Bab Tujuh Puluh Tiga: Dunia Nyata · Tidak Memaksakan
“Itu... Sebenarnya, mungkin kamu tidak akan percaya, kami berdua pernah mengalami hal buruk dalam waktu yang hampir bersamaan, dan saling membantu dua kali.”
Fu An An menopang wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dengan cekatan mengambil irisan daging sapi dari panci. Ia tampak persis seperti hamster kecil yang sedang makan, tepat di depan kamera.
“Tapi menurutku, mungkin kami belum bisa disebut teman.” Kalimat itu membuat Yan Sen Bo sedikit terkejut.
“Mengapa tidak bisa disebut teman?”
“Jangan membujukku, Pak.” Fu An An menggeleng sambil menyesap cola. “Jika Tuan Fu benar-benar menganggapku teman, mana mungkin ia mengutus orang lain untuk menggantikannya?”
Meski usianya masih muda, Fu An An sangat paham situasi. Tuan Fu pasti seorang pengusaha kaya yang berkuasa, jelas mustahil ia mau bertemu orang biasa seperti mereka.
Yan Sen Bo meletakkan sumpitnya, senyuman di wajahnya tetap terjaga, tapi sorot matanya jadi sedikit berjarak.
“Jadi maksud Nona Fu, saya ini tak cukup pantas mewakili tuan saya?”
“Bukan, jangan salah paham, bukan begitu maksudku.” Fu An An menggeleng lagi.
“Aku jujur saja, aku ini sebenarnya ingin menumpang keberuntungan Tuan Fu karena beberapa alasan. Awalnya kupikir kalau aku bisa punya sedikit hubungan dengan orang sehebat itu, mungkin saja ia mau membantuku. Tapi Tuan Fu bahkan enggan menemuiku, jelas ia tak ingin aku terus mengganggunya.”
Fu An An menghela napas,
“Lagipula, kita pun cuma sekadar bertemu sekali ini saja, setelah selesai makan hotpot, aku akan pergi.”
Seperti kata pepatah, gunung bisa runtuh, manusia bisa meninggalkanmu. Hari ini perasaan Fu An An naik turun, tapi akhirnya ia bisa legawa. Kalau memang tidak bisa, ya sudahlah. Kakeknya sering berkata, jika memang sudah jatah rezekimu pasti akan datang, kalau bukan, jangan dipaksakan.
Yan Sen Bo pura-pura cemberut, “Kau orang pertama yang bicara sejujur ini soal alasan ingin bertemu tuan saya.”
Dulu ia juga sering menangani urusan seperti ini untuk Fu Yi Zhi, banyak pria dan wanita dari berbagai kalangan ingin menempel pada Tuan Fu, tapi hanya Fu An An yang bicara blak-blakan seperti ini.
“Aku tahu aku begini tidak baik,” Fu An An menghela napas, bukankah ia hanya ingin bertahan hidup?
Yan Sen Bo tersenyum memandangi Fu An An. Tadi ia sempat mengira Fu An An gadis polos tanpa akal, hanya dua kali beruntung lolos dari permainan, lalu sekarang bermimpi bisa dekat dengan Tuan Fu. Sama saja dengan gadis-gadis lainnya yang pernah ia lihat.
Tapi kali ini, ia merasa sedikit terkejut. Polos tapi tidak bodoh, tahu apa yang diinginkan dan mengatakannya secara langsung. Jauh lebih menyenangkan daripada mereka yang berputar-putar, diam-diam mengambil untung, berpura-pura ramah, tapi penuh perhitungan.
“Menurutku kau lumayan, wajahmu juga manis,” katanya, tapi sebenarnya kalimat itu ia tujukan pada seseorang di earphone-nya, “Yakin tetap tidak mau?”
“Ha?” Fu An An terpaku sejenak, lalu melirik dua anak buah di belakang Yan Sen Bo, “Kau bicara dengan siapa?”
“Denganmu, dong. Tidak mau bakso udang?”
Yan Sen Bo mengambil bakso yang mengapung di panci.
“Mau!” Fu An An segera menerima mangkuknya.
Saat itulah, suara dari earphone akhirnya terdengar, “Sudah, bawa saja dia kemari.”
Senyuman muncul di bibir Yan Sen Bo, “Nona Fu An An, ada kabar baik, tuan kami ingin bertemu langsung dengan Anda.”
Baru saja menenangkan diri untuk tidak memaksakan kehendak, Fu An An langsung tertegun: …?
—
Mereka pun naik mobil Yan Sen Bo dan melaju ke pinggiran kota. Jalan yang mereka lalui berkelok-kelok, sampai akhirnya berhenti di tengah lereng, tepat di depan gerbang besi besar yang megah namun tampak sederhana.
Tak disangka, orang kaya benar-benar suka membangun rumah di lereng begini. Pohon-pohon besar mengelilingi tempat itu. Sebuah rumah mewah berdiri di antara pepohonan tua.
Lokasinya terpencil, suasananya sunyi. Pasti banyak nyamuk, pikir Fu An An.
Ia menggaruk lengannya. Baru berdiri setengah menit di situ, dua bentol merah sudah muncul di lengannya akibat gigitan nyamuk.