Bab 149: Senior, Bisakah Kamu Datang ke Rumah Sakit? (Mohon Suara Bulanan)
Ling Xiao tidak menyangka Chen Xue'er benar-benar datang.
Lin Dong juga langsung menyapa, "Selamat pagi, Direktur Chen."
"Jangan panggil Direktur Chen lagi, sekarang kita adalah mitra," jawab Chen Xue'er sambil tersenyum.
Ia kemudian bertanya, "Apa yang kalian ber Tiga bicarakan tadi? Siapa yang menindas kalian?"
Begitu mendengarnya, Lin Dong tentu ingin memberi tahu Chen Xue'er agar wanita itu membantunya memberi pelajaran kepada He Madong.
Namun, Ling Xiao menyikut lengannya dan memberi isyarat dengan tatapan mata: [Jangan beri tahu dia, kita bisa mengurusnya sendiri.]
Akan tetapi, Lin Dong merasa ragu: [Apakah kita benar-benar bisa mengurusnya sendiri?]
[Ya.]
Pada akhirnya, tatapan tegas Ling Xiao membuat Lin Dong mengerti.
Ia pun berkata kepada Chen Xue'er, "Bukan apa-apa, kami tadi hanya membicarakan bibi petugas kebersihan di lantai bawah yang tidak mau membuang sampah di depan pintu kami dan menyuruh kami membuangnya sendiri ke lantai bawah."
Chen Xue'er justru tertawa. "Kalian harus lebih banyak berolahraga, kalau tidak, kalian bisa mengalami obesitas parah di usia paruh baya."
Ling Xiao menatap Chen Xue'er dan bertanya, "Apakah ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan kepada kami?"
Ia tahu bahwa Chen Xue'er tidak akan datang tanpa alasan penting.
Benar saja, wanita itu berkata, "Begini, mulai sekarang aku akan kembali ke kantor pusat, jadi aku tidak akan sering datang ke Teknologi Hongxing. Kalian harus mengelola studio game ini dengan baik. Bagaimanapun, aku juga memiliki 20 persen saham di sini, dan aku berharap sahamku nanti bisa mendatangkan dividen berupa uang tunai."
Lin Dong langsung menepuk dadanya dan menyatakan, "Tenang saja, tidak masalah."
Ling Xiao juga mengangguk. "Kami akan mengelola studio ini dengan baik."
Melihat tidak ada lagi hal yang perlu disampaikan, Chen Xue'er pamit. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Sampai jumpa, Direktur Chen." Lin Dong sangat ingin Chen Xue'er segera pergi.
Bagaimanapun, berada di dekat Chen Xue'er membuat dirinya merasa canggung dan tertekan.
Seorang wanita dengan aura yang begitu kuat memang mampu menimbulkan rasa gentar.
Setelah Chen Xue'er pergi, Lin Dong memandang Ling Xiao dan berkata, "Kenapa tadi kita tidak menceritakan perbuatan bajingan He Madong itu kepadanya? Siapa tahu Direktur Chen bisa membantu kita melampiaskan kekesalan."
"Saat menghadapi masalah, jangan selalu mengandalkan wanita. Nanti kita akan dicap tidak punya harga diri. Kita harus memikirkan cara menyelesaikannya sendiri, itu baru jalan yang benar," jelas Ling Xiao.
"Lalu, apa kamu punya cara?" tanya Lin Dong.
Ling Xiao berkata, "Yang perlu kita hubungi sekarang adalah perusahaan tim pengembang game <i>outsourcing</i>, agar mereka bertanggung jawab atas beberapa pengembangan klasifikasi khusus. Kirimkan kepadaku alamat perusahaan yang sebelumnya menolak kita itu."
Lin Dong tampak terkejut. "Apa? Kamu mau pergi sendirian untuk menemui mereka?"
"Untuk membicarakan kerja sama, tentu saja kita harus mendatangi perusahaan itu secara langsung." Sambil berkata demikian, Ling Xiao melangkah keluar dari pintu studio.
Sebenarnya, ia sama sekali tidak khawatir He Madong akan ikut campur atau mengacaukan rencana mereka.
Masyarakat saat ini adalah masyarakat yang berorientasi pada uang.
Segala hal yang gagal dicapai kesepakatannya terjadi karena nominal uangnya belum sesuai.
Oleh karena itu, Ling Xiao memutuskan untuk pergi sendiri ke perusahaan tim pengembang game tersebut dan berbicara langsung dengan penanggung jawab mereka.
Berdasarkan alamat yang diberikan oleh Lin Dong, ia tiba di sebuah gedung perkantoran dalam waktu singkat.
Gedung perkantoran ini tidak jauh dari Gedung Hongji.
Bahkan, ketika Ling Xiao memilih lokasi untuk studionya dulu, ia sempat mempertimbangkan gedung ini.
Hanya saja, pada akhirnya ia memilih Gedung Hongji yang letaknya lebih dekat dengan pusat kota.
Oleh karena itu, Ling Xiao sudah cukup familiar saat tiba di depan pintu perusahaan tersebut.
Resepsionis perusahaan melihat Ling Xiao dan bertanya dengan ramah, "Halo, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan penanggung jawab di sini, ada beberapa hal kerja sama yang ingin saya diskusikan," jelas Ling Xiao.
Mendengar hal itu, sang resepsionis langsung tampak gembira.
Ia kemudian berkata, "Kalau begitu, saya akan bantu memanggilkan penanggung jawab kami."
Ia berbalik dan berjalan cepat ke depan sambil berseru, "Direktur Qin, ada tamu yang ingin menemui Anda untuk urusan kerja sama."
Resepsionis itu mengantar Ling Xiao hingga di depan sebuah pintu kantor.
Pada saat itu, seorang paruh baya dari dalam kantor berjalan keluar.
Melihat hal tersebut, Ling Xiao langsung menyapa, "Anda Direktur Qin, ya? Halo."
Pria paruh baya itu juga menyambutnya, "Silakan, silakan masuk dan duduk."
Ia melirik sekelompok karyawannya di luar dan berkata, "Xiao Li, pergilah ke ruang <i>pantry</i> dan seduh secangkir teh."
Seorang karyawan wanita muda segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju arah koridor.
Setelah menutup pintu, Direktur Qin dengan ramah memperkenalkan diri, "Halo, saya adalah manajer dari Perusahaan Desain Game Xiangwan ini, marga saya Qin."
"Halo, Direktur Qin. Saya adalah penanggung jawab sebuah studio game bernama Ling Xiao. Kedatangan saya kali ini adalah untuk membahas masalah kerja sama dengan perusahaan Anda," kata Ling Xiao.
Mendengar itu, Direktur Qin segera meminta Ling Xiao duduk. "Mari, silakan duduk, kita ngobrol santai."
Kemudian ia bertanya, "Kira-kira proyek kerja sama seperti apa yang ingin diajukan oleh Tuan Ling?"
"Begini, saat saya bekerja di Teknologi Hongxing sebelumnya, saya melihat bahwa perusahaan tersebut selalu memiliki hubungan kerja sama dengan perusahaan Anda. Selain itu, saya juga telah melihat banyak materi karya dari perusahaan Anda. Saya rasa teknologi dan hasil akhir dari perusahaan Anda sangat luar biasa. Sekarang saya merintis usaha sendiri, jadi saya ingin melihat apakah ada peluang untuk menjalin kerja sama," terang Ling Xiao terus terang tanpa menutup-nutupi tujuannya.
Begitu mengetahui bahwa Ling Xiao berasal dari Teknologi Hongxing, Direktur Qin langsung teringat dengan kejadian di grup WeChat sebelumnya.
Perusahaan yang bergerak di bidang desain game seperti mereka biasanya memiliki lingkaran pertemanan yang kurang lebih sama.
Teknologi Hongxing dianggap sebagai perusahaan yang cukup kuat dan berpengaruh di kalangan industri ini.
Itulah sebabnya, belum lama ini He Madong selaku kepala bagian Teknologi Hongxing berpesan di dalam grup agar semua orang tidak menerima proyek dari studio game yang didirikan oleh mantan karyawan Teknologi Hongxing yang telah resign.
Meskipun Direktur Qin belum pernah bertemu dengan He Madong dan tidak begitu mengenalnya, ia berpikir bahwa mereka berada di industri yang sama.
Jika ia sembarang menjalin kerja sama tanpa memahami situasinya dengan jelas, hal itu mungkin akan mendatangkan masalah yang tidak perlu bagi perusahaannya.
Oleh karena itu, Direktur Qin tetap bersikap hati-hati. "Begitu rupanya. Lalu, game seperti apa yang menjadi fokus desain studio Tuan Ling?"
"Kami berencana merancang sebuah game mobile, tetapi karena jumlah personel kami masih belum mencukupi, kami membutuhkan bantuan dari perusahaan Anda untuk merancang beberapa bagian pengembangan, dan kami juga akan memberikan imbalan yang sesuai," jelas Ling Xiao.
"Oh, begitu rupanya," Direktur Qin mengangguk-angguk mendengarnya.
Ia kemudian melanjutkan pertanyaannya, "Lalu, apakah Tuan Ling masih memiliki hubungan dengan pihak Teknologi Hongxing?"
"Saya saat ini sudah keluar dari Teknologi Hongxing, jadi studio game yang saya dirikan tidak ada kaitannya lagi dengan Teknologi Hongxing," jawab Ling Xiao.
Direktur Qin bertanya lagi, "Kalau begitu, bentuk kerja sama seperti apa yang kita jalankan?"
"Bekerja sama dengan pemprogram utama kami untuk menyelesaikan kerangka game, serta membantu perancangan, pengembangan, dan proses <i>debugging</i> dari berbagai fungsi utama."
Mendengar penjelasan itu, Direktur Qin mengerutkan keningnya. "Volume pekerjaan ini sepertinya cukup besar."
"Kami akan menyediakan imbalan sebesar 200.000 dalam jangka waktu setengah tahun. Jika di kemudian hari ada perubahan pada game tersebut atau desain alur cerita yang berskala besar, kita bisa mendiskusikan kembali harganya. Bagaimana menurut Direktur Qin?" usul Ling Xiao.
Angka yang disebutkan itu seketika membuat kerutan di dahi Direktur Qin mengendur.
Harus diakui, nominal tersebut memang sangat menggoda.
Saat ini, perusahaannya bisa dibilang sebagai perusahaan desain skala kecil di Kota Beijiang.
Biasanya mereka hanya menerima proyek-proyek desain animasi game kelas bawah.
Selama setengah tahun terakhir, karena kondisi pasar yang kurang baik, omzet mereka hanya cukup untuk mempertahankan operasional perusahaan saja.
Jika tiba-tiba datang proyek kerja sama senilai 200.000, itu tentu saja merupakan pilihan yang sangat bagus.
Mengenai pihak Teknologi Hongxing, Direktur Qin sama sekali tidak peduli.
Lagipula, siapa sih He Madong itu?
Apa haknya untuk melarang dirinya bekerja sama dengan orang lain.
Namun, demi menjaga profesionalisme sebagai seorang pembisnis, Direktur Qin tetap mengerutkan kening dan berkata, "Angka ini sepertinya agak terlalu rendah."
Ling Xiao tentu saja tahu bahwa Direktur Qin akan mengatakan hal itu.
Maka ia pun mengangguk. "Ya, sebenarnya saya juga tahu angka ini tidak begitu menggiurkan. Lagipula, ada perusahaan lain yang mematok harga terendah 220.000."
Direktur Qin langsung merasa penasaran. "Oh? Perusahaan mana itu?"
"Yaitu Teknologi Hongxing," jawab Ling Xiao sambil tersenyum. "Kepala Bagian He Madong bersikeras di angka 220.000 dan mengklaim bahwa selain perusahaan mereka, tidak ada perusahaan lain yang akan menerima proyek kami ini."
Perkataan itu benar-benar membuat Direktur Qin merasa jengkel.
Ia langsung berkata, "Bagaimana bisa begitu? Kenapa hanya mereka yang bisa menerima, kita juga sama-sama bisa mengerjakannya, kan?"
Melihat Direktur Qin telah terpancing, Ling Xiao dengan sengaja berkata, "Kepala Bagian He menganggap bahwa Teknologi Hongxing sudah memberikan harga terendah dan tidak ada perusahaan lain yang lebih murah dari mereka. Tetapi, saya teringat pada perusahaan Anda dan datang dengan sikap penasaran untuk mencoba. Jika kita bisa mencapai kesepakatan, kita tanda tangan kontrak. Jika tidak bisa, maka mau tidak mau saya harus kembali mencari Teknologi Hongxing."
Direktur Qin menjadi cemas, ia buru-buru tersenyum dan berkata, "Untung saja kamu datang ke tempat kami. Sebenarnya, menurut saya berbisnis itu seperti mencari teman, harga sedikit lebih tinggi atau lebih rendah tidak masalah, yang terpenting adalah bisa menemukan orang yang sepemikiran untuk meraih kesuksesan bersama, itu jauh lebih penting."
Ling Xiao tahu bahwa perkataan Direktur Qin terdengar sangat manis dan diplomatis.
Ia mengangguk menyetujui, "Itu memang benar. Oleh karena itu, saya juga sangat berharap bisa bekerja sama dengan Direktur Qin. Namun, anggaran kami saat ini hanya mampu 200.000. Saya tidak tahu apakah Direktur Qin bisa memberikan keringanan dan memberi kita berdua kesempatan untuk saling bekerja sama."
Direktur Qin akhirnya tersenyum lebar. "Baiklah kalau begitu, kita tetapkan saja kerja sama awal ini."
Mendengar itu, Ling Xiao mengulurkan tangannya. "Mari kita sambut kerja sama yang menyenangkan ini."
"Kerja sama yang menyenangkan."
Begitu melangkah keluar dari pintu perusahaan, Ling Xiao langsung mengirimkan pesan kepada Lin Dong.
Ling Xiao: [Besok datang untuk tanda tangan kontrak, semuanya sudah beres.]
Tidak lama kemudian, Lin Dong membalas pesannya.
Lin Dong: [Kak Xiao, kamu benar-benar hebat.]
Namun, Ling Xiao merasa ini bukanlah semata-mata karena kehebatannya sendiri.
Bisa dibilang, rangkaian teknik komunikasi psikologis yang baru saja ia gunakan adalah hasil dari tempaan panjang di dalam banyak mimpi masa lalunya.
Tepat saat ia bersiap untuk kembali ke studio, ponselnya berdering, sebuah panggilan telepon dari Chen Ting masuk.
Ling Xiao merasa sedikit terkejut.
Pasalnya, secara umum Chen Ting tidak akan pernah berinisiatif meneleponnya kecuali ada urusan yang mendesak.
Ling Xiao pun mengangkat telepon itu. "Halo, Tingting."
"Kak tingkat, bisakah kamu datang ke rumah sakit?" suara Chen Ting terdengar seperti hendak menangis.
Ling Xiao langsung merasa cemas. "Ada apa?"
"Linlin tiba-tiba sakit perut, mual, dan muntah. Kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit sekarang," jelas Chen Ting.
Pada saat itu,杨琳琳 (Yang Linlin) terdengar bersandar di pelukan Chen Ting dan berkata dengan suara Lemah, "Kak tingkat... aku... aku tidak apa-apa, jangan dengarkan omongan ngawur Tingting, kamu tidak perlu datang ke rumah sakit..."
Tanpa berkata banyak lagi, Ling Xiao menutup teleponnya dan segera bergegas menuju rumah sakit.