Bab Empat Puluh Sembilan: Kota Berang-berang 14 (Revisi)
Mendengar ucapan itu, sang pemilik toko tertegun sejenak, lalu dengan sigap menerjang ke depan, berusaha merebut pisau dapur dari tangan Fu An'an.
"Adik kecil, dulu kakak juga warga negara yang taat hukum, ini semua karena kau memaksa—"
Belum selesai ia bicara, nada bicaranya langsung berubah menjadi memohon, "Kakak, tolong tenang, jangan menakuti orang."
Moncong pistol yang hitam pekat menempel di dahinya, dia sama sekali tak menyangka gadis pelit yang satu ini ternyata begitu ganas.
"Jalan lurus, berdiri menempel tembok," ujar Fu An'an dengan dingin. "Perahu karet itu di mana?"
Kali ini pemilik toko renang langsung menurut, "Di kamar tidur saya."
Fu An'an mendengus pelan, lalu membuka pintu ruangan di samping tanpa ragu.
Di dalamnya terdapat dua perahu karet baru yang masih tersegel.
Baskom plastik Si Merah akhirnya resmi pensiun!
Fu An'an menarik keluar satu perahu karet, dan saat melewati pemilik toko yang duduk di lantai, dia sekalian melemparkan sekantong roti dan mi instan.
Dia memang tak pernah mengambil sesuatu tanpa imbalan.
Wajah pemilik toko yang awalnya muram langsung berseri-seri melihat makanan itu.
Sejak awal dia keluar memang untuk mencari makanan.
Kini dunia sudah kacau, uang tak lagi berharga; mendengar Fu An'an ingin membeli perahu karetnya, tentu saja dia enggan. Bukankah itu sama saja seperti mengambil untung tanpa modal?
Tak disangka dia malah mendapat sebungkus besar makanan, membuatnya senang bukan main. Tak terbayangkan gadis pelit itu ternyata begitu murah hati, membuatnya punya niat lain.
"Adik, kau punya air lebih?" tanyanya.
Sekarang makanan sudah langka, dan air bahkan lebih berharga dari makanan. Meski setiap hari hujan deras, Kota Berang-berang hampir berubah jadi lautan, air minum justru makin sulit didapat.
Sebagian orang sudah lama kehabisan air, jadi mereka menampung air hujan untuk diminum.
Tanpa dimasak terlebih dulu.
Akibatnya, satu keluarga sakit berat setelah meminumnya, dan dalam keadaan serba kekurangan seperti ini, tak ada obat untuk menyembuhkan. Hanya pemuda dua puluh tahunan itu yang berhasil bertahan, lainnya meninggal semua.
Pemilik toko renang pun berdiri sambil memeluk barang-barangnya, "Adik, kau punya air? Sebenarnya kakak masih punya barang bagus, bisa ditukar denganmu."
"Apa itu?" tanya Fu An'an.
Melihat ada peluang, sang pemilik toko menjadi bersemangat, "Mesin khusus untuk perahu karet, aku mau sepuluh botol air mineral."
Sambil berkata, ia pun mengeluarkan barang itu dari lemari, "Aku tambah dua jerigen bensin untukmu."
Mesin dan bensin, itu memang barang berharga.
Fu An'an berkata, "Tiga botol air mineral."
Pemilik toko menawar, "Adik, kau masih saja menawar dengan galak? Delapan botol air mineral, kakak tak ambil untung sedikit pun!"
Fu An'an berkata lagi, "Empat botol."
Pemilik toko menghela napas, "Enam botol air mineral, itu harga terendah."
Fu An'an menatapnya dingin, "Empat botol."
"Lima botol, lima botol saja ya?" Pemilik toko mengatupkan kedua tangannya memohon, "Ini buatan Jerman asli! Lima botol air mineral sudah boleh kau bawa pulang! Kakak akan pasang sendiri untukmu, pasti rapi!"
Dia hampir menangis.
Siapa sangka barang buatan Jerman yang dulu dibeli seharga ribuan, kini tak lebih mahal dari beberapa botol air mineral.
Fu An'an mengangguk, meminta dia mengajari cara menggunakannya, lalu dengan cepat mengeluarkan botol-botol air dan meletakkannya di atas meja.
Sang pemilik toko bekerja dengan cekatan.
Dengan lincah ia memasang mesin di belakang perahu karet.
Alat itu seperti sepeda yang dipasang aki, langsung naik kelas jadi sepeda listrik. Fu An'an bahkan sengaja mencobanya, stabil, tak mudah terbalik, dan kecepatannya tinggi.
Ia sangat puas.
Akhirnya tak perlu lagi duduk di baskom plastik, Fu An'an menatap Si Merah yang telah menemaninya lebih dari sepuluh hari, meski sedikit berat hati ia tetap meninggalkannya.