Bab 35 Pesta Laut · Epilog (Tamat)
Hari ketiga pelayaran Pulang ke Rumah.
Seseorang melangkah keluar dari kamar yang riuh, wajahnya muram dan penuh beban.
"Li, pagi-pagi sudah keluar? Jangan-jangan kalah judi lagi," sapa seorang pelaut yang berpapasan sambil bercanda.
Dalam kehidupan pelayaran yang panjang, berjudi memang menjadi hiburan favorit mereka.
Jelas saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda seperti itu. Li Hai menatapnya dengan kesal, "Sialan."
Tanpa menoleh lagi, ia langsung naik lift menuju geladak.
Hari ini, seluruh uang hasil kerjanya di laut habis untuk berjudi, sama saja satu-dua bulan bekerja dengan sia-sia.
Li Hai menarik napas dalam, mencoba mencari cara lain untuk mendapatkan uang.
Kalau pulang tanpa uang, pasti istrinya akan memarahinya habis-habisan. Wanita matre seperti itu!
Apa yang bisa dijadikan jalan kaya di lautan?
Selain judi, hanya muatan-muatan di kapal ini.
Bukan sekali ini Li Hai berpikiran nakal.
Malam hari
Dengan langkah yang sudah terbiasa, Li Hai menyelinap di antara kontainer, matanya menyapu rakus setiap peti yang ada. Lampu patroli kapal terus berputar, membuat geladak silih berganti terang dan gelap.
Tiba-tiba ia mendengar suara dari dalam salah satu kontainer, disertai erangan samar.
Ada orang di dalam!
Sedang melakukan hal terlarang, hal yang paling ditakuti adalah ketahuan.
Kalau ketahuan orang, jangan harap bisa bekerja di kapal lagi.
Li Hai jadi sangat gugup, menggenggam kunci inggris, mengitari kontainer itu, tapi suara dari dalam sudah lenyap.
Di geladak itu hanya ada dirinya, tak ada siapa-siapa lagi.
"Hanya menakuti diri sendiri,"
gumam Li Hai, lalu meludahkan dua kali ke telapak tangan, mengeluarkan tang dan mulai bekerja.
Gerak-geriknya seperti tikus mencuri, cepat dan halus, tak lama ia berhasil membuka sedikit celah pada kontainer itu. Bau busuk yang menyengat langsung menyerang, membuatnya hampir muntah. Entah barang apa yang ada di dalam, sampai sebau itu.
Saat hendak menutup kembali pintu kontainer, tiba-tiba sebuah tangan kaku mencengkeramnya, lalu pergelangan tangannya digigit.
"Aaa!"
Jeritan melengking terdengar di geladak.
Dari dalam kontainer, suara ribut semakin keras, seperti banyak langkah berlari ke arahnya.
Perasaan bahaya yang tak dapat dijelaskan membuat Li Hai buru-buru menutup pintu kontainer, lalu lari tunggang langgang ke dalam kapal.
Kepala koki kebetulan berpapasan dengan Li Hai yang panik, terheran melihatnya, "Li, kamu kenapa?"
"Tak... tak apa-apa." Li Hai tak berani bilang kalau ia membuka kontainer, ia genggam pergelangan tangan yang terluka, memaksakan senyum, "Aku mau ganti baju."
Jawaban yang tidak jelas itu membuat kepala koki makin bingung.
Tiba-tiba ia melihat darah hitam pekat menetes dari tangan Li Hai.
"Tanganmu kenapa?" tanya kepala koki.
"Tadi tak sengaja tergores," sahut Li Hai dengan wajah pucat pasi. "Bukan masalah besar, akan aku urus sendiri."
Kepala koki mengerutkan kening, "Sudahlah, hari ini kau libur setengah hari. Pergilah ke dokter Song untuk diobati."
...
Pulang ke Rumah telah berlayar selama dua bulan dua puluh tujuh hari
Di lautan yang luas, sebuah kapal kargo melayang tenang.
Mayat dan kontainer yang sebelumnya jatuh di sekeliling sudah lama hanyut terbawa ombak ke berbagai penjuru.
Namun kapal kargo terbaru ini, dengan sistem navigasi paling canggih, bahkan tanpa awak tetap bisa berjalan di jalur yang telah diatur menuju pelabuhan.
Federasi Texas
Kabut pagi menyelimuti pelabuhan yang sunyi. Kapal yang lama terombang-ambing di lautan itu akhirnya tiba di tujuan, diam-diam bersandar di dermaga. Orang-orang yang masih terlelap belum tahu apa yang dibawa kapal itu untuk mereka...
"Ibu, kapal besar itu kotor sekali!" suara seorang anak kecil melengking jernih di pagi hari.