Bab Delapan Puluh Tiga: Biarkan Aku Melihat Pantatmu

Sistem Slam Dunk Super Cola Kelas Satu 2322kata 2026-03-05 00:28:18

Geng Haoshi kembali mengeluarkan sebuah kantong besar dari bungkusan besarnya, lalu menyerahkannya kepada Miao Xiaohua.

“Ibu, coba pakai ini.”

Ternyata, di dalam kantong besar itu berisi sebuah mantel berwarna merah muda, yang dibeli Geng Haoshi di pusat perbelanjaan kota setelah mendapatkan hadiah juara dari kejuaraan olahraga musim gugur gabungan sepuluh sekolah.

“Anakku, kenapa kau beli ini? Ibu masih punya banyak baju kok.” Miao Xiaohua dengan lembut meraba mantel merah muda itu. “Nak, berapa kau beli baju ini?”

“Lebih dari dua ribu,” jawab Geng Haoshi dengan santai. Padahal, baju ini adalah barang termahal yang pernah dibeli keluarga mereka hingga saat ini.

“Mahal sekali!” Miao Xiaohua merasa sayang. “Nak, bisa ditukar lagi tidak? Tukarkan saja, ya.” Penghasilan Miao Xiaohua sebulan paling banyak hanya sekitar seribu yuan, membeli satu baju saja sudah dua ribu lebih, tentu saja hatinya terasa berat.

“Tidak bisa ditukar.” Walaupun bisa, Geng Haoshi pun tak berniat menukarnya. “Ibu, sekarang aku kan pemain basket. Asal sering ikut pertandingan, uang pasti ada.”

Meski itu kebohongan, Geng Haoshi sudah bertekad bulat untuk berlatih sungguh-sungguh, masuk tim nasional, bergabung dengan klub, dan pada saatnya, ia akan menghasilkan banyak uang, agar keluarganya bisa hidup lebih sejahtera.

...

Keesokan harinya setelah Geng Haoshi pulang, tepat sehari sebelum malam tahun baru. Hari itu, Miao Xiaohua mengenakan mantel merah muda yang dibelikan anaknya dan pagi-pagi sekali sudah berangkat ke pasar desa.

“Mbak Miao, pagi sekali nih,” sapa Li Menglan, penjual sayur, dengan ramah saat melihat Miao Xiaohua.

Di samping, Wang Xiaoyan, yang menjual telur ayam kampung, menggoda, “Mbak Miao, hari ini dandan cerah sekali, jangan-jangan mau ketemu calon suami, ya?”

“Ketemu calon apa?” Miao Xiaohua tertawa, “Baju ini anakku yang belikan dari kota.”

“Mbak Miao, bukannya anakmu masih kuliah? Sudah bisa cari uang sendiri?” Kondisi Wang Xiaoyan memang lebih baik dari Miao Xiaohua, tapi ia tetap iri pada Miao Xiaohua, karena anak Miao Xiaohua adalah satu-satunya mahasiswa dari desa kecil terpencil ini.

“Katanya sih dapat hadiah dari menang pertandingan... detailnya ibu juga kurang paham.” Melihat pandangan iri mereka, Miao Xiaohua tertawa senang.

“Oh iya, Mbak Miao, anakmu tahun ini sudah dua puluh satu kan? Sudah punya pasangan?”

“Belum.”

“Wah, harus cepat tuh.” Wang Xiaoyan menunjuk Li Menglan, “Anaknya si Lan, baru sembilan belas, cucunya sudah bisa lari!”

Anak-anak di desa biasanya memang menikah muda, apalagi di desa terpencil seperti ini, banyak yang menikah di usia enam belas atau tujuh belas tahun. Miao Xiaohua menggeleng, “Aduh, itu juga jadi pikiranku.”

“Mbak Miao, menurutmu bagaimana dengan Xu Ernü?”

Xu Ernü adalah putri kedua Pak Tua Xu, juga dikenal sebagai gadis tercantik di desa kecil ini.

“Gadis itu bukan hanya cantik, tapi juga rajin dan cekatan.” Miao Xiaohua berpikir, kalau Xu Ernü bisa jadi menantunya, rumah ini bakal punya tambahan tenaga kerja.

“Mbak Miao, bagaimana kalau aku jadi mak comblang?” Meski Wang Xiaoyan bukan mak comblang profesional, ia sudah sering mempertemukan banyak orang, bahkan cukup sering berhasil. Tentu saja, bukan tanpa imbalan; kalau berhasil, mak comblang dapat amplop.

“Baik, baik, aku titip padamu ya. Kalau berhasil, aku kasih amplop besar!” Geng Haoshi dibesarkan sendiri oleh Miao Xiaohua, baginya tak ada yang lebih penting dari urusan anaknya.

Sekitar jam tiga sore, Wang Xiaoyan datang dengan gembira ke rumah Miao Xiaohua.

“Mbak Miao, kayaknya ini bisa berhasil!”

“Benarkah? Wah, syukurlah!” Miao Xiaohua langsung masuk ke kamar dan membangunkan Geng Haoshi yang sedang tidur siang.

Dengan mata setengah terpejam, Geng Haoshi digiring ke luar rumah.

“Ini si Shiwa, ya? Baru kuliah sebentar sudah berubah banget, sampai aku hampir tak kenal!” Bukan hanya Wang Xiaoyan yang nyaris tak mengenali, bahkan ibunya sendiri, Miao Xiaohua, waktu pertama kali Geng Haoshi pulang pun sempat tertegun beberapa detik sebelum sadar itu anaknya.

Waktu pergi dari rumah bulan September tahun lalu, Geng Haoshi masih gendut. Sekarang pulang-pulang sudah langsing. Tak heran kalau sulit dikenali.

Awalnya Wang Xiaoyan sempat khawatir, tapi setelah melihat penampilan Geng Haoshi sekarang, ia pun lega.

Ternyata, siang tadi Wang Xiaoyan sudah bicara ke rumah Pak Tua Xu. Awalnya Xu Ernü enggan, karena di desa kecil ini mereka sudah saling kenal. Dahulu, Geng Haoshi terkenal sebagai anak gendut, dan sebagai gadis tercantik desa, Xu Ernü tentu tak mau disebut bunga desa malah jatuh ke tangan ‘gundukan kotoran sapi’.

Untunglah Wang Xiaoyan sudah berpengalaman, dengan mulut manis dan bujuk rayunya, akhirnya Xu Ernü setuju untuk setidaknya bertemu dan berbincang dengan Geng Haoshi.

Alasan Wang Xiaoyan berkata, “Kayaknya bisa berhasil,” hanyalah bagian dari strategi mak comblang.

Catatan: Jadi, jangan percaya omongan “hidup di kota penuh tipu daya, lebih baik pulang ke desa.” Selama ada manusia, di mana pun, pasti ada strateginya.

...

Pukul 15.26 di rumah Wang Xiaoyan, Geng Haoshi dengan pakaian barunya duduk tegak penuh kewaspadaan.

Karena tak tahan dibujuk ibunya, sebagai anak ia pun terpaksa datang juga ke pertemuan dengan gadis tercantik desa.

Tempat pertemuan dipilih di rumah Wang Xiaoyan, si mak comblang. Sekarang, di rumah itu hanya ada Geng Haoshi seorang diri, sedang Miao Xiaohua dan Wang Xiaoyan duduk di luar, sambil mengobrol (catatan: supaya mudah menguping nanti).

Sesekali Geng Haoshi melirik jam dinding, dalam hati berpikir: “Wah, si gadis desa ini gayanya seperti orang penting, datang tepat waktu sekali.”

Pukul 15.30, seorang gadis muda mengenakan jaket bulu putih masuk ke dalam, lalu terdengar suara “kresek”, pintu kayu ditutup pelan oleh Wang Xiaoyan.

Gadis muda itu adalah Xu Ernü. Ia duduk di seberang meja, berhadapan dengan Geng Haoshi.

Alisnya indah seperti daun willow, matanya sipit dan berbinar, hidungnya mancung, bibir mungil merah muda... Geng Haoshi dalam hati memuji: Cantik sekali! Sepertinya ia lebih cantik dari sebelumnya!

“Kamu sudah puas melihat?” tanya Xu Ernü sambil menundukkan kepala malu-malu, wajahnya yang semula kemerahan kini makin merah.

Baru saat itulah Geng Haoshi sadar sudah menatapnya terlalu lama. “Eh, aku Geng Haoshi.”

Meskipun lama tak bertemu, setidaknya waktu kecil mereka pernah bermain bersama. Karena gugup, Geng Haoshi malah memperkenalkan diri lagi.

“Kamu benar-benar Shiwa? (Siswa: panggilan sayang Geng Haoshi)” Xu Ernü tersenyum malu, matanya yang indah menatap Geng Haoshi penuh pesona.

Seandainya di hati Geng Haoshi tak tersimpan sosok dewi idolanya, mungkin jiwanya sudah terbang terbawa pesona mata indah si gadis desa.

“Kalau kamu memang Shiwa, biarkan aku lihat dulu... bagian belakangmu...”