Bab 53: Perlawanan Memerlukan Keberanian
Nangong Wan'er tidak terlalu menghayati peran, melainkan sedang menjalankan tugas dari sang ibu suri, sehingga ia bersikap sangat proaktif.
Namun, di detik-detik tadi, ia sama sekali tidak memikirkan tugas tersebut. Mungkin karena terbawa suasana, hatinya benar-benar berdebar.
Akibatnya, reaksi sang Tuan Muda justru membuatnya merasa sangat terpukul.
Ia sangat percaya diri dengan kecantikannya. Tuan Muda itu jelas-jelas seorang pemuda bangsawan yang genit, tetapi dalam situasi seperti itu, dia justru melepaskannya?
Apakah dirinya tidak menarik?
Padahal ia telah berdandan dengan begitu cermat malam ini.
Aku tidak percaya pemuda ini bisa menahan diri untuk tidak menyentuhku.
Awalnya ia sempat ragu, tetapi kini ia justru membulatkan tekadnya.
"Nona Wan'er, ini salahku, aku minta maaf!"
Han Ning juga mengerti bahwa wanita memiliki kepekaan yang tinggi; dalam situasi siapa pun pasti akan meradang.
"Cukup dengan kata maaf?"
"Lalu, menurutmu aku harus bagaimana?"
"Suasana hatiku sedang buruk, hukumanku adalah temani aku menyusuri danau."
Di tepi Sungai Wangyou, banyak tertambat perahu yang disewakan bagi pasangan untuk menikmati pemandangan danau.
Tentu saja, harganya tidak murah.
"Aku khawatir uangku tidak cukup!" Han Ning berkata dengan sedikit canggung.
"Tidak apa-apa, aku punya!"
Nangong Wan'er membawanya ke sebuah dermaga.
Sebuah kapal hias besar tertambat di sana, menjulang hingga beberapa lantai, dihiasi dengan berbagai macam lentera yang digantung di sekujur kapal.
Nangong Wan'er membayar biaya sewa dan membawanya naik ke kapal.
Tuan Muda memiliki pendengaran yang tajam. Di tengah kebisingan suara di sana, ia mendengar sang pemilik kapal mengatakan bahwa kamar-kamar telah lama habis dipesan, sehingga ia tahu bahwa sebenarnya Nangong Wan'er sudah memesan kamar terlebih dahulu.
Apakah wanita ini benar-benar berniat mengggodanya?
Jika dia melakukannya sungguhan, pemuda itu takut tidak akan mampu menahan diri.
Kapal hias itu sangat besar dan memiliki total lima lantai. Lantai teratas tampaknya telah disewa secara eksklusif oleh seseorang.
Nangong Wan'er membawanya ke lantai empat.
Tarif sewanya mahal, dan pelayanannya pun sangat memuaskan. Pelayan menghidangkan arak serta makanan, lalu mundur setelah berkata, "Silakan menikmati, Tuan dan Nona."
Keduanya duduk berhadapan di geladak, dipisahkan oleh sebuah meja, menikmati pemandangan sungai.
Tak lama kemudian, para tamu telah hadir sepenuhnya. Kapal hias mulai bergerak perlahan dan berlayar ke tengah Sungai Wangyou.
Hari ini adalah tanggal satu bulan ketujuh. Bulan sabitnya begitu tipis bagaikan sehelai alis, namun bintang-bintang di langit berkilauan bagaikan bara api, berpadu dengan cahaya lampion di kedua sisi tepian sungai, menciptakan pemandangan malam yang sungguh indah.
Suasana di tengah danau begitu tenang, jauh berbeda dari keramaian di tepi daratan.
"Temani aku minum beberapa cangkir!"
Nangong Wan'er menuangkan arak ke dalam dua cangkir, lalu mengangkat cangkirnya sebagai tanda bersulang.
"Kau tidak memasukkan racun ke dalamnya, kan?" tanya Han Ning dengan nada setengah bercanda.
Nangong Wan'er merasa kesal, ia langsung meneguk habis minumannya, meletakkan cangkir itu dengan kasar, lalu mengambil cangkir milik Han Ning dan menenggaknya hingga tandas.
"Jangan minum lagi, aku saja yang minum."
Usai berkata demikian, ia melemparkan cangkir arak milik sang Tuan Muda begitu saja ke dalam sungai, lalu menuangkan minumannya sendiri dan meminumnya seorang diri.
"Temperamenmu sebesar ini? Biasanya tidak terlihat seperti itu."
"Bukan urusanmu..."
Nangong Wan'er sendiri pun tidak mengerti mengapa ia mendadak marah. Ia adalah seorang putri bangsawan dan wanita terhormat yang biasanya tidak pernah marah; kelembutan adalah ciri khas utamanya.
Namun, Tuan Muda ini benar-benar menyebalkan. Tidak ada pria lain di dunia ini yang begitu menjengkelkan seperti dirinya.
Ia meminum arak cangkir demi cangkir, hingga dalam waktu singkat pandangannya mulai berkunang-kunang karena mabuk.
"Hei, hentikan, jangan minum lagi!"
Han Ning merebut cangkir dari tangannya, melihat masih ada setengah cangkir arak di dalamnya, lalu membawanya ke bibir dan meneguknya hingga habis dalam sekali teguk.
"Dengan begini, kita anggap saja sudah berciuman secara tidak langsung!"
"Kau keparat!"
Ia mengepalkan tangan kecilnya yang lembut dan memukuli dada pria itu, sebelum akhirnya pergelangan tangannya digenggam erat oleh sang Tuan Muda.
"Lepaskan..."
"Nona Wan'er, emosimu sedang tidak stabil malam ini!"
"Aku mabuk, bantu aku kembali ke kamar."
"Kau tidak berniat untuk meniduriku, kan?"
"Kau takut?"
Nangong Wan'er menatapnya dengan tatapan menantang.
"Apa yang harus ditakuti? Ayo, aku bantu kau kembali ke kamar."
Ia ingin melihat apa sebenarnya yang direncanakan oleh Nangong Wan'er, jadi ia memapunya masuk ke dalam kamar.
Kamar itu tidak begitu besar, namun ditata dengan sangat elegan, terutama tempat tidur besar di sana yang dihiasi lampion merah di kepala ranjangnya, memantulkan cahaya lembut pada kelambu berwarna merah muda dan menciptakan suasana yang begitu pas.
Begitu memasuki kamar, Nangong Wan'er berjalan menuju tepi ranjang, perlahan-lahan melepaskan gaun luarnya, memperlihatkan bahu yang mulus serta tulang selangka, beserta korset merah muda yang penuh godaan.
Malam ini, riasannya tampak sempurna, memancarkan pesona yang begitu memikat.
Sang Tuan Muda menelan ludahnya, lalu tersenyum canggung, "Nona Wan'er, kita kan hanya berakting, tidak perlu sampai begini, bukan?"
"Bukankah kau sendiri yang bilang, kalau bersandiwara harus totalitas?"
Nangong Wan'er melingkarkan kedua tangannya di leher sang pemuda, mengembuskan napas wangi yang harum di dekat wajahnya.
Han Ning menggenggam kedua tangan Nangong Wan'er, perlahan melepaskannya dari lehernya, lalu memungut gaun yang tergeletak di lantai dan mengenakannya kembali ke tubuh wanita itu.
Nangong Wan'er merasa seolah-olah dirinya sedang dilecehkan, lalu tersenyum dingin penuh ejekan, "Tuan Muda, apakah kau ini seorang pria?"
"Aku seorang pria, tetapi aku tidak bisa menyentuhmu."
"Kenapa?"
Han Ning menghela napas pelan, "Aku tahu ibu suri yang memaksa..."
"Bagaimana jika ini atas kehendakku sendiri?" Nangong Wan'er menatapnya lekat-lekat.
"Maaf, aku sudah memiliki sang putri agung, aku tidak bisa melakukan hal yang mengkhianatinya," jawab Han Ning dengan sangat sungguh-sungguh.
Nangong Wan'er tersenyum kecut, "Tidak kusangka kau adalah seorang yang begitu setia dalam cinta, benar-benar di luar dugaan."
Nona Wan'er, sebenarnya kau tidak perlu menyiksa dirimu seperti ini."
"Heh, kau pikir aku punya pilihan?"
Nangong Wan'er menggigit bibirnya, sudut matanya sedikit memerah.
"Kau punya..."
Han Ning menatap ke dalam matanya, berkata dengan ekspresi serius, "Kau punya pilihan. Aku yakin, selama kau memiliki keberanian untuk melawan, kau selalu punya pilihan."
Melawan? Nangong Wan'er menatapnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Ya, melawan... margamu adalah Nangong. Bahkan jika kau menentang titah ibu suri, apa yang bisa dia lakukan padamu? Paling-paling dia hanya akan memaksa menikahimu. Cari saja pria yang cukup baik, lalu jalani pernikahan itu; itu masih jauh lebih baik daripada keadaanmu sekarang... Nona Wan'er, kau adalah manusia, bukan sekadar alat, kau tidak seharusnya hidup seperti ini..."
Nangong Wan'er tertegun, menatap pria di hadapannya dengan tatapan kosong, seolah-olah ia sedang melihat orang asing.
Han Ning menghela napas pelan, "Kau terlalu lemah, terlalu penurut, makanya wanita tua bangka itu ingin mengendalikanmu. Asalkan kau mau, kau pasti bisa melepaskan diri dari kendalinya."
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Nangong Wan'er sejak tadi. Menatap tatapan tulus dari pria itu, ia akhirnya tidak mampu menahan diri lagi, lalu memeluknya dan menangis tersedu-sedu.
Kata-kata sang Tuan Muda telah menghujam tepat ke lubuk hatinya yang paling dalam.
Sejak kecil hingga dewasa, tidak pernah ada seorang pun yang mengatakan hal seperti itu padanya.
Ia tidak ingin dikendalikan oleh orang lain, tetapi ia tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan diri. Ia merasa lemah, ia merasa takut. Sejak kecil ia telah dilatih untuk mengorbankan segalanya demi keluarga, namun ia juga membaca banyak buku dan memiliki pemikiran serta idealismenya sendiri.
Tubuh mungil gadis itu bergetar dalam tangisnya, sungguh memilukan hati.
"Jika kau butuh bantuan, aku akan melakukan apa pun semampuku untuk membantumu."
Han Ning menepuk punggungnya dengan lembut untuk menenangkannya.
Lama kemudian, tangisan Nangong Wan'er mulai mereda. Ia mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajahnya yang dipenuhi jejak air mata.
Sang Tuan Muda mengulurkan tangan dengan lembut untuk menghapusnya.
Nangong Wan'er sedikit mendongak, sepasang matanya yang basah oleh air mata menatapnya lekat-lekat, lalu tiba-tiba melontarkan dua kata:
"Cium aku..."
Masih mau lagi? Ia tertegun sejenak, memikirkan bagaimana cara membujuk gadis keras kepala ini.
"Adik perempuan Lingyin milikmu sedang dalam bahaya!" Nangong Wan'er tiba-tiba berkata.
"Apa?" Ia terkejut, lalu mencengkeram bahu Nangong Wan'er, "Apakah itu Xia Hongyi?"
Nangong Wan'er mengangguk, "Sang pangeran muda akan bertindak terhadap Nona Han malam ini!"
"Di mana mereka?"
Han Ning menjadi panik, mengguncang bahu wanita itu dengan kuat.
"Cium aku, maka akan ku beri tahu!"
"Kau..."
"Sebaiknya kau cepat, kalau terlambat semuanya akan terlambat."
Sialan! Mata Han Ning memerah. Ia langsung mendekap Nangong Wan'er, dan mendaratkan ciuman yang dalam serta penuh gairah di bibir merah wanita itu.
Karena diliputi kecemasan, sang Tuan Muda melakukannya dengan penuh tenaga. Ia menggigit bibir merah Nangong Wan'er yang menggoda, membuka paksa barisan giginya, menyedot lidahnya yang manis, dan menghisapnya dengan liar.
Nangong Wan'er masih sangat belia dalam hal ini; ia mencengkeram kerah baju pemuda itu dengan gugup, merasa begitu ketakutan hingga bingung harus berbuat apa.
"Sudah cukup, kan?"
Tak lama kemudian, Han Ning melepaskannya.
"Ini ciuman pertamaku..." Nangong Wan'er menatapnya sambil tersenyum kecil, "Rasanya lumayan juga. Akan lebih bagus lagi kalau kau melakukannya dengan lebih lembut."
"Nona Wan'er, jangan mempermainkanku sekarang. Cepat beri tahu aku di mana mereka berada!"
Sang Tuan Muda mencengkeram kedua bahunya, tatapannya seolah-olah hendak menelan orang hidup-hidup.
Nangong Wan'er menggigit bibirnya, "Di lantai atas..."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, sang Tuan Muda sudah melesat pergi bagaikan embusan angin.
Nyala lilin di samping mereka bergeser dengan liar hingga hampir padam.
Nangong Wan'er merasakan hawa dingin merayap. Ia merapikan gaunnya, berjalan ke dekat jendela, dan melalui celah kaca jendela ia dapat melihat kerlip cahaya lampu yang mengapung di permukaan air danau.
Sungai Wangyou sangat indah, namun sayangnya ia tidak mampu melupakan kesedihan seperti arti namanya.
Melepaskan diri dari kendali bibi leluhur, mampukah aku melakukannya?
Melawan... hal itu membutuhkan keberanian yang besar!