponselnya lebih awal sebelum tidur.
Apapun yang terjadi, ia akan menunda semua urusan hingga keesokan paginya. Ia tidak perlu khawatir akan melewatkan masalah besar, sebab di siang hari di kantor, ia telah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan. Panggilan yang masuk di malam hari biasanya hanyalah masalah-masalah kecil di mana bawahannya tidak berani mengambil keputusan sendiri, sehingga terpaksa meneleponnya.
Meski pada akhirnya wanita itu sempat merasa heran mengapa dering telepon malam hari tiba-tiba berhenti, dan meski wanita itu berulang kali mencecarnya dengan pertanyaan, Wu Hao tidak pernah memberitujukan yang sebenarnya.
Wu Hao tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sisi Meilan, hingga ponsel di dalam saku jasnya tiba-tiba berdering dan menariknya kembali ke alam nyata. Melihat dahi Meilan yang sedikit berkerut seolah terganggu oleh suara dering ponselnya, hati Wu Hao langsung berdegup kencang karena takut wanita itu terbangun karenanya.
Ia buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam saku, mematikan panggilannya, lalu bergegas melangkah keluar kamar. Sambil menatap layar ponsel yang menunjukkan panggilan yang baru saja ia putus, ia baru teringat bahwa urusan pengiriman uang untuk wanita itu belum sempat ia selesaikan.
Dengan perasaan sedikit cemas, ia menoleh ke arah kamar untuk memastikan wanita itu masih tidur nyenyak, lalu tanpa ragu sedikit pun ia memasukkan nomor penelepon itu ke dalam daftar hitam. Bagaimanapun, tidak akan ada lagi urusan di antara mereka di masa depan.
Setelah memasukkan nomor tersebut ke daftar hitam, ia langsung melakukan transfer sebesar satu juta ke rekening kartu milik wanita itu. Wu Hao sangat paham bahwa Liu Xinsi telah berada di sisinya selama beberapa tahun ini. Uang tersebut bisa dianggap sebagai kompensasi atas masa mudanya, dan ia tahu jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk memuaskan keserakahannya.
Ia juga mengerti mengapa selama bertahun-tahun wanita itu rela berada di sisinya tanpa status yang jelas—tidak lain adalah demi materi yang bisa ia berikan. Kendati demikian, ia harus berterima kasih kepada wanita itu. Jika bukan karena kenekatan Liu Xinsi kali ini, mungkin ia tidak akan pernah menyadari bahwa tanpa sadar ia telah jatuh cinta pada Meilan sejak lama.
Ia berharap wanita itu bisa menepati ucapannya seperti yang dikatakan lewat telepon tadi, bahwa setelah memegang uang tersebut, wanita itu akan segera pergi jauh dari tempat ini. Sebab, ia tidak ingin lagi melihat keberadaan wanita itu dalam sisa hidupnya. Kini ia benar-benar menyadari bahwa kehadiran wanita itu bagaikan sebuah bom waktu bagi hubungan mereka.
Ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan antara Meilan dan wanita itu lewat telepon pada sore kemarin, karena setelah itu Meilan memilih bungkam dan tidak mau membahasnya sama sekali. Itulah sebabnya perasaannya selalu tidak tenang, dihantui rasa takut kalau-kalau wanita itu sewaktu-waktu merasa tidak senang lalu kembali membawa Xiao Jun pergi secara diam-diam.
Namun, ia tidak akan membiarkan hal semacam itu terulang lagi. Ia sudah merasa jera, jera hidup dalam ketakutan setiap kali tidak bisa melihat wanita itu. Terlebih lagi, wanita itu kini sedang mengandung anak kedua mereka, sehingga ia tentu tidak akan membiarkan Meilan pergi begitu saja dengan mudah.
Sementara itu, Liu Xinsi yang baru saja turun dari pesawat mendengarkan suara rekaman robot wanita dari ujung sambungan telepon, "Maaf, nomor yang Anda tuju sedang berada dalam panggilan lain."
Bagaimanapun rasa tidak rela dan seberapa sering ia mencoba menelepon kembali, suara robot mekanis itulah yang selalu menyambut pendengarannya.
Liu Xinsi tertegun dengan tatapan kosong, merasa bahwa dirinya terlalu tinggi menilai diri sendiri. Di matanya, pria itu bukanlah tipe pembohong. Bukankah perbuatan ini sengaja dilakukan pria itu agar ia merasakan bagaimana rasanya ditipu?