Bab Lima Puluh Lima: Menggali Lubang Menunggumu Jatuh
Berapa banyak pelatih yang bersedia membagi setengah dari uang yang mereka hasilkan bersama kepada rekan spirit mereka?
Sambil menatap kartu debit di tangannya, Raluluas tak bisa menahan diri untuk berpikir demikian.
Meskipun Raluluas masih memiliki kepercayaan dasar terhadap kepribadian Tang Yi, dan setelah menerima janji bahwa uang hasil kerja sama mereka akan dibagi dua, gadis itu sempat merasa senang.
Namun, setelah kegembiraan itu berlalu, ia tetap saja sesekali merasa sedikit khawatir—bagaimana jika pelatihnya berubah pikiran?
Sekarang, tampaknya ia memang terlalu banyak berpikir.
Raluluas mengangkat kepala, melirik Tang Yi yang tersenyum lebar dengan penuh semangat. Ia merasa bahwa laki-laki itu pasti sedang merencanakan sesuatu, mungkin saja akan membuatnya menghadapi situasi sulit.
“Baiklah, mulai malam ini, semua kegiatan sehari-hari akan kucoba selesaikan dengan kekuatan pikiran. Aku akan terima permintaanmu, meskipun agak terpaksa.”
Raluluas berusaha menahan suaranya agar terdengar tenang dan sedikit enggan, agar tidak tampak terlalu bersemangat. Ia tak ingin Tang Yi merasa terlalu puas, nanti bisa-bisa makin kelewatan.
Dalam hati, Tang Yi hanya bisa tertawa. Lengkungan tipis di sudut bibir Raluluas cukup menjelaskan bahwa gadis itu sebenarnya sedang sangat bahagia.
Baiklah, kali ini ia memutuskan untuk tidak membongkar kepura-puraan itu.
Karena sudah berjanji pada Raluluas, Tang Yi tentu tidak akan mengingkari ucapannya.
Kartu debit itu sebenarnya sudah dibuat beberapa hari lalu. Hanya saja, ia menunggu hingga hari ini, saat suasana hati Raluluas terlihat baik, baru memberikannya.
Raluluas sangat memperhatikan kartu itu, bahkan berlari kecil ke kamar untuk menyimpannya, dan melarang Tang Yi mengikutinya. Kenyataannya, sejak gadis itu makin dewasa, Tang Yi memang nyaris tak pernah lagi masuk ke kamar kecil itu.
Beberapa belas menit kemudian, gadis itu kembali dengan wajah puas.
“Sudah disimpan?”
“Sudah, dan kamu tidak boleh mengincar uangku!”
“Tenang saja, aku tak akan mengambil uangmu. Tapi, sekarang kamu sudah punya uang, jadi tanggung jawab yang selama ini kamu hindari tak bisa kamu elakkan lagi.” Senyum Tang Yi makin lebar.
Raluluas langsung waspada, firasat buruk mulai menggelayuti hatinya. “Maksudmu apa?”
“Kau lupa cangkir yang kau pecahkan dengan kekuatan pikiran beberapa hari lalu? Itu cangkir terakhirku. Belakangan ini aku terpaksa minum air pakai mangkuk, jadi menurutmu, siapa yang harus membayar cangkir baru?”
Raluluas tertegun, sedikit terkejut. Setidaknya biarkan aku menikmati momen haru ini lebih lama, batinnya. Kenapa secepat itu berubah muka?
Laki-laki ini benar-benar perhitungan, suka sekali mengungkit masalah lama!
Namun, hati gadis itu baik. Walau saat itu Tang Yi pulang lebih awal dan membuatnya kaget, tapi karena tak sengaja memecahkan cangkir dengan kekuatan pikiran dan melukai pelatihnya, ia tetap merasa bersalah.
Lagi pula, dulu saat belajar kekuatan pikiran, karena belum bisa mengendalikan, ia juga sudah memecahkan beberapa cangkir. Kalau mau jujur, semua cangkir Tang Yi memang rusak karena ulahnya…
Raluluas mengatupkan bibir, lalu berkata dengan lapang dada, “Baiklah, aku yang akan membayarnya. Tapi saat beli nanti, aku harus ikut.”
Supaya tidak tertipu oleh Tang Yi, Raluluas tetap waspada. Sebuah cangkir, paling dua puluh ribu rupiah. Sekarang ia punya tiga juta lebih, tak masalah.
Namun, Tang Yi belum selesai, “Jangan lupa dengan janjimu tadi. Mulai sekarang, minum dan makan pun harus kau lakukan dengan kekuatan pikiran. Kalau kontrolmu meleset dan ada barang yang rusak, kau juga yang harus menggantinya.”
Raluluas terpaku, tak percaya.
Orang ini benar-benar iblis?
Tidak, dia lebih seperti rubah api yang mengibaskan ekornya!
Pantas saja tadi terasa aneh, kenapa pelatih tiba-tiba jadi sangat ramah.
Huh, aku sempat tersentuh oleh pelatih seperti ini?
Tidak akan terjadi!
Dengan kesal, gadis itu berkata, “Kamu jahat! Kamu menjebakku! Kamu melakukannya dengan sengaja!”
Tang Yi tertawa, “Tapi semuanya kau sendiri yang setujui. Baik belajar hipnosis, latihan kekuatan pikiran, atau pembagian bonus.”
Memang benar, semuanya Raluluas sendiri yang setuju, bahkan kadang ia sendiri yang mengusulkan. Tapi tetap saja, ia merasa ada yang salah. Bagaimana bisa ia begitu saja terperangkap?
Walaupun Raluluas semakin dewasa dan matang, tetap saja ia bukan tandingan Tang Yi. Padahal ia sudah curiga Tang Yi punya rencana, tapi tak menyangka jebakannya sedalam ini.
“Bisa batal, tidak?”
Ekspresi Tang Yi berubah serius, “Raluluas, itu bukan kata-kata yang pantas kau ucapkan. Ingat, kalau tak mau berjanji, jangan lakukan. Tapi kalau sudah berjanji, harus ditepati.”
“Maaf,” jawab Raluluas. Setelah bicara, ia pun sadar, berpura-pura bodoh bukan gayanya. Ia tak seperti pelatihnya yang tebal muka itu.
Akhirnya, ia hanya bisa setuju.
Keputusan sudah dibuat, dan Raluluas benar-benar tak bisa keluar dari jebakan itu.
Dengan muram, ia menghitung-hitung dengan jari, berapa harga satu mangkuk, berapa harga satu cangkir, kalau sampai memecahkan kaca, berapa biaya pemasangan ulang…
Itu semua uangnya!
Dulu, saat tak punya uang, ia tak begitu peduli soal uang. Tapi sekarang, setelah punya tabungan lumayan, Raluluas merasa hatinya ikut terhimpit.
Namun, janji sudah diucapkan, apapun yang terjadi, ia harus menepatinya.
Meskipun Tang Yi suka bercanda, dalam soal prinsip ia tak pernah main-main dengan Raluluas. Ia memang ingin gadis itu punya pandangan hidup yang baik sejak kecil.
Malam itu, saat makan malam, ibu Tang tampak heran melihat Raluluas hati-hati mengendalikan sumpit dengan kekuatan pikiran, lalu dengan canggung mencoba mengambil makanan ke mulutnya.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya ibu Tang dengan curiga, pandangannya bergantian antara Raluluas dan Tang Yi.
“Tidak apa-apa, kami sedang latihan. Latihan kekuatan pikiran,” jawab Tang Yi sambil tersenyum.
“Itu juga termasuk latihan?” ayah Tang agak ragu.
“Iya, ini resep latihan khusus.”
“Ya sudah, terserah kalian. Asal jangan keterlaluan,” ayah Tang menggeleng, menasihati.
Bagaimanapun, pelatih Raluluas adalah Tang Yi, dan kedua orang tuanya juga tak punya pengalaman. Jadi, bahkan sebagai orang tua, mereka tahu tak perlu terlalu ikut campur dalam hal melatih.
Brak!
Baru saja bicara, mangkuk jatuh ke lantai, pecah.
Tadinya, Raluluas ingin menggeser mangkuk mendekat dengan kekuatan pikirannya, tapi mungkin kekuatannya terlalu besar, mangkuk malah terbang dari meja. Bahkan ia tak sempat meraih kembali.
Di meja makan, semua orang saling berpandangan.
Tang Yi dengan santai berdiri membersihkan pecahan mangkuk, lalu mengambil mangkuk baru, menuangkan sedikit nasi ke dalamnya, dan berkata tanpa beban, “Tak apa, tidak usah dipikirkan. Aku sudah memesan satu set mangkuk dan sumpit baru, besok pasti sudah sampai.”
Raluluas hanya bisa memandangnya tanpa kata.
Ternyata kau memang sudah menyiapkan semuanya, bahkan peralatan pengganti pun sudah dibeli sejak awal. Dan tentu saja, uangnya nanti pasti akan diminta dariku.