Bab Delapan Puluh: Di Bawah Langit Luas (Bagian 4)
Beberapa menit kemudian, Fu An'an akhirnya mengangkat kepala lagi.
“Kak Fu, menurutku ini tidak bisa diburu-buru. Ini baru hari kedua, belum mengumpulkan informasi itu wajar.”
“Lalu bagaimana dengan alat penyimpanan ruang?” Ayah Fu menimpali dengan santai, “Siapa tadi yang bilang dirinya selalu beruntung?”
Ini jelas-jelas cari gara-gara sama aku, Fu An'an.
Sebagus apa pun keberuntungan, mana mungkin setiap saat bisa menang lotre!
Memikirkan itu, Fu An'an membusungkan dada dan berkata, “Pokoknya kakekku sudah bilang, aku memang orang yang beruntung, segala masalah pasti bisa lolos dari bahaya, bahkan katanya aku memang ditakdirkan jadi orang kaya!”
Kata-katanya membuat Fu Yizhi tertawa kecil.
“Ayo, kita pergi.”
“Kemana?” tanya Fu An'an.
“Mau ambil sesuatu.”
Mereka pun berjalan keluar toko. Fu Yizhi langsung membuka pintu sebuah mobil hitam. “Masuk.”
“Kak Fu, main game saja sampai perlu beli mobil?” tanya Fu An'an heran.
Barang-barang dalam game, mana bisa dibawa ke dunia nyata.
“...Sewa,” jawab Fu Yizhi datar.
“Oh, begitu.”
Fu An'an mengangguk, awalnya ia kira ayah Fu memang suka buang-buang uang.
Setelah mengenakan sabuk pengaman, mobil melaju kencang dan tiba di sisi lain kota kecil itu.
Di depan sebuah gudang, dua pekerja bongkar muat sudah menunggu, di kaki mereka menumpuk berbagai makanan dan obat-obatan.
Keduanya mengangkat barang-barang itu ke mobil, lalu melapor ke Fu Yizhi di depan, “Bos, ini kiriman terakhirnya.”
“Baik.” Fu Yizhi mengeluarkan setumpuk uang dari tas dan menyerahkan kepada mereka, “Terima kasih atas kerja kerasnya.”
Dengan wajah berseri-seri, keduanya menerima uang itu. “Terima kasih, Bos.”
Setelah itu mereka mengucapkan banyak doa keberuntungan, dengan gembira mengantar sang dermawan pergi.
Tentu saja semua barang ini bukan untuk membuka supermarket.
Mobil kemudian meninggalkan jalan utama, berputar ke sebuah vila terpencil.
Fu An'an turun dan melihat sekeliling, bahkan tak terlihat satu pun satpam. “Kak Fu, kali ini tak pakai tentara bayaran lagi?”
Mengingat gaya main ayah Fu di permainan sebelumnya, Fu An'an merasa tinggal di vila kecil seperti ini agak menyedihkan baginya.
“Ini hanya kota kecil.”
Mana ada tentara bayaran di sini.
Fu Yizhi memutar setir dan masuk ke dalam.
Vila kecil itu memiliki ruang bawah tanah tersembunyi, penuh dengan makanan, air, dan obat-obatan. Fu An'an bahkan melihat tenda, lampu tenaga surya, dan perahu karet.
Baru sehari, Fu Yizhi sudah berhasil mengumpulkan hampir semua persediaan penting.
Fu An'an terpana, kagum pada efisiensi kerja ayah Fu.
Tak lama, ia membatalkan penginapannya sendiri, lalu dengan riang dan penuh semangat pindah ke vila untuk ikut dengan sang jagoan.
Bahkan di dua hari pertama permainan, Fu Yizhi tetap mengatur waktu dengan sangat padat.
Berbagai barang terus-menerus dikirim secara diam-diam ke dalam vila, dan mereka berdua hampir mengelilingi seluruh kota dengan mobil.
—
Setelah makan siang dengan tergesa-gesa, Fu Yizhi mengambil dua jaket hitam, masker, topi, dan kacamata hitam dari mobil.
“Pakai.”
Singkat dan jelas, sang jagoan berbicara. Fu An'an pun menurut, meski tak tahu menyamar begini mau melakukan apa.
Kali ini mereka pergi ke tempat yang lebih terpencil dibanding pagi tadi.
Fu Yizhi terus menyetir hingga ke pinggiran kota. Di bawah jembatan sudah terparkir dua mobil lain, orang-orang di sana juga mengenakan masker dan kacamata hitam.
“Tetap di mobil, jangan turun.”
Setelah mengingatkan singkat, Fu Yizhi mengambil koper dari samping dan turun untuk berbicara dengan dua orang itu.
Tak lama, ia kembali membawa sebuah kantong besar berwarna hitam.
Isi dalam kantong itu berbenturan mengeluarkan suara logam, dan dari bentuknya Fu An'an sudah bisa menebak apa isinya.
“Senjata, ya?” tanya Fu An'an.
“Ya.”
Fu Yizhi menutup pintu mobil dan segera pergi. Saat mobil melaju di pinggir jalan, sekawanan burung beterbangan dari hutan.