Bab Dua Puluh Tiga: Penguntitan (Bagian Akhir)
Di mata Sandang, Cui Jinlan adalah gadis yang cukup rendah hati. Ketika di kereta, dia pun demikian, dan beberapa kali keluar bersama, sikapnya tetap tenang. Ditambah lagi penampilannya yang biasa saja, membuatnya—entah disengaja atau tidak—selalu mudah diabaikan orang lain.
Namun hari ini, pendapat gadis itu membuat Sandang tidak bisa tidak memandangnya dengan cara yang berbeda.
Di dalam kamar, Xu Xiaowan sudah kehabisan kata-kata dan duduk manis di sana, seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan.
Cui Jinlan cukup puas, tapi dia tidak berniat berhenti di situ. “Tadi aku sudah jelaskan soal peringatan dan nasihat. Sekarang, kita bicarakan dua hal berikutnya: pelampiasan emosi dan hasutan jahat! Xiaowan, menurutmu Li Qian termasuk yang mana?”
“Mungkin yang pertama? Dia nggak berniat jahat, cuma... agak sensitif!”
Melihat kepastian itu, Cui Jinlan pun lega. “Bagus kalau kamu bisa berpikir begitu. Jujur saja, yang paling aku khawatirkan kali ini adalah kamu, Xiaowan.”
“Aku? Kenapa?”
“Soalnya aku yakin benar, sikap Li Qian yang terus-menerus menargetkan Yan Hui itu cuma pelampiasan emosi. Itu urusan dia. Tapi apakah kamu ikut terpengaruh oleh emosinya lalu mengubah pikiranmu sendiri, sampai akhirnya membuat keputusan keliru, itu hal lain! Inilah kenapa hari ini aku harus bertengkar dengan Li Qian. Kebiasaannya bicara seenaknya harus diubah! Soalnya, sikap seperti itu bukan hanya merugikan dirinya sendiri, tapi juga orang lain! Kamu orangnya polos, gampang percaya, kalau sampai terpengaruh oleh emosinya, bagaimana kalau akhirnya hubunganmu dengan Sandang jadi rusak?”
“Sebelum dia mengucapkan kata-kata itu, apa dia pernah memikirkan sejarah hubunganmu dengan Sandang selama ini? Jangan bilang cuma dia, kamu pun pasti belum tentu tahu kisah cinta dua orang itu sampai sedetail itu, kan? Kamu juga nggak tahu orang lain akhirnya akan memilih siapa. Apa karena orang itu akhirnya memilih lelaki yang menurutmu tidak terlalu baik, lantas kamu harus membuang semua hubungan dan kenangan selama ini?”
“Kita bicara lebih dalam lagi. Misalkan Sandang akhirnya bersama Yan Hui, bahkan menikah, lalu suatu hari Yan Hui melukai hati Sandang. Sebagai teman, apa yang seharusnya kita lakukan? Berdiri di sampingnya, menemaninya melewati masa sulit, dan membelanya tanpa ragu! Bukan malah menaburkan garam di lukanya dan menyalahkan keputusannya!”
“Bukannya aku melarang teman curhat, atau melampiaskan emosi. Tapi batasannya harus jelas!”
“Kita bisa saling mengadukan dosen brengsek, teman sekelas yang nggak bisa diandalkan, atau makanan kantin yang makin mahal. Tapi, jangan pernah membicarakan keluarga atau sahabat teman kita!”
“Prinsip ini bukan hanya berlaku sekarang, tapi juga saat kita sudah masuk ke dunia kerja nanti.”
“Soalnya kita nggak pernah tahu seberapa rumit jaringan pertemanan orang lain! Orang yang kamu kira cuma orang lewat, bisa saja ternyata tante dari temanmu, atau bahkan selingkuhan bosmu.”
“Dan satu hal terpenting lagi: Xiaowan, setiap orang punya batas ketahanan yang berbeda! Ada orang yang sangat rapuh, kamu ulurkan tangan sedikit, dia mungkin bisa selamat dari tepi jurang. Tapi kalau saat itu kamu justru menyakitinya, siapa tahu dia benar-benar memilih mengakhiri hidupnya! Hidup itu sangat berharga, dan tanpa tahu pasti keadaan orang lain, satu ucapanmu saja bisa membunuh seseorang!”
“Aku tidak membunuh Boren, tapi Boren akhirnya mati karena aku!”
“Kalian harus selalu ingat ucapan ini.”
Di dalam kamar, Xu Xiaowan benar-benar takluk. Bukannya sebelumnya Sandang dan kakaknya tidak pernah menasihati hal-hal seperti ini, mereka sering melakukannya. Tapi dulu dia selalu merasa kedua kakaknya terlalu cerewet. Dia bukan anak bodoh, masa hal begini saja tidak paham?
Namun kali ini, setelah mengalami sendiri dan mendengar hal itu diucapkan langsung dari mulut Cui Jinlan yang seusia dengannya, rasanya sungguh berbeda!
Rasanya seperti teman sebaya sudah dewasa, sementara dirinya sendiri masih seperti anak kecil yang minum susu botol... agak canggung, tapi justru makin mengena di hati.
“Tapi... setelah ini gimana?” Sekarang dia sudah paham, tapi tidak mungkin membiarkan Li Qian tetap keras kepala, kan?
Cui Jinlan tersenyum dan mencubit pipi Xu Xiaowan. “Menurutmu?”
Soal mendamaikan orang, Xu Xiaowan memang punya keahlian. “Tenang saja, biar aku yang urus. Aku yang akan bicara dengan Li Qian.”
“Mau bicara apa?”
“Menjelaskan niat baikmu! Bilang aku berterima kasih dan percaya padanya. Tapi sekarang aku sadar, apakah mempercayai teman sepenuhnya itu selalu hal baik? Setelah mendengar ucapanmu, aku merasa sangat beruntung punya teman yang mau mengajariku cara bersikap di dunia ini. Tapi bagaimanapun, kalian bertengkar karena aku, jadi aku ingin bicara baik-baik dan berharap ke depannya kita bisa saling mengingatkan dan maju bersama!”
Tentu saja itu hanya intinya, dalam praktiknya nanti pasti akan sedikit berbeda.
Tapi bagi Cui Jinlan, itu sudah cukup.
Di kamar itu, Cui Jinlan dan Xu Xiaowan mulai mendiskusikan kapan waktu yang tepat untuk bicara dengan Li Qian.
Mereka berdiskusi serius, tanpa tahu bahwa di balik pintu, Li Qian sudah berdiri cukup lama. Di tangannya ada bungkusan makan siang baru. Meski tadi bertengkar dengan Cui Jinlan, membantingkan makan siang untuk Xiaowan jelas tidak benar.
Jadi setelah berpisah, Li Qian kembali ke kantin untuk mengambil makanan lagi.
Tak disangka, justru di luar kamar, ia mendengar percakapan seperti itu.
Ternyata, selama ini dia yang salah!
Ternyata, sikap Cui Jinlan seperti itu demi kebaikan dia dan Xiaowan.
Mungkin memang selama ini dia yang keliru. Seperti yang dikatakan Jinlan, sebenarnya dia bisa melakukan sesuatu dengan cara yang lebih baik. Memberi peringatan halus, atau sekadar menasihati pun cukup. Bagaimanapun, dia memang tidak seharusnya mengambil keputusan untuk Xiaowan.
Semakin lama mendengar diskusi di dalam, wajah Li Qian semakin malu.
Beberapa kali dia ingin langsung masuk. Entah masuk sambil tersenyum dan menyapa, atau berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa pun boleh. Tapi ada rasa kesal di dadanya yang membuatnya tak juga bisa mengambil keputusan.
Apa yang harus dia lakukan?
Li Qian benar-benar bingung. Mahasiswa yang lewat di lorong itu semakin banyak, dia juga tidak mungkin berdiri di sana terus, apalagi Xiaowan belum makan siang.
Akhirnya, Li Qian pun sudah membulatkan tekad.
Tapi, saat dia mengeluarkan kunci untuk membuka pintu, tiba-tiba ponselnya berbunyi ‘ding’.
Pesan dari WeChat!
Notifikasi transfer uang!
“Qianqian, Ibu mendadak ada urusan jadi tidak bisa ke Kota Selatan, sebentar lagi libur panjang, ini Ibu kirim uang untukmu, bersenang-senanglah bersama teman-teman!”
Sialan! Dasar perempuan brengsek!