Bab Seratus Dua: Di Bawah Cakrawala 26
"Maafkan aku."
Pria yang dipanggil Wang Dalong itu mencabut pisaunya dan menerjang ke arah Fu An'an dengan ganas. Fu An'an menghindar ke samping, membuat serangan itu meleset. Segera setelah itu, ia mencengkeram lengan Wang Dalong dan mempraktikkan langsung teknik yang baru saja diajarkan oleh Fu Yizhi, lalu menjatuhkan belati dari tangan pria itu.
Sebuah tendangan mendarat tepat di selangkangan Wang Dalong, membuatnya seketika merasakan sensasi hancur yang luar biasa. Harus diakui, teknik bela diri yang diajarkan Ayah Fu sangat efektif. Ditambah dengan improvisasi yang ia lakukan sendiri, serangan itu benar-benar melumpuhkan lawan dalam sekali gerak.
Tepat pada saat itu, Li Sha tiba-tiba menerjang dari belakang dan mendekap Fu An'an erat-erat. Tenaga wanita itu sangat besar, membuat Fu An'an nyaris tidak bisa bergerak.
"Dasar tidak berguna! Kenapa masih melamun? Ambil pisaunya!" teriak Li Sha kepada Wang Dalong.
Mendengar itu, Fu An'an menarik kepalanya ke belakang dan menghantamkannya dengan keras ke arah orang di belakangnya. Saat wanita itu lengah karena kesakitan, ia mencengkeram lengannya dan melakukan bantingan bahu.
"Argh!" Li Sha menjerit kesakitan, terhempas keras ke lantai hingga darah keluar dari hidungnya.
Saat Wang Dalong baru saja memungut pisau dan hendak menyerang kembali, sebuah pistol sudah menodong tepat di keningnya.
Suara tembakan teredam terdengar. Sebuah lubang menganga di kepala Wang Dalong, dan ia jatuh tersungkur di atas karpet dengan mata terbuka lebar. Darah perlahan mengalir, menodai karpet menjadi merah pekat. Li Sha di sampingnya menjerit ketakutan.
Fu An'an mengangkat pistolnya, membidik ke arah Li Sha.
"Adik kecil!" Li Sha gemetar ketakutan hingga kakinya lemas. Ia langsung berlutut, tidak berani menatap mayat di sampingnya, dan terus memohon ampun. "Lepaskan aku! Kakak tadi hanya khilaf dan terpaksa. Begini saja, semua barang berhargaku akan kuberikan padamu, asal kau tidak membunuhku, bagaimana?"
Sambil bicara, Li Sha mengeluarkan beberapa kartu bank. Melihat Fu An'an tidak menurunkan pistolnya, dengan tangan gemetar ia melepas cincin dan gelang yang dipakainya.
"Sudah terlambat, Bibi," ucap Fu An'an dingin. Sejak wanita itu menyebutkan soal tangki udara di dalam rumah ini, ia sudah tidak akan bisa dibiarkan hidup.
"Maaf."
Fu An'an menarik pelatuk dengan kejam.
Dua mayat tergeletak begitu saja di ruang tamu. Fu An'an memeriksa kembali semua pintu rumah sebelum kembali ke lantai dua dengan tenang, meski tangannya yang memegang pistol terus gemetar tak terkendali.
***
Di jalanan, sebuah mobil hitam melaju kencang.
"Sial! Siapa yang masih bisa menyetir di saat seperti ini?" Seorang preman yang bersandar di pinggir jalan membuang puntung rokoknya yang baru setengah dihisap, lalu menyipitkan mata ke arah mobil yang menjauh.
"Er Gou!"
"Ada apa, Kak?" seorang pria kurus mendekat.
"Suruh Kak Hu bersiap, ada mangsa besar yang datang!"
***
Fu Yizhi sedang menyetir ketika melihat sekelompok orang tiba-tiba muncul di depannya. Ini bukan kali pertama ia bertemu dengan gerombolan penyamun di jalan.
Fu Yizhi membuka jendela mobil, mengarahkan moncong pistol hitam ke arah pria yang dikelilingi oleh kerumunan itu. "Enyah."
"Heh, beli replika di mana bocah? Kelihatannya asli sekali, ya?"
Jari Fu Yizhi bergerak tanpa sedikit pun perubahan pada tatapannya. Sebuah lubang muncul di kepala pria yang baru saja bicara itu.
"Aku tidak akan bicara dua kali."
Belasan orang itu ketakutan; pria ini ternyata membawa senjata sungguhan. Selama bertahan hidup hingga saat ini, tidak ada satu pun yang tidak takut mati. Mereka pun serentak bubar, memberikan jalan bagi mobil itu untuk melintas.
Sesampainya di vila, Fu Yizhi mengeluarkan tas besar dari bagasi. Ia sempat terhenti sejenak saat melewati ruang tamu. Pandangannya menyapu sekilas dua mayat di lantai, lalu ia berjalan terus ke atas.
"Fu An'an."
Fu An'an sedang duduk di sofa dengan tatapan kosong dan tidak bergerak sama sekali. Sejak ia naik ke lantai atas, posisinya tidak berubah sedikit pun.
"Fu An'an."
Fu Yizhi memanggil sekali lagi. Akhirnya menyadari siapa yang datang, Fu An'an berlari menghampirinya sambil terisak, lalu memeluk Fu Yizhi erat. Ketakutan dan rasa trauma yang tertahan sekian lama akhirnya runtuh seketika.
"Kak Fu, aku baru saja membunuh orang!"