Bab Tujuh Puluh Dua: Dunia Nyata · Penjajakan
Ini benar-benar seorang sultan dunia maya! Fu An'an melonjak kegirangan di atas ranjang. Memberikan nomor telepon benar-benar keputusan yang cerdas.
"Bolehkah kami meminta alamat Anda?" tanya suara lembut di seberang sana.
Fu An'an menyebutkan alamatnya.
"Baiklah, bisakah Anda menunggu di tempat selama dua jam? Kami akan segera ke sana."
"Oh, baik." Fu An'an agak terkejut. Beberapa menit setelah menutup telepon, akhirnya pesanan makanan datang.
Hanya seporsi nasi claypot sederhana.
Sebentar lagi sultan dunia maya akan datang, ini terlalu sederhana. Demi menyambut tamu agung, Fu An'an rela merogoh kocek dua ratus ribu untuk memesan hotpot mini.
—
Dua jam kemudian, pintu kamar Fu An'an diketuk.
Di luar berdiri seorang pemuda dengan kacamata berbingkai emas, rambutnya tersisir rapi ke belakang, wajahnya dihiasi senyuman ramah.
"Anda pasti Nona Fu, saya Yan Senbo, yang tadi menelepon Anda."
Fu An'an mengangguk, "Ha... halo."
Ia melirik ke belakang, di belakang Yan Senbo ada dua orang lagi, tapi perasaannya mengatakan tidak satu pun dari mereka adalah sang sultan.
Seolah mengerti keraguan di mata Fu An'an, Yan Senbo segera menjelaskan,
"Tuan kami tidak bisa datang, jadi saya diutus untuk menjenguk Anda."
"Ah?" Fu An'an sedikit kecewa, tapi tetap membuka pintu, "Silakan masuk, saya sudah pesan hotpot mini, sebentar lagi bisa kita santap."
"Terima kasih."
Mendengar suara hangat dan sopan di belakangnya, Fu An'an mengangguk. Meski sang sultan tidak datang langsung, asistennya juga tampak sangat baik.
Tanpa sepengetahuan Fu An'an, begitu Yan Senbo masuk, kamera kecil yang tergantung di dadanya mulai merekam.
Rekaman itu dikirim langsung secara real-time ke sebuah vila pribadi di pegunungan.
Hidup sendiri, seorang gadis muda.
Kamarnya tidak besar, tapi bersih dan rapi.
Yan Senbo melirik sekeliling dengan santai, memperhatikan beberapa foto dan piala di ruang tamu, lalu duduk dengan senyum ramah.
"Nona Fu, tidak perlu repot-repot, santai saja."
"Tak merepotkan kok, saya pesan makanan online." Fu An'an menyalakan alkohol padat, lalu mengeluarkan empat gelas, "Saya punya cola, sprite, dan fanta. Mau minum apa?"
Semua minuman bersoda.
Ditambah hotpot yang berminyak dan pedas.
Kebiasaan hidup yang kurang sehat.
Yan Senbo menggelengkan kepala, "Air putih saja."
"Bumbunya?" tanya Fu An'an sembari lalu, "Saya beli dua rasa, yang pedas dan tidak pedas."
Sebenarnya ini disiapkan untuk sang sultan.
"Saus wijen saja." Yan Senbo menjawab dengan senyum.
Terlalu banyak waktu dihabiskan memanjakan lidah.
Mengingat gaya hidup Fu Yi Zhi biasanya, Yan Senbo merasa Fu An'an mungkin tidak memenuhi standar penerimaan orang itu.
Namun, belum ada instruksi apa pun dari earphone, Yan Senbo pun meneruskan percakapan dengan Fu An'an.
Yan Senbo tampak seperti eksekutif muda yang dingin, tapi sebenarnya dia sangat ramah dan punya selera humor tinggi.
Tak lama, mereka sudah berbincang akrab.
"Ngomong-ngomong, An'an, kamu biasanya tinggal sendiri?" tanya Yan Senbo sambil tersenyum, "Dua orang di foto itu siapa ya?"
"Itu kakek dan nenek saya," jawab Fu An'an, "Mereka tinggal di kampung halaman, Kota R."
"Oh."
Foto itu hanya ada keluarga generasi tua.
Yan Senbo melirik kamera di dadanya, bagian ini cukup mirip dengan seseorang itu.
"Baiklah, sekarang urusan utama."
Terdengar suara dingin di earphone.
Yan Senbo langsung duduk lebih tegak, "Bolehkah saya bertanya, bagaimana Anda bisa mengenal Tuan kami?
Terus terang saja, beliau orangnya sangat dingin, ini pertama kalinya beliau ingin berteman langsung."