Bab 69: Harus Membelanya
Jejak pertarungan di lokasi kejadian segera dibersihkan tuntas oleh orang-orang dari Angkatan Laut Jin Yuhang. Long Yintian khawatir tempat itu tidak aman bagi Feng Qingyue, jadi ia memutuskan agar Pasukan Keluarga Feng mengawal gadis itu kembali ke Kediaman Jenderal lebih dulu.
Setelah mengatur segala sesuatu, termasuk menahan pria berbaju hitam itu, Long Yintian pun kembali ke kediaman pangeran dengan tubuh yang lelah.
“Paduka, hamba ada hal penting yang harus disampaikan.” Siwu masuk ke ruang kerja mengikuti Long Yintian dengan wajah muram.
“Paduka, hamba menemukan bahwa dua orang yang berdiri di belakang Nona Besar Feng adalah orang yang sama yang kita temui di dasar tebing saat mencari jasad Putri Mahkota.”
“Kau yakin?”
Long Yintian sedikit terkejut, jelas ia tak menyangka orang-orang Feng Jingyue akan muncul di dasar tebing.
Jika Siwu tidak salah lihat, bukankah itu berarti Feng Jingyue sebenarnya sudah kembali ke Kota Naga beberapa hari sebelumnya, hanya saja karena sesuatu hal ia memilih bersembunyi?
Begitu memikirkan itu, raut wajah Long Yintian seketika berubah dingin. Ia melambaikan tangan, memberi isyarat pada Siwu untuk berdiri, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk meja secara refleks.
“Paduka, walaupun waktu itu hamba tidak melihat jelas wajah mereka, tetapi aura membunuh yang mereka miliki sejak lahir sungguh tidak bisa disembunyikan.”
“Mereka memang tidak berniat bersembunyi. Kalau tidak, kau pasti tak akan bisa pergi dengan selamat waktu itu.”
Baru saat ini Long Yintian menyadari mengapa ia tadi merasa kedua orang itu begitu aneh; rupanya mereka pun mengenali Siwu.
“Kau pergi beri tahu Jin Yuhang, ia tidak perlu menyelidiki soal Putri Mahkota lebih jauh lagi. Kalau dia bertanya alasannya, katakan saja apa adanya.”
“Baik, Paduka!”
...
Di Kediaman Jenderal.
Hal pertama yang dilakukan Feng Qingyue setibanya di rumah adalah menyuruh para burungnya mencari sarang para pembunuh bayaran. Ia ingin membasmi tuntas para pembunuh kejam itu.
Sambil menunggu Feng Jinqi dan Feng Jingyue pulang dari istana, ia sengaja mengurung diri di kamar sepanjang sore.
Namun ia tak hanya berdiam diri. Teringat pada hadiah yang hendak ia berikan untuk Feng Jingyue, ia pun dengan bersemangat menyempurnakan naskah yang tengah dikerjakan.
“Nona, Jenderal Besar dan Jenderal Muda sudah pulang, mereka sedang makan malam di aula depan,” suara Xiaocui terdengar dari luar pintu.
Feng Qingyue menoleh ke luar jendela, mendapati langit sudah gelap. Mendengar kabar yang dibawa para burungnya, akhirnya senyum pun merekah di wajahnya.
Ia melirik naskah yang telah rampung, tiba-tiba ia jadi tak sabar ingin melihat ekspresi terkejut Feng Jingyue saat menerima hadiah itu.
“Xiaocui, nanti setelah kakakku selesai makan malam, suruh dia kemari.”
“Baik, Nona.”
Feng Qingyue meletakkan naskah, mengurut-urut bahu yang terasa pegal, lalu membuka pintu dan keluar dari kamar.
“Tuan Putri, akhirnya Anda keluar juga.”
Dua kelelawar pengisap darah itu segera menonjolkan kepala kecil mereka dari atas balok kayu begitu melihat Feng Qingyue keluar. Mereka menatapnya dengan wajah memelas.
“Ada apa?” Feng Qingyue mengulurkan tangan, memberi isyarat agar mereka hinggap di lengannya.
“Pengawal kakak Anda itu sungguh menakutkan. Kami tadi hanya ingin mencari makanan, hampir saja mati di ujung pedangnya,” kata salah satu kelelawar sambil mengadukan kejadian yang mereka alami bersama Wang Shun. Kalau saja mereka tidak lari cepat, mungkin kini jasad mereka sudah terbujur kaku.
“Tuan Putri, Jenderal Muda mendengar bahwa Anda terluka di gunung akibat perbuatan kami, jadi ia berniat masuk ke hutan untuk memusnahkan seluruh bangsa kelelawar pengisap darah sebagai balas dendam untuk Anda.”
“Astaga, kakakku ternyata seganas itu?” Feng Qingyue jelas tak menduga. Setelah menenangkan mereka sebentar, ia menyuruh mereka kembali bertugas, lalu mulai memikirkan cara membujuk Feng Jingyue agar tidak masuk ke hutan.
“Yuer, kenapa kau duduk di tanah?” Feng Jingyue datang ke taman dan mendapati Feng Qingyue duduk di tangga depan pintu kamar, kedua tangan menopang dagu.
Ia sudah mengetahui segalanya dari ayah mereka, termasuk soal Feng Qingyue yang tanpa sengaja mewarisi kemampuan pengobatan leluhur keluarga Feng. Seperti sang ayah, ia pun percaya penuh pada hal itu.