Bab Empat Puluh: Terluka Demi Dirinya
Kediaman Sang Jenderal Agung.
Feng Jinqi meminta Xiao Cui dan Xiao Lian tetap berada di sisi Feng Qingyue untuk merawatnya dengan hati-hati. Ia awalnya ingin membawa Long Yintian ke ruang kerjanya untuk membicarakan rencana mereka masuk ke pegunungan. Namun, ketika ia melihat Jin Yuhang terus mengikuti mereka, alisnya tanpa sadar berkerut tajam.
"Yang Mulia, tabib Jin ini...?"
"Yuhang adalah saudara seperjuangan yang selalu setia menemani saya. Selama bertahun-tahun, kalau bukan karena dia yang meracik penawar di samping saya, mungkin saya sudah lama bertemu dengan ibu saya di alam baka," jawab Long Yintian, memperkenalkan Jin Yuhang dengan penuh hormat, menyadari keraguan Feng Jinqi.
Alis Feng Jinqi yang sudah berkerut semakin dalam.
Ternyata mereka semua mengetahui bahwa Long Yintian teracuni, hanya dirinya yang mempercayai rumor luar bahwa kelemahan Long Yintian adalah penyakit bawaan sejak lahir.
"Jenderal Agung, jika Anda merasa ragu, saya akan pamit terlebih dahulu," ucap Jin Yuhang, memahami betapa pentingnya Long Yintian bagi Feng Jinqi dan tidak ingin menyulitkan sahabatnya.
Namun saat ia hendak berbalik, Feng Jinqi tiba-tiba mengangkat tangan untuk menahan kepergiannya.
"Tabib Jin, lebih baik Anda tetap di sini. Yang ingin saya bicarakan dengan Yang Mulia adalah tentang masalah kesehatannya."
"Masalah kesehatanku?"
Long Yintian menatap Feng Jinqi yang tampak sangat serius. Ia teringat dugaan Jin Yuhang tentang tujuan mereka masuk ke pegunungan, sehingga pandangannya tanpa sadar melirik ke kamar Feng Qingyue.
"Jenderal Agung, apakah luka Qingyue ada hubungannya dengan saya?"
"Yang Mulia, Anda sebaiknya tidak terlalu lama di luar terkena angin. Mari kita bahas ini lebih rinci di ruang kerja saya," ujar Feng Jinqi tanpa membantah, membuat kegelisahan di hati Long Yintian semakin dalam, apalagi terngiang ucapan Feng Qingyue, "Apa yang tidak bisa dilakukan oleh tabib istana, bukan berarti orang lain juga tak mampu."
Ruang kerja.
Setelah duduk di kursi, Feng Jinqi menatap Long Yintian dengan ekspresi yang semakin rumit.
"Jenderal Agung, mohon beri tahu yang sebenarnya," kata Long Yintian sembari batuk beberapa kali, sisa racun yang menyerangnya semalam membuat wajahnya yang pucat semakin tak berdarah.
Feng Jinqi tidak berniat lagi menutupi sesuatu. Ia menghela napas berat sebelum berkata, "Semua orang tahu keluarga Feng adalah keluarga militer, tetapi tak ada yang mengingat bahwa leluhur Feng juga pernah menjadi tabib legendaris. Kisah 'menghidupkan orang mati, mengembalikan daging pada tulang' lambat laun dilupakan seiring waktu."
Mendengar itu, mata Jin Yuhang tiba-tiba bersinar. Ia menggenggam kipas lipatnya erat-erat, dan tatapannya tak pernah lepas dari Feng Jinqi, takut melewatkan detail penting.
Feng Jinqi melanjutkan, "Qingyue sejak kecil tumbuh di barak militer. Sebagai ayah, saya jarang sempat merawatnya. Ia selalu mengikuti neneknya, dan pemandangan yang paling sering ia lihat adalah neneknya mengobati luka para prajurit yang terluka parah. Lama-kelamaan, di usianya yang baru lima tahun, ia sudah mulai membantu di barak. Bagi keluarga Feng, hal ini sangat biasa."
"Tapi, suatu malam di usianya yang ke sepuluh, saat ia sendirian di tenda militer meracik ramuan, saya dan neneknya baru menyadari sesuatu. Ketika neneknya melihat Qingyue membuat bubuk penahan darah, ia begitu terharu lalu menanyakan banyak hal tentang ilmu kedokteran. Tak disangka Qingyue bisa menjawab dengan lancar, bahkan mampu mengambil kesimpulan sendiri."
"Ilmu pengobatan leluhur keluarga Feng diwariskan dari Kitab Kedokteran Kaisar Kuning, namun isi kitab ini sangat mendalam. Selain sang pendiri, tak ada satu pun anggota keluarga Feng yang mampu memahaminya. Tetapi Qingyue, di usia sepuluh tahun, sudah mengerti isi kitab itu dan mulai mempraktikkannya."
"Jenderal Agung, Anda bilang Kitab Kedokteran Kaisar Kuning ada di keluarga Feng?" Jin Yuhang tidak dapat menahan emosinya. Kitab yang selama ini ia cari ternyata berada di keluarga Feng.
Ia menatap Long Yintian di sampingnya, dan melihat harapan yang sama di mata sahabatnya. Ia merasa seolah menemukan cahaya di tengah kegelapan.