Bab Lima: Pesta Laut yang Menggila 5
Kakak Li mengikuti di belakangnya dengan gerak tubuh kaku dan terpuntir. Wajahnya berlumuran darah, memperlihatkan gusi hitam saat menerkam orang terdekat.
Teriakan panik kembali bergema di lorong. Beberapa pria besar buru-buru maju, menahan Kakak Li, menyumpal mulutnya dengan sesuatu, mengikat tangan dan kakinya dengan tali, lalu mendorongnya kembali ke kamar.
Demi melumpuhkan satu orang ini, beberapa orang terluka akibat digigit olehnya.
Yang paling parah adalah orang yang diterjangnya; dagunya digigit sampai sepotong besar daging hilang, gusi dan pembuluh darah tampak jelas, pemandangan yang amat mengerikan.
Dokter segera datang untuk menangani luka-luka mereka. Orang-orang di lorong masih syok, duduk lemas di lantai sambil terengah-engah.
"Ini benar-benar aneh, Kakak Li seperti kena guna-guna."
Fu Anan membuka pintu sedikit, mengintip keluar dan bertanya, "Tuan Zhu, Anda tidak apa-apa? Apa yang terjadi dengan Kakak Li?"
Tuan Zhu menekan lengan yang terus mengucurkan darah, wajahnya pucat, dan menggelengkan kepala. "Kakak Li sudah gila, siapa pun ditemuinya langsung digigit. Kembalilah tidur, kami yang akan mengurus ini."
"Baiklah. Anda sebaiknya segera minta dokter memeriksa luka itu." Fu Anan melirik luka di tangan Tuan Zhu, mengingatkan pelan sebelum menutup pintu.
Begitu pintu tertutup, bulu kuduk di punggungnya berdiri—dua puluh menit lalu, ia baru saja mengantarkan makan malam untuk Kakak Li.
Mengingat luka gigitan yang dialami Tuan Zhu dan yang lainnya, Fu Anan mulai merasa cemas. Ia mengintip keluar lewat lubang intip di pintu, melihat orang-orang di luar pun mulai kembali ke kamar masing-masing.
Di atas laut, badai belum juga reda.
Sepanjang malam, kilat dan petir terus menyambar.
—
Hari kelima pelayaran, pukul tujuh pagi.
Fu Anan pergi ke dapur untuk mengambil makanan. Beberapa petugas kebersihan sedang mengepel dan mengelap noda darah di lantai. Darah yang telah mengering menjadi gumpalan hitam mengalir bersama air ke saluran pembuangan, menyisakan aroma cairan disinfektan di lorong.
Kakak Li kini dikurung, agar tak menggigit siapa pun lagi. Di pintu hanya ada sebuah lubang kecil, tempat makanan disodorkan menggunakan alat.
Ketegangan melanda seluruh kapal. Di depan ruang medis, beberapa orang berkumpul, tampak tengah berdebat sengit.
Fu Anan mendorong troli makanan mendekat, dan mendengar seorang pria muda berambut cepak berseru lantang, "Mereka tidak boleh keluar. Siapa tahu Kakak Li kena rabies, yang lain yang digigit juga bisa tertular, bukan? Bagaimana kalau mereka ikut-ikutan gila dan menggigit orang?"
"Benar, Kapten, Li Gao ada benarnya," sahut seorang wanita, mengangguk setuju. "Ini hanya tindakan pencegahan, biar mereka tetap di dalam juga supaya lebih cepat sembuh."
Jelas Kapten tak bisa melawan pendapat mereka, akhirnya mengangguk setuju.
"Baik, untuk sementara ruang ini kita tutup. Selain dokter dan petugas pengantar makanan, yang lain dilarang masuk."
Semua orang pun menoleh ke arah Fu Anan yang sedang lewat.
"Kamu Fu, ya? Kalau begitu, tolong kerjasamanya dengan Dokter Song," kata Kapten sambil menepuk bahu Fu Anan, memberi semangat.
Fu Anan memandang Kapten dan mengedipkan mata, "Kapten, saya takut."
Kalau memang tidak mau, harus berani bilang.
"Baru digigit saja, tidak perlu takut. Berlayar itu harus berani, nanti kamu akan menghadapi hal yang lebih serius," Kapten menyemangati Fu Anan. "Anggota perempuan di kapal memang sedikit, Kapten percaya padamu."
Senyum kaku menempel di wajah Fu Anan—
...Sungguh, tidak perlu.
—
Hari ketujuh bertahan hidup di laut, siang hari.
Selain dokter, hanya Fu Anan yang paling sering berinteraksi dengan para kru yang digigit Kakak Li.
Ia pun menyaksikan perubahan drastis pada mereka dari waktu ke waktu, bahkan dalam satu kali makan saja.