Bab 1 Ini Adalah Dunia Kultivasi
“Aku perempuan, 18 tahun, tinggi 165, pendekar wanita di dunia persilatan, ingin mencari seorang suami kultivator.”
“Wanita matang usia 30, karena usia yang tak lagi muda, hanya ingin mencari pria kultivator dewasa untuk menemani sisa hidup.”
“Aku seorang kultivator muda, suka dikendalikan oleh kultivator hebat.”
“Kudengar kultivator sangat kuat, aku perempuan tradisional, rela jadi istri kedua.”
“Kakak kultivator, aku sudah bertahun-tahun berbisnis, hartaku melimpah, sangat mendambakan punya banyak anak.”
Di depan Gedung Seratus Bunga, Kota Awan Tebal.
Barisan wanita-wanita cantik berpakaian menarik berdiri di lantai dua, melirik genit ke arah para kultivator yang lewat, membuat para kultivator muda yang baru menapaki jalan ini tak henti menoleh.
Inilah dunia para kultivator.
Begitu menjadi kultivator, mereka bagai dewa di dunia fana, bisa meloncat ke langit dalam satu langkah. Bahkan kultivator biasa pun bisa hidup ratusan tahun dan memiliki kekayaan melimpah.
Bisa dikatakan, menjadi kultivator berarti otomatis punya hak memilih pasangan, menarik banyak gadis dunia fana bagai ngengat mengejar api.
“Hmph, segerombolan wanita penggoda, mau merusak keteguhan hatiku?!”
“Hanya perempuan dunia fana, mau bermimpi jadi istri kultivator?”
“Benar, kita para kultivator yang punya akar spiritual mengejar jalan keabadian. Mana boleh terbuai urusan begini?”
“Tanpa perempuan di hati, jalan kultivasi pun akan mulus.”
Para kultivator pria yang lewat menggertakkan gigi, menahan getaran di dada, buru-buru menjauh dari Gedung Seratus Bunga, takut kalau lengah sedikit saja, mereka akan terjerat pesona para wanita itu.
Kalau begitu, mereka pasti jatuh ke tangan para perempuan itu.
“Inilah dunia para kultivator,” gumam seorang pemuda sekitar delapan belas tahun dari kejauhan, menatap pemandangan itu dengan ekspresi sulit diartikan. Baginya, semuanya sangat baru dan asing.
Namanya adalah Zhou Sui, seorang yang menyeberang dunia.
Dulu, di dunia asalnya, ia tipikal pria rumahan, sudah punya mobil dan rumah, hidup cukup nyaman. Tapi siapa sangka, saat mendaki gunung, ia tiba-tiba terpeleset jatuh ke jurang.
Akibatnya, ia langsung berpindah ke dunia kultivasi ini, menjadi pemuda delapan belas tahun yang bernama sama dengannya.
Yang paling parah, kedua orang tua Zhou Sui sebelumnya adalah kultivator tingkat akhir latihan qi, namun meninggal ketika menjelajah reruntuhan peninggalan, meninggalkan dirinya seorang diri.
Ditambah lagi, ia hanya memiliki akar spiritual tingkat sembilan, sampai sekarang pun baru mencapai tingkat satu latihan qi.
Bertahan hidup di Kota Awan Tebal, kota para kultivator lepas, jelas bukan hal mudah.
Di sini, hukum rimba berlaku, yang kuat berkuasa. Tanpa kekuatan, meski dibunuh orang pun, tak ada yang akan menolong.
Untung saja, kedua orang tuanya sudah membelikan rumah di kota ini, memberinya tempat berlindung. Kalau tidak, dengan kemampuannya, ia pasti sudah diusir dan jadi gelandangan.
Jadi, walaupun melihat para kakak cantik itu menawan, ia pun tak mampu menikmatinya. Di rumah saja sudah hampir kehabisan beras.
Mengingat hal itu, Zhou Sui mempercepat langkahnya, meninggalkan Gedung Seratus Bunga dan kembali ke rumah.
“Oh, keponakanku, kau sudah pulang. Bagaimana, sudah kau pertimbangkan urusan yang kubicarakan kemarin?”
Saat itu, seorang pria setengah baya bermuka licik datang menghampiri dengan senyum ramah.
“Paman Liu, biarkan saja. Rumah ini adalah peninggalan orang tuaku, aku tidak mau menjualnya.”
Zhou Sui segera mengenali pria itu sebagai Liu Dong, teman lama orang tuanya.
Namun sejak orang tuanya meninggal, sikap Liu Dong berubah, berusaha membujuk Zhou Sui menjual rumah ini, katanya ia punya cara menyogok petugas Sekte Kabut Abadi agar Zhou Sui bisa masuk jadi murid luar sekte.
Padahal, Sekte Kabut Abadi adalah penguasa ribuan mil di sekitar, dengan ketua sekte seorang kultivator inti emas yang sangat kuat. Menjadi murid luar saja sudah dianggap meloncat derajat.
Tapi Zhou Sui sudah mengalami dua kehidupan, mana mungkin tak tahu niat busuk Liu Dong. Jika semudah itu masuk sekte, Liu Dong pasti sudah masuk lebih dulu.
Motif pria tua itu jelas: ia mengincar rumah warisan. Jika Zhou Sui menjualnya, batu spiritual hasil penjualan pasti jatuh ke tangan Liu Dong.
Setelah itu, hidup atau matinya Zhou Sui tak ada yang tahu.
Mana mungkin ia sebodoh itu.
“Keponakanku, pikirkan baik-baik. Kesempatan seperti ini jarang datang. Ini peluang yang susah payah kudapatkan,” bujuk Liu Dong lagi. “Dengan bakat akar spiritualmu, kalau mengandalkan diri sendiri, membangun pondasi saja mungkin tak tercapai. Tapi kalau masuk Sekte Kabut Abadi, siapa tahu ada harapan menyentuh jalan keabadian.”
“Tidak, aku tak punya ambisi jadi abadi. Kini aku satu-satunya penerus keluarga Zhou, turun-temurun sembilan generasi. Orang tuaku hanya ingin aku hidup tenang dan meneruskan keturunan. Soal kultivasi, mengalir saja,” jawab Zhou Sui santai.
Ia tak mau bicara panjang, langsung masuk ke rumah.
Jujur saja, Zhou Sui tak takut Liu Dong berbuat jahat. Kota Awan Tebal terkenal sebagai kota kultivator lepas, sudah berdiri seratus dua puluh tahun, dan didukung seorang kultivator tingkat pondasi.
Banyak kultivator lepas hidup di sini, menjaga ketertiban. Jika ada yang berani berbuat di dalam kota, pasti akan ketahuan, dan hukumannya adalah mati.
“Ini…” wajah Liu Dong berubah-ubah, namun tak berani berbuat apa-apa, hanya bisa melihat Zhou Sui masuk ke dalam rumah.
“Huh, Liu Dong, sepertinya keponakanmu tak begitu percaya padamu. Mau kubantu saja menyingkirkannya?”
Dari bayangan, keluar lagi seorang kultivator paruh baya dengan wajah kejam dan aura pembunuh. Jelas dia tipe perampok yang keji.
“Tutup mulut! Kau berani berbuat di Kota Awan Tebal?” hardik Liu Dong.
Pria itu terdiam. Jujur saja, ia memang tak berani. Ia masih punya masa depan, mungkin suatu hari bisa membangun pondasi.
Kalau bertindak di sini, sama saja bunuh diri bersama seorang bocah. Tak sebodoh itu ia.
“Hanya bocah tingkat satu latihan qi dengan akar spiritual tingkat sembilan. Bisa naik ke tingkat enam sebelum usia lima puluh saja sudah bagus. Dalam waktu dekat, ia tak akan jadi ancaman bagi kita,” kata Liu Dong dengan nada dingin. “Tak perlu terburu-buru, kita perlahan saja. Rumah ini nilainya ribuan batu spiritual. Kalau bisa dapat, aku bisa naik ke tingkat delapan atau bahkan sembilan latihan qi.”
Mata Liu Dong memancarkan ambisi.
“Kau benar-benar kejam. Bukankah kau teman orang tuanya?” tanya pria itu sambil tertawa sinis.
“Haha, hanya sekadar kenal. Teman pun apa artinya? Demi jalan keabadian, banyak orang rela meninggalkan istri dan anak. Aku ini bukan apa-apa,” sahut Liu Dong acuh. “Kita tak bisa bergerak di kota ini, lebih baik cari alasan untuk memancing bocah itu keluar. Saat itu, diam-diam kita bisa menyingkirkannya.”
Setelah berkata begitu, mereka berdua pun cepat-cepat meninggalkan tempat itu.