Bab Seratus Lima: Di Bawah Langit Luas Bagian 29
Senja hari, kantor polisi.
Masih ada beberapa orang yang mengantre untuk mengisi ulang tabung udara. Tiba-tiba, beberapa bom molotov rakitan dari botol bir dilemparkan ke dalam. Botol-botol itu pecah, menyebarkan api bersama tumpahan alkohol ke segala arah.
Warga sipil yang ketakutan berlarian menyelamatkan diri, sementara para polisi yang berjaga di pintu segera mengangkat senjata mereka. Sesaat kemudian, seseorang melemparkan arang yang sengaja dipadamkan dengan air. Benda itu menimbulkan efek serupa bom asap, menciptakan kepulan asap tebal yang sangat pedas dan menyesakkan napas.
Dalam sekejap, seluruh kantor polisi dipenuhi asap pekat. Memanfaatkan kekacauan tersebut, sekelompok perampok menyerbu masuk. Tujuan mereka sederhana: kompresor udara yang diletakkan di luar. Suara tembakan yang sengit menggema ke seluruh penjuru kota kecil itu. Semua orang tahu bahwa telah terjadi sesuatu di kantor polisi.
Kerusuhan itu berlangsung lebih dari satu jam. Setelah beberapa letusan tembakan terakhir, kota kecil itu akhirnya kembali tenang. Tak lama kemudian, sebuah mobil polisi melaju keluar dari kantor. Suara pengumuman dari pengeras suara terdengar di jalan-jalan dan gang-gang yang telah lama sunyi.
[Pemberitahuan, warga kota bernama Zhang Shan, Li Shi, dan lebih dari dua puluh orang lainnya yang dipimpin oleh Wang Fugui telah menyerang kantor polisi. Mereka telah ditembak mati di tempat sebagai peringatan bagi yang lainnya. Harap seluruh warga maklum.]
Di tengah situasi yang tak terkendali, kantor polisi mencoba memberikan efek jera untuk mengembalikan wibawa mereka. Namun, dalam psikologi, ada sebuah teori yang dikenal sebagai Efek Jendela Pecah. Bayangkan sebuah bangunan dengan beberapa jendela yang pecah; jika jendela-jendela itu tidak segera diperbaiki, para perusak akan cenderung memecahkan lebih banyak jendela lagi.
Kantor polisi gagal bertindak tegas saat aksi perampokan baru saja dimulai, sehingga tindakan mereka saat ini dirasa terlambat. Selain memberikan efek kejut, langkah tersebut justru secara implisit mengirimkan pesan kepada masyarakat umum bahwa menyerang kantor polisi adalah hal yang bisa dilakukan.
Dini hari hari kesembilan belas di Kota Huatian, waktu sesak napas mencapai 2,5 jam. Saat ini, lebih dari separuh penduduk Kota Huatian telah tewas, menyisakan beberapa ribu orang yang bertahan hidup. Mereka semua memiliki banyak tabung udara. Namun, memiliki banyak tabung tidak menjamin keamanan karena pengisian ulang udara menjadi masalah mendesak yang harus mereka hadapi.
Kantor polisi telah lama menetapkan aturan bahwa satu orang hanya boleh mengisi ulang udara sekali sehari. Meskipun durasi waktu sesak napas terus bertambah setiap harinya, aturan itu tidak pernah diubah. Kepala kantor polisi tampak semakin tidak kompeten, terus-menerus mengambil keputusan yang salah.
Persediaan bahan bakar di kota itu hampir habis dikuras oleh warga. Bahkan dengan tabung udara, tanpa bahan bakar untuk mengisi ulang, tabung tersebut tidak ada gunanya. Akibatnya, target perampokan pun beralih dari tabung udara menjadi bahan bakar.
Cara yang paling langsung dan kasar adalah dengan menggeledah rumah ke rumah. Pencarian ala sapu jagat dilakukan untuk mengumpulkan sisa-sisa bahan bakar yang tersembunyi di rumah-rumah warga. Vila tempat Fu An'an dan teman-temannya tinggal bukannya tidak pernah diincar. Namun, para preman yang berhasil memanjat masuk seketika tampak ketakutan begitu melihat mobil sedan hitam yang terparkir di depan pintu. Mereka buru-buru memanjat keluar, bahkan sampai membawa serta serpihan kaca di sol sepatu mereka.
Fu An'an yang melihat dari lantai dua merasa heran, "Kak Fu, menurutmu kenapa mereka begitu ya? Ekspresi mereka seperti melihat hantu di rumah kita saja."
Fu Yizhi menatapnya dengan dingin, "Awasi baik-baik, jangan biarkan siapa pun masuk."
Dini hari hari kedua puluh di Kota Huatian, waktu sesak napas bertambah menjadi 3 jam. Melirik jam, Fu An'an menghela napas lega. Sepertinya permainan ini sendiri menyadari bahwa tingkat kesulitannya sudah terlalu tinggi, sehingga mereka tidak lagi menambah beban. Mungkin ini adalah satu-satunya kabar baik di tengah semua kabar buruk.
Fu An'an menatap ke luar. Kota pada pukul tiga pagi itu gelap gulita dan sunyi senyap. Ini adalah waktu yang tepat untuk tidur, namun Fu An'an tidak bisa memejamkan mata karena memikirkan tabung udara yang jumlahnya kian menipis.