Bab 33: Masih ada rasa malu atau tidak?
Qi Wuyang mengira dia akan pergi dengan marah, tak disangka pria itu justru menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri, lalu berkata kepadanya, "Aku akan menyelidiki masalah ini. Jika istriku memang bersalah, aku pasti akan membawanya untuk meminta maaf secara langsung."
Shi Jian memberi salam lalu pergi, membuat Qi Wuyang tertegun sejenak.
Orang ini memang luar biasa, punya keteguhan hati yang jarang dimiliki. Memang benar, menjadi seorang lelaki bijak bukanlah hal yang mudah. Kalau dia yang ada di posisi itu, mungkin sudah berdebat sengit di tempat!
Justru karena itu, Qi Wuyang makin waspada terhadap Shi Jian yang tampak begitu tenang.
"Qi Wuyang!"
Saat Qi Wuyang hendak kembali, ia mendengar suara Lu Jin'an. Ia menoleh dan melihat Lu Jin'an berlari mendekat, napasnya agak tersengal, lalu berkata, "Aku sudah pergi ke gudang pangan."
"Apa? Siang bolong begini kau ke sana?" Qi Wuyang menatap Lu Jin'an dengan terkejut. "Bukannya kalau malam lebih aman?"
"Aku hanya mengikuti sarannya, jadi aku pergi ke sana dulu untuk mengenali medan. Siapa sangka, waktu aku sampai, penjaga gudang sedang tidak ada, jadi aku menyelinap masuk."
"Bagaimana? Masih ada berapa banyak persediaan makanan di gudang?" Qi Wuyang langsung bertanya.
Bagi Qi Wuyang, masalah Shi Jian saat ini tidak sepenting persediaan makanan.
Ekspresi Lu Jin'an tampak serius. "Dua gudang, isinya bahkan tidak sampai setengah."
Qi Wuyang melongo, "Apa? Coba ulangi?"
Lu Jin'an terlihat marah, "Kau tidak salah dengar. Aku benar-benar ingin membunuh anjing-anjing itu!"
"Tunggu dulu." Qi Wuyang segera menarik Lu Jin'an, "Membunuh mereka terlalu mudah. Kita harus membuat mereka memuntahkan kembali apa yang sudah mereka makan."
"Kau bercanda? Orang serendah itu, apa mungkin mau mengembalikan apa yang sudah mereka makan?" Lu Jin'an membalas kesal.
"Kalau hanya tahu menghunus pedang, apa bedanya kau dengan orang bodoh? Tuan mempercayakan halaman luar dan para pengawal padamu, masa otakmu tidak bertambah cerdas? Sekarang Chi Nan tidak ada, kau malah jadi bodoh?"
"Qi Wuyang, dengar ya, aku ini bukan tipe pria yang tidak berani memukul wanita."
"Coba saja pukul aku kalau berani!"
Lu Jin'an semakin pusing, memang dia tak berani. Kalau Chi Nan kembali, bisa-bisa mereka berduel.
Lu Jin'an menarik napas panjang, berusaha menahan amarah, lalu setelah beberapa saat berkata, "Jadi, kau punya rencana apa?"
"Ada, tapi kita harus cari tahu dulu ke mana mereka menjual persediaan makanan itu."
"Kau mau mengusut sampai ke akarnya?"
Qi Wuyang menghela napas, "Kalau akar masalahnya terlalu besar, kita pun mungkin tak sanggup menghadapinya. Kita lihat dulu siapa lawan di seberang sana, jadi paling tidak kita bisa bersiap."
Akar masalah terlalu besar...
Ucapan aneh semacam ini, sejak Qi Wuyang meninggalkan ibu kota, memang semakin sering keluar dari mulutnya.
Dulu dia paling banter hanya memutar bola mata ke arah Lu Jin'an, sekarang malah berani menunjuk hidungnya dan memarahinya.
"Baik, aku akan cari akarnya." Lu Jin'an akhirnya menyerah, akar masalah atau apalah namanya, ia yang akan tangani. "Tapi, urusan membuat orang-orang seperti Qiao Guangyang memuntahkan apa yang sudah mereka makan, itu urusanmu."
"Siap, tidak masalah." Qi Wuyang langsung menyanggupi. "Tapi, aku mau pinjam beberapa orang darimu."
"Kau mau apa lagi?" Lu Jin'an langsung waspada.
Qi Wuyang malas melihat reaksi berlebihan itu, "Aku tidak pinjam gratis, tenang saja. Nanti aku pastikan semua anggota pengawal bisa makan daging setiap hari."
Gadis muda berambut kuning ini omongannya besar sekali, makan nasi saja susah, masih berani menjanjikan daging. Sudah lama dia sendiri tak makan daging.
Meski enggan, Lu Jin'an tak berani menolak.
Setelah pulang, dengan kepala pusing, ia memanggil Tian Feng dan Wang Min, "Nona Qi kekurangan orang, salah satu dari kalian bawa anak buah untuk membantunya beberapa hari."
Tian Feng dan Wang Min saling pandang, keduanya tampak terkejut.
Wang Min berkata hati-hati, "Kak Lu, bukankah kita masih ingin membuktikan siapa yang lebih hebat dengan orang Hu di sisi Nona Qi? Kalau sekarang kita malah membantu dia, bukankah itu merendahkan martabat kita?"
Malu sekali rasanya.
Seandainya tahu begini, dulu tidak perlu bertaruh segala.