Bab Kesembilan Puluh Empat: Di Bawah Langit yang Luas (18)
Malam kembali menyelimuti.
Namun, Fu Anan tidak berniat tidur.
Ia ingin mengetahui apa yang terjadi di malam hari sehingga ternak bertingkah aneh dan serangga mendadak mati.
Malam tanpa hiburan terasa berat, Fu Anan menopang kelopak matanya sambil menatap jam.
Pukul sebelas malam.
Pukul dua belas malam.
Pukul satu dini hari!
Fu Anan menghitung detik yang bergerak.
Tiba-tiba, rasa sesak yang kuat menyerangnya.
Seolah-olah oksigen di udara lenyap dalam sekejap, Fu Anan dengan susah payah memegangi lehernya, matanya terbelalak menatap jarum detik yang terus melaju.
Tik... tik... tik...
Lima detik berlalu.
Udara segar kembali mengalir.
Fu Anan menghirup napas dalam-dalam, terengah-engah.
Dalam sekejap, suara anjing menggonggong, kucing mengeong dan hewan-hewan lain di kota kecil itu meraung, jauh lebih heboh daripada malam-malam sebelumnya.
Tanpa pikir panjang, Fu Anan segera membuka pintu kamar Fu Yizhi.
“Fu, ini soal udara! Udara bermasalah!”
Fu Yizhi juga sudah bangun, mengenakan pakaian seadanya. “Keluarkan semua yang ada di alat penyimpanan, kita harus pergi.”
Lima detik tanpa udara.
Walau singkat, itu sudah cukup.
Selama ini mereka terjebak dalam pemikiran bahwa mengumpulkan bahan makanan adalah kunci, padahal udara mungkin justru menjadi faktor penting untuk bertahan dalam permainan ini!
Setelah keadaan di luar mulai tenang, keduanya bergerak cepat.
Mobil mereka diparkir agak jauh, lalu berjalan kaki menuju toko.
Kunci toko biasa tak mampu menghalangi Fu Yizhi, mereka pun segera masuk. Tabung oksigen masih banyak di dalam, Fu Anan berusaha sebisa mungkin memenuhi alat penyimpanan miliknya.
Saat hendak pergi, mereka bahkan masing-masing membawa dua tabung di tangan.
Setiap alat penyimpanan maksimal bisa memuat enam tabung.
Kali ini mereka dapat membawa empat puluh tabung oksigen.
Ditambah stok sebelumnya, total mereka memiliki delapan puluh tabung oksigen!
Rasanya sangat banyak.
Tabung-tabung itu kemudian dibagi, sepertiga masuk ke alat penyimpanan Fu Anan, sisanya disimpan di ruang bawah tanah.
Kejadian semalam akhirnya menarik perhatian semua orang.
Banyak yang mulai bercerita tentang terbangun di malam hari, mengalami mimpi buruk hingga nyaris kehabisan napas.
Namun tak satu pun sadar bahwa itu adalah gejala sesak napas.
Di bawah arahan pemerintah, orang-orang mulai mengolah ladang bunga, menanam sayuran dan padi, sementara hiburan kuno seperti mahjong dan catur perlahan mulai digemari lagi.
Hari-hari penuh dengan kerja dan aktivitas, perhatian masyarakat berhasil dialihkan ke hal lain.
—
Hari kesepuluh di Kota Kecil Ladang Bunga
Pukul satu dini hari.
Bagian atas kubah langit memancarkan cahaya biru lembut, berpadu dengan sinar bulan.
Dentang halus terdengar, lalu cepat menghilang di udara tanpa menarik perhatian siapa pun.
Anjing besar di jalan menatap langit dengan cemas, gerakannya gelisah namun tak mampu menggonggong.
Rasa sesak yang sangat kuat kembali menghantam dalam sekejap.
Seolah dalam satu detik, seluruh oksigen di kota kecil itu lenyap.
Udara yang masuk ke paru-paru membuat orang sulit bernapas, seakan-akan membakar dari dalam.
Wajah Fu Anan memucat, ia menahan napas, matanya terpaku pada jarum detik hingga satu putaran penuh, barulah sesak itu perlahan sirna.
Satu menit!
Waktu ini tidak terlalu lama, namun juga tidak terlalu singkat.
Sebagian besar manusia bisa menahan napas selama satu menit, tetapi orang tua yang lemah, bayi baru lahir, atau penderita asma...
Satu menit ini menjadi sangat berbahaya bagi mereka.
Dalam sekejap, selain suara anjing dan ayam, terdengar pula tangisan dan teriakan meminta pertolongan.
Mobil-mobil kecil melaju kencang di jalan, membawa pasien yang mengalami syok ke rumah sakit.
Bahkan pintu rumah mereka ikut diketuk, tetangga meminta bantuan karena bayinya mengalami syok.
Keduanya membantu mengantar tetangga ke rumah sakit, yang sudah dipenuhi mobil besar dan kecil.
Dokter tidak cukup.
Perawat juga kurang.
Obat-obatan pun terbatas.
Yang beruntung bisa bertahan, yang tidak, harus merelakan nyawanya.
Berdiri di rumah sakit, menyaksikan sendiri perpisahan antara hidup dan mati, perasaan campur aduk memenuhi hati.
“Pergilah, kau tidak bisa menyelamatkan mereka,”
Fu Yizhi menatapnya, dengan wajah tenang berkata, “Kau hanya bisa menyelamatkan dirimu sendiri.”