Bab 87: Di Bawah Langit Luas (11)
Akhirnya suasana menjadi tenang.
Setelah makan, muncul sebuah masalah.
Fu Yizhi sudah minum alkohol.
Ia menatap Fu An'an, "Bisa mengemudi?"
"Belum punya SIM."
Ini benar-benar di luar perhitungannya.
Fu Yizhi mengusap alisnya. Sebelum Fu An'an, tak pernah ada orang di sekelilingnya yang tidak bisa mengemudi.
Fu An'an sama sekali tidak merasa malu karena tidak bisa menyetir.
Dia bisa naik sepeda, kan.
"Fu, tunggu saja di sini, hari ini kita ganti moda transportasi."
Fu An'an melihat ke sekeliling dan menemukan sebuah toko sepeda.
Dia membeli sepeda baru berwarna hijau muda, lalu dengan gaya santai memarkirkannya di depan Fu Yizhi, "Fu, naiklah!"
Alis Fu Yizhi semakin berkerut. Ia bangkit dan berjalan ke arah mobilnya.
"Ini bukan dunia nyata, minum sedikit dan menyetir tidak apa-apa."
"Tidak boleh, di mana pun tidak boleh menyetir setelah minum alkohol!"
Mana mungkin Fu An'an membiarkannya begitu saja, "Mengemudi tanpa setetes alkohol, perjalanan pun aman selamat. Coba saja rasakan serunya naik sepeda!"
Akhirnya ada kesempatan untuk berbakti, biarkan dia melakukannya!
Fu An'an menarik Fu Yizhi kembali dengan paksa. Jok belakang sepeda agak rendah, membuat kaki panjang Fu Yizhi sulit ditaruh, terpaksa harus melipatnya dengan susah payah.
Ia merasa belum pernah sebegini canggung sebelumnya. Menatap Fu An'an yang duduk di depan, ia merasa seperti sedang kena guna-guna, sampai-sampai membawa gadis ini pulang ke vila.
"Fu, duduk yang tenang, kita pulang ya."
Fu An'an percaya diri dengan pengalaman lebih dari sepuluh tahun mengayuh sepeda di jalanan desa, lalu menginjak pedal dengan tenaga penuh.
Gerakannya terlalu cepat, jalannya licin, dan beban di belakang terlalu berat. Pengemudi ulung hampir saja terjungkal.
Fu Yizhi menahan sepeda dengan kedua kakinya agar tetap stabil. "Kamu yakin bisa?"
Suaranya terdengar lelah, sukar disembunyikan.
"Bisa, tentu bisa!"
Masa perempuan mau bilang tidak bisa!
"Silakan lipat kakimu."
Kali ini Fu An'an lebih hati-hati, akhirnya berhasil mengantar Fu Yizhi dengan lancar kembali ke vila.
Setelah kembali, hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa air, listrik, dan gas.
Listrik mati.
Gas alam juga tidak ada.
Untungnya di vila sewaan Fu Yizhi masih ada tabung gas cadangan. Barang ini sudah pernah digunakan Fu An'an, sangat berguna, satu tabung bisa dipakai lebih dari sebulan.
Air juga masih aman, dan mereka juga sudah menyimpan persediaan air mineral di ruang bawah tanah.
Selain itu, komunikasi juga terputus.
Kemarin Fu Yizhi memakai walkie-talkie untuk menghubungi orang-orang di kantor polisi, jadi sekarang, selain dinding kaca tak kasat mata, mereka tidak punya cara lagi untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
Fu An'an menuliskan daftar barang yang perlu dibeli lagi.
Lampu tenaga surya atau lilin.
Dua walkie-talkie.
Baterai isi ulang dan baterai biasa.
Ruang bawah tanah tampaknya masih ada satu genset, jadi sebaiknya beli solar lagi.
Selain itu, Fu An'an memperhatikan kondisi vila mereka sekarang.
"Fu, menurutmu perlu memperkuat vila ini?"
Demi keindahan, vila-vila di kota kecil ini banyak memakai jendela kaca besar, memang indah, tapi sangat mengurangi tingkat keamanan.
Mereka bisa memanfaatkan situasi yang masih aman di kota kecil ini untuk memperkuat vila semaksimal mungkin.
Fu Yizhi mengangguk setuju setelah mendengarnya.
Lumayan juga, masih bisa berpikir.
Sore harinya,
Mereka berdua kembali pergi ke pusat perbelanjaan.
Selain membawa pulang mobil, Fu Yizhi juga membeli banyak bahan bangunan.
Fu An'an belanja kebutuhan lain.
Pada saat itu, sebagian warga yang mulai sadar bahaya sudah mulai menimbun barang, makanan diborong besar-besaran.
Fu An'an membeli banyak baterai kecil aneka jenis di supermarket, belasan lampu tenaga surya, dan tiga bungkus lilin.
Ada yang melihat barang yang ia beli, baru sadar soal penerangan.
Orang-orang itu buru-buru kembali untuk memborong juga.
Saat Fu An'an merasa belanjaannya sudah cukup dan hendak mendorong troli keluar, di pintu supermarket seorang pria dengan troli barang menabraknya.