Bab 39 Kota Berang-Berang 3

Menjadi Ikan Keberuntungan dalam Permainan Bertahan Hidup Aroma padi musim panas 1235kata 2026-03-04 23:38:00

“Setiap hari katanya bakal hujan, katanya harga AC sudah naik tiga kali, tapi setetes pun belum turun, dasar ahli.”
Pemilik warung mengeluh dengan nada kesal.
Sementara itu, Fu An-an menonton berita dengan saksama. Permainan sialan ini memang suka menyembunyikan kejadian masa depan di balik detail-detail kecil.
Mendengar ramalan tentang hujan badai besar, Fu An-an pun mencatatnya dalam hati.
Sepulang kerja, Fu An-an tidak langsung pulang ke indekos, melainkan keluar untuk melihat-lihat.
Sore itu cuaca akhirnya sedikit sejuk, jadi Fu An-an yang tidak terburu-buru makin jauh melangkah.
Entah bagaimana, ia malah sampai di sebuah toko perlengkapan hujan.
Tiga bulan berturut-turut tak turun hujan setetes pun, membuat usaha toko perlengkapan hujan itu hampir gulung tikar.
Bagian depan toko sepi, di kaca tertempel tulisan besar “Toko Ramai Disewakan”, sementara di depan toko berjejer payung, jas hujan, sepatu bot, dan celana tahan air, semuanya bertuliskan ‘obral murah’.
Fu An-an diam sejenak di depan pintu, matanya tertarik pada tulisan ‘obral murah’, tanpa sadar ia melangkah masuk.
“Eh, adik mau beli apa?”
Akhirnya mendapat satu pelanggan, sang pemilik toko pun langsung menyambut dengan ramah.
Fu An-an melihat perlengkapan hujan yang diobral murah itu, lalu mengambil satu per satu: payung, jas hujan, celana tahan air.

Uang yang didapat seharian ini pun langsung habis, bahkan ia harus nombok sedikit.
Fu An-an menatap sisa receh di tangannya dan menghela napas, “Aku benar-benar miskin.”
Sang pemilik toko juga menghela napas saat melihat hasil penjualan hari itu, merasa seolah mereka bernasib sama, “Begini saja, karena kamu sudah jadi pembeli pertamaku hari ini, dari barang obral di depan toko ini, pilih saja satu lagi, aku kasih gratis.”
“Wah, ini terlalu baik,” ujar Fu An-an dengan malu-malu, tapi tangannya tetap cekatan memilih.
Pemilik toko hujan: … Dasar gadis tak tahu malu.
Di saat itu, Fu An-an tiba-tiba melihat sebuah ikat rambut.
Warnanya putih polos.
Di permukaannya, sekilas tampak cahaya berpendar cepat, pemandangan yang terasa familiar.
Fu An-an tertegun, lalu mengambil ikat rambut itu, dan begitu disentuh, tulisan yang sudah tak asing pun muncul—

[Selamat, Anda memperoleh satu-satunya barang istimewa dalam permainan bertahan hidup kali ini: “Gelang Ruang.” Setelah terikat, gelang ini akan selalu mengikuti pemain hingga permainan berakhir atau pemain mati.]
Fu An-an mengamati ikat rambut itu dengan saksama; ternyata wujud barang ruang tidak selalu sama setiap kali. Pantas saja dulu ia mengenakan gelang ruang dengan santai di tangan, tak satu pun pemain lain yang mengenalinya.
Fu An-an merasa seolah baru mendapat pencerahan.
“Pak, saya mau yang ini,” katanya sambil mengangkat ikat rambut itu.

Setelah lama memilih, ternyata ia hanya mengambil ikat rambut, padahal itu bukan produk tokonya.
Pemilik toko tersenyum lebar, berkata, “Kalau kamu suka, ambil saja,” tapi dalam hati menganggapnya gadis bodoh.
Begitu mendapat barang ruang itu, Fu An-an langsung pulang ke indekos tanpa banyak bicara, lalu memeriksa dengan teliti apakah barang ruang itu selain bentuknya yang berubah, fungsinya masih sama.
Walau jam lima sore, cuaca tetap saja panas dan pengap.
Namun sepanas apa pun, tak bisa menghalangi semangat Fu An-an untuk segera mengisi barang ruang itu.
Di pusat kota Pelanduk, rumah sakit swasta terbesar, sebuah mobil hitam sederhana berhenti di depan pintu.
Beberapa orang berbaju jas hitam turun, dengan sigap memindahkan beberapa peti berisi obat-obatan berlabel asing, lalu segera pergi.
Sementara itu, di sebuah apotek kecil pinggir jalan, Fu An-an membeli beberapa obat pereda radang dan obat flu yang umum dijual.
Dalam perjalanan pulang di jalan utama, tiba-tiba angin dingin berembus, membuat deretan pohon birch di pinggir jalan berdesir. Sampah-sampah yang belum sempat disapu petugas kebersihan pun terangkat tinggi, terhempas ke depan.