Bab 65: Membakar Diri Sendiri
Permintaan Long Chenghao tidak hanya membuat Long Jiayi terkejut, bahkan Feng Qingyue pun merasa sangat terkejut dengan kelakuan tanpa malu tersebut. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan suara, Feng Jingyue sudah lebih dulu berbicara.
“Putra Mahkota, atas alasan apa Anda ingin bergabung dengan Pasukan Keluarga Feng untuk berlatih? Atau, apakah Anda sama seperti Pangeran Kelima, hanya seorang sarjana lemah?”
“Kau…”
Long Chenghao menatap dinginnya tatapan Feng Jingyue, hatinya langsung tenggelam dan wajahnya berubah menjadi sangat buruk dalam sekejap.
Tapi Feng Jingyue sama sekali tidak memperhatikan dirinya.
Ia mengangkat jubahnya dan kembali berlutut di depan Long Jiayi, lalu berkata dengan serius, “Paduka, Anda pernah mengatakan bahwa keluarga kerajaan tidak boleh mengambil keuntungan dari keluarga Feng. Pangeran Kelima memang perlu kemampuan melindungi diri, tapi hamba tidak mengerti alasan Putra Mahkota ingin bergabung dengan Pasukan Keluarga Feng.”
“Putra Mahkota, Aku juga ingin tahu alasanmu!” Long Jiayi memberikan isyarat pada Feng Jingyue agar berdiri, lalu segera memindahkan pandangannya ke Long Chenghao, wajahnya sudah tidak menunjukkan kegembiraan seperti tadi.
Liu Getai yang melihat hal itu segera memberi isyarat kepada beberapa menteri di dekatnya, lalu berlutut di depan Long Jiayi seraya berkata, “Paduka, Pasukan Keluarga Feng terkenal dengan kedisiplinannya, mungkin Putra Mahkota juga ingin melatih kemampuannya, itu sebabnya ia mengajukan permintaan ini.”
“Paduka, menurut hamba permintaan Putra Mahkota sangat masuk akal. Pasukan Keluarga Feng bisa menerima Pangeran Kelima, mengapa Putra Mahkota tidak boleh ikut berlatih di sana? Lagipula, apa yang dimiliki keluarga Feng juga berasal dari Anda.”
“Mentri Lin, bagaimana jika saya menyerahkan kekuasaan militer kepadamu, dan mulai saat ini engkau saja yang memimpin pasukan ke medan perang?” Feng Jinqi berkata dingin saat melihat Menteri Lin berlutut membela Long Chenghao.
Ia juga segera mengeluarkan cap militer sebelum para pendukung Putra Mahkota lain sempat berlutut memohon pada Long Jiayi.
Menteri Lin tertegun, tidak tahu harus berbuat apa.
Namun!
Permaisuri Agung tiba-tiba berdiri dari kursinya, aura membunuh terpancar, ia berkata, “Mentri Lin, aku masih hidup, tapi kau sudah ingin menggantikan keluarga Feng!”
“Permaisuri, bukan itu maksud hamba. Hamba…”
“Diamlah!”
Permaisuri Agung sudah lama tidak marah. Saat ia melangkah ke tengah aula, kedua matanya meneliti satu per satu para menteri yang siap membela Putra Mahkota.
“Dulu saat Kaisar terdahulu terjebak di medan perang, apakah kalian para menteri pernah berinisiatif maju? Kalian selalu berkata ingin membantu Paduka, tapi pernahkah kalian menunjukkan kemampuan sejati?”
“Aku masih ingat dengan jelas, saat itu Jenderal Feng yang tua memimpin pasukan di perbatasan barat daya, tidak mungkin ia sempat datang menyelamatkan. Justru Feng Jinqi bersama istrinya meninggalkan Jingyue yang baru berusia dua tahun, bersama Paduka yang masih menjadi Putra Mahkota, membawa lima ratus prajurit terakhir dari Pasukan Keluarga Feng untuk menyelamatkan Kaisar. Mengapa kalian tidak maju dan menawarkan diri waktu itu?”
“Putra Mahkota, aku ingin bertanya, apakah kau memang mengincar Pasukan Keluarga Feng?”
Permaisuri Agung selesai bertanya, lalu di hadapan para menteri dan selir, langsung memerintahkan Xu Momo mengambil tongkat naga warisan Kaisar terdahulu dari istana.
“Ibunda, urusan ini biarkan hamba yang menyelesaikan.” Long Jiayi melihat Permaisuri Agung mengambil tongkat naga, matanya langsung memancarkan rasa sayang.
Peristiwa perang saat Kaisar terdahulu terjebak, ia sendiri menyaksikannya. Saat naik takhta, ia bersumpah tidak akan membiarkan Permaisuri Agung lelah mengurus urusan negara.
“Para menteri tetap di sini, yang lain keluar! Yin’er, kau juga keluar bersama mereka.”
“Baik, Ayahanda!”
Long Yintian tanpa ragu membawa Feng Qingyue keluar dari aula kerajaan. Pertarungan hari ini menandakan ambisi kelompok Putra Mahkota semakin menguat, ayahandanya tidak bergerak bukan berarti tidak waspada.
Ambisi yang terlalu besar pada akhirnya akan membakar diri sendiri.
Long Yintian menatap langit biru, namun matanya penuh ketegasan dan kehampaan. Hari-hari penuh perubahan akan segera tiba.