Bab 87: Menagih Utang pada Putra Mahkota

Pangeran Ahli Akting Membawaku Menuju Kemenangan Tanpa Usaha Mu Wenxi 1186kata 2026-02-08 23:15:41

Ketika Feng Qingyue mendengar keributan dari luar ruangan, ia sudah tahu bahwa Long Chenghao pasti datang untuk mencari masalah. Namun, yang tidak ia sangka adalah laki-laki tak berguna itu justru tidak membawa Qin Wanru bersamanya.

“Yang Mulia Putra Mahkota, apakah Anda tidak mengerti bahwa ‘kata-kata tidak boleh sembarangan diucapkan’, ataukah Qin Wanru belum belajar dari pelajaran sebelumnya?”

Feng Qingyue langsung melangkah ke sisi Long Yintian. Ketika alisnya sedikit berkerut, ia tanpa ragu menggenggam tangannya dan berkata, “Suamiku, batu giok itu diambil Qin Wanru dariku dengan tipu daya. Waktu itu dia bilang tidak bisa tidur nyenyak di malam hari, katanya batu giok bisa mengusir roh jahat, jadi dia memintanya dariku. Batu giok itu pun aku ambil secara acak dari gudang, dan semua ini diketahui oleh Xiao Cui serta Xiao Lian.”

“Tentu saja aku percaya padamu.”

Amarah Long Yintian sudah luluh oleh panggilan ‘suamiku’ dari bibirnya. Ia melirik tangan besar yang digenggamnya erat dan tanpa sadar tersenyum tipis.

“Kakak sepup—”

“Kau memanggilnya apa?”

Kata ‘kakak’ yang hendak diucapkan Long Fengxuan belum sempat keluar, kipas Jin Yuhang sudah menepuk pundaknya. Ia pun buru-buru tersenyum dan mengganti panggilan,

“Kakak ipar keenam, aku akan segera menyuruh kakak sepupu pergi ke keluarga Qin untuk meminta pertanggungjawaban perempuan jahat itu! Lihat saja, berani-beraninya dia memfitnahmu! Sekalian, aku akan meminta ayahanda menghukumnya tiga puluh kali cambuk, biar dia jera!”

“Xuan’er, kakak iparmu sudah seharian belum makan, temani dia ke dalam dan makanlah bersama.”

Ketika Long Yintian menyadari tatapan Long Chenghao, ia hanya ingin segera membawa pergi Feng Qingyue dari sana.

Long Fengxuan pun sadar. Ketika melihat Long Chenghao menatap Feng Qingyue tanpa berkedip, ia langsung menatapnya dengan tajam dan berkata tanpa basa-basi, “Kakak Putra Mahkota, tolong jaga baik-baik Qin Wanru itu. Kalau dia berani lagi menuduh yang bukan-bukan, aku tidak segan memberinya sehelai kain putih satu depa!”

Setelah berkata demikian, ia pun segera menemani Feng Qingyue kembali ke kamar.

Long Chenghao sama sekali tidak mengindahkan peringatan Long Fengxuan. Sejak Feng Qingyue naik ke tandu pengantin, bayangannya dalam balutan busana pengantin terus memenuhi pikirannya.

Namun, saat gadis itu benar-benar berdiri di hadapannya sekarang, barulah ia sadar betapa bodoh dan butanya dirinya dulu, hingga merasa bahwa Qin Wanru lebih baik darinya.

Wajah menawan dan putih bersih itu membuat semua bunga pun seolah kehilangan warna di hadapannya.

Ketidakrelaan samar pun perlahan muncul di mata Long Chenghao.

“Yang Mulia Putra Mahkota, Nona Besar Feng kini adalah Putri Keenam!”

Kipas Jin Yuhang pun terbuka dengan suara nyaring di depan wajah Long Chenghao, langsung menutupi pandangannya. Tatapan penghinaan dan sinis pun jelas terlihat di matanya.

“Yang Mulia Putra Mahkota, hamba rakyat jelata ingin memohon keadilan dari Anda. Sebelumnya, Gubernur Qin membuat keributan di Aula Seratus Ramuan, memaksa saya membeli salep mahal untuk mengobati anaknya. Karena kasihan, saya membaginya separuh. Ini adalah surat utang yang ditulisnya untuk saya.”

Melihat wajah Long Chenghao mulai suram, Jin Yuhang melanjutkan, “Gubernur Qin bilang Qin Wanru adalah adik Putri Mahkota, jadi Anda pasti tidak akan tinggal diam. Ia juga bersumpah Anda pasti akan membayar utang ini. Di sini ada surat utang lima ratus ribu tael emas, mohon dalam tiga hari ini uangnya segera disiapkan.”

“Kau…”

“Jangan khawatir, Yang Mulia. Surat utang ini jelas dan tegas ditulis oleh Gubernur Qin. Anda bisa saja mengingkarinya. Namun, jika besok tenggat waktunya tiba dan Gubernur Qin tidak dapat membayar, saya hanya bisa meminta bantuan Yang Mulia Adipati Keenam untuk membawa surat ini ke hadapan Sri Baginda, meminta keadilan bagi rakyat kecil.”

“Berani-beraninya kau!”

Long Chenghao tahu Gubernur Qin Dehong memang sempat membuat keributan di Aula Seratus Ramuan, tapi ia tidak menyangka bisa sebodoh itu, menghabiskan uang sebanyak itu hanya demi sebuah salep yang tidak berguna.

Sepertinya selama ini ia terlalu memanjakan keluarga Qin, hingga membesarkan sekumpulan pecundang yang bisanya cuma bikin masalah…