Bab Dua Puluh Enam: Pesta Meriah di Lautan 26
Kotak-kotak itu tidak terisi penuh, hanya menempati dua pertiga dari ruang di dalam kontainer. Sembarang membedah salah satunya, ternyata isinya penuh dengan makanan kaleng. Selain makanan kaleng, ada pula air, pakaian, obat-obatan, lampu alkohol, bahkan senjata!
"Kontainer... semuanya seperti ini?" Fu An'an tertegun.
"Itu titik sumber daya. Setiap putaran permainan akan ada beberapa yang disiapkan menunggu pemain menemukannya," jelas Fu Yizhi sambil masuk ke dalam.
Fu An'an mengikuti di belakang, memanggul tangga kayu dan menutup pintu kontainer. Saat ini hari ke dua puluh empat pelayaran, pukul lima pagi. Mereka butuh waktu tiga jam untuk sampai ke atas sini. Hujan di luar sudah lama reda, namun mereka berdua sudah basah kuyup sejak tadi.
Fu An'an mencari beberapa pakaian bersih dari dalam kotak, melemparkan satu set pada Fu Yizhi, lalu memisahkan pandangan mereka dengan kotak yang lain sebelum berganti pakaian.
Akhirnya, mereka bisa tidur dengan tenang. Fu An'an menguap, menjadikan ranselnya sebagai bantal dan bersiap untuk istirahat sejenak, perkara lain nanti saja setelah bangun.
Suara napas pelan terdengar dalam kontainer. Fu Yizhi duduk di sisi lain, memainkan belati di tangan kanannya dengan santai, menutup mata untuk beristirahat.
Hari ke dua puluh empat bertahan hidup di laut, pukul sebelas siang.
Fu An'an meregangkan leher dan berdiri, mengambil sebungkus biskuit dan membukanya. Fu Yizhi entah kenapa sudah terbangun, sedang memeriksa deretan senjata itu.
Fu An'an melirik sekilas, lalu mulai menata barang-barang lain di dalam kontainer.
Makanan dan air, jika digunakan dengan hemat, cukup untuk mereka berdua selama enam hari. Ia juga mengatur pakaian dan obat-obatan, memasukkannya ke dalam kotak dan memberi tanda.
Selanjutnya, tiba saatnya bermain menumpuk kotak. Fu An'an menyusun kotak-kotak itu hingga menjadi dua bilik terpisah. Kardus-kardus kosong dibuka dan dijadikan alas di lantai, ditambah lapisan pakaian di atasnya, jadilah dua ranjang sederhana.
Krak—
Fu Yizhi menimbulkan suara saat memeriksa senjata, membuat Fu An'an kembali meliriknya.
Ada sekitar empat senjata, tiga pistol dan satu senapan. Fu An'an dalam hati mulai bersemangat. Andai saja ia cukup kuat, sudah pasti akan meminta—atau bahkan merebutnya.
Namun ia hanyalah seorang yang lemah. Fu Yizhi terkenal berhati keras dan sangat curiga, bahkan tanpa meminta senjata pun, keraguannya belum sirna. Jika nekat meminta senjata, bisa-bisa semakin runyam.
Andai sang kakak merasa tidak suka, ia bisa saja ditembak mati.
Setelah semua urusan beres, Fu An'an hanya bisa menatap dengan penuh harap.
Fu Yizhi melirik ke arahnya, "Kemari."
Fu An'an mendekat, melihat sebuah pistol berputar cepat di tangan Fu Yizhi, lalu dengan cekatan dirakit dan dipisah.
"Glock 19, pistol otomatis, kaliber sembilan milimeter, kapasitas peluru enam belas butir." Sambil bicara, gerakan tangan Fu Yizhi melambat, "Perhatikan baik-baik cara menggunakannya."
Dua suara tembakan teredam keluar dari pistol itu, berkat peredam suara.
Fu An'an meraba pistol di tangannya, mulutnya membentuk huruf "O". "Guru Fu, ini pistolnya untuk saya?"
"Simpan baik-baik, jangan sampai meletus tanpa sengaja."
"Guru Fu, Anda keren sekali!" seru Fu An'an girang, mengambil sarung pistol dan mengikatkannya di pinggang. Kini ia juga punya senjata.
Fu Yizhi hanya mengatupkan bibir tipisnya, pura-pura tidak mendengar keramaian di sebelahnya. Ribut sekali.
—
Di geladak kapal
Pintu tangga tiba-tiba dibelah oleh sebuah kapak.
"Ayo cepat!" teriak seseorang.
Akhirnya, orang-orang dari dapur juga naik ke atas. Mereka membawa papan kayu dan bangku mencoba menahan pintu, tapi suara itu malah menarik gerombolan mayat hidup.
"Li Gao, di belakang!" teriak Liu Feiyan.
"Sialan!" Li Gao meludah, "Bawa senjata, buka jalan di sini!"
Mereka semua berlari cepat, bergerak kacau di atas geladak.
"Mayat hidup di sini lebih banyak daripada di bawah!"
"Ayo lari, yang dari dalam kapal sudah keluar!"
"Tolong jangan tinggalkan aku, tolong!"
Kehadiran mayat hidup yang tiba-tiba membuat kelompok dapur panik, berlarian tanpa arah layaknya lalat tanpa kepala.