Bab 45 Berjumpa Lagi dengan Kawanan Perampok
Rasa sesak itu seketika menghilang. Li Guanqi berdiri di dalam air, dengan serakah menghirup udara segar.
Baru saja menderita kerugian dari ular sanca hitam tersebut, dia untuk sementara mengurungkan niatnya untuk naik ke darat terlebih dahulu. Sambil mengamati air berwarna kemerahan di sungai bawah tanah yang bergolak mengeluarkan suara gelembung, dia dengan cepat melacak posisi ular sanca hitam itu.
Melihat kilatan darah mendekat, ular sanca itu kembali menerobos keluar dari air.
Li Guanqi telah bersiap sebelumnya. Dia menengadah ke belakang, menghunus pisau dingin di punggungnya, dan melibaskannya dari dalam air.
Kecipak!
Permukaan air memercikkan gelombang demi gelombang, dan mata pisau itu menebas tepat ke arah bagian tujuh inci dari ular sanca hitam tersebut.
Seketika itu pula darah terciprat ke mana-mana. Tubuh ular yang begitu tebal seperti tong air itu menggeliat hebat di dalam sungai bawah tanah, dan suara gemuruh air terdengar beruntun dari celah-celah tebu gunung.
Namun, Li Guanqi menebas dari bawah air sehingga hambatan air telah mengurangi sebagian besar tenaga serangannya. Tebasan itu belum mampu merenggut nyawa si ular.
Hukum rimba, yang kuat memangsa yang lemah!
Ular sanca hitam yang terus-menerus mengalami pukulan itu seketika kehilangan nyalinya. Ia meliukkan tubuh raksasanya menyelam ke kedalaman sungai bawah tanah, dan dalam sekejap menghilang tanpa jejak.
Li Guanqi sama sekali tidak berani lengah. Dia segera melompat ke atas dinding batu sambil terengah-engah.
Pada saat itu, wajah Su Yunxue juga tampak pucat pasi. Dengan perasaan takut yang masih tersisa, dia menatap lekat-lekat ke permukaan air. "Ular sanca hitam itu seharusnya sudah pergi, kan?"
"Hmm."
Li Guanqi menanggapi, "Ular sanca hitam itu terluka cukup parah, dalam waktu singkat sepertinya ia tidak akan kembali lagi."
"Baguslah kalau begitu, baguslah!"
Su Yunxue mengembuskan napas lega, seolah beban berat terangkat dari pundaknya.
Li Guanqi tersenyum mengejek. "Kenapa, sekarang tidak merasa bosan lagi?"
Su Yunxue berkata dengan nada angkuh, "Kamu masih berani bilang begitu! Ini semua salahmu karena tadi bersikeras mengucapkan kata-kata sial. Lihat saja apakah lain kali kamu masih berani bicara sembarangan!"
"..."
Li Guanqi pun malas untuk membuang-buang tenaga berkata-kata lagi. Dia membungkuk untuk memeriksa tanduk rusa jantan tersebut, di mana terlihat tanduk putih bersih itu terbungkus oleh lapisan kulit lembut seperti beludru berwarna cokelat kekuningan. "Akhirnya berhasil menemukan tanduk rusa ini. Penyakit ibu seharusnya bisa sedikit mereda."
Setelah itu, dia menggunakan pisaunya untuk memotong-motong kedua rusa sika tersebut. Bagaimanapun, mereka masuk melalui celah sempit, jika menggunakan kereta luncur untuk menarik bangkai utuh seperti biasanya, sama sekali tidak akan bisa melewati jalan tersebut.
Dia dan Su Yunxue memanggul bangkai rusa di punggung mereka, lalu menyusuri sungai bawah tanah berjalan menuju pintu keluar.
Selama perjalanan, saraf mereka tentu saja tegang demi mencegah segala hal yang tidak diinginkan. Untungnya, tidak ada kejadian aneh lagi yang terjadi.
...
Di saat yang sama.
Di tengah hutan pegunungan terdengar suara makian, "Sialan, penduduk desa ini benar-benar semakin miskin saja. Membuang tenaga setengah mati tapi hanya merampok barang sekecil ini, bahkan tidak cukup untuk menyelip di sela-sela gigi!"
Seorang pria berbadan kekar dengan bekas luka di wajah berjalan di barisan paling depan, diikuti oleh belasan anak buah yang menggenggam golok tajam di belakangnya.
"Kepala Suku Ketiga, Kabupaten Xuanhua sudah sejak lama sangat miskin kerontang, tidak ada minyak atau air yang bisa diperas. Menurutku, sebaiknya kita pergi menjarah ke Kabupaten Luobei sana, pasti akan ada hasilnya!"
Pria berbekas luka itu berkata, "Menurutku juga begitu! Nanti setelah kembali, kita akan minta izin kepada Kepala Suku Pertama!"
Sambil berbicara, seorang anak buah tiba-tiba menunjuk ke arah depan dan berkata, "Kepala Suku Ketiga, ada dua ekor kuda di depan!"
"Oh?"
Pria berbekas luka itu bergumam sejenak, dan benar saja ia melihat dua ekor kuda juda putih bersih ditambatkan di samping pohon. Dengan gembira ia berkata, "Sungguh, pencarian dilakukan dengan susah payah namun akhirnya ditemukan tanpa mengerahkan tenaga!"
Beberapa orang itu mendekati kuda-kuda tersebut dan mengusap tubuh kuda bagaikan menemukan harta karun.
"Ada beberapa keping perak pecahan juga!"
"Masih melamun apa lagi, cepat pimpin kuda-kuda ini pergi!"
"Pimpin kepalamu!" maki pria berbekas luka itu. "Sekalipun itu adalah kuda penempuh jarak jauh, ia tetap saja seekor binatang ternak. Mana bisa lebih berharga daripada manusia?"
Para anak buah itu langsung mengerti begitu mendengarnya:
"Kepala Suku Ketiga benar, di dunia ini orang yang mampu menunggangi kuda pastilah orang kaya atau bangsawan."
"Kita tunggu saja di sini, dan begitu mereka kembali, kita tangkap dalam sekali serbu!"
Setelah berkata demikian, orang-orang itu dengan cepat berpencar ke sekeliling dan bersembunyi di tempat-tempat gelap.
"Katakan, kali ini bagaimana rencanamu untuk berterima kasih kepadaku?"
Su Yunxue berkata sambil tersenyum manis.
Li Guanqi menjawab, "Bukankah kamu sendiri yang memohon untuk ikut?"
Alis Su Yunxue sedikit berkerut. "Baiklah, taruhlah aku memang memohon padamu untuk ikut, tetapi bukankah aku tadi memanah tepat sasaran pada ular sanca hitam dan menyelamatkan nyawamu? Apakah kamu masih mau berbuat curang dan tidak mau mengaku?"
Li Guanqi berkata dengan dingin, "Jika bukan karena aku, kamu sudah sejak lama ditelan bulat-bulat oleh ular sanca raksasa itu. Anggap saja impas."
"Kamu!"
Su Yunxue dibuat tidak bisa berkata-kata oleh ucapannya, saking kesalnya dia menghentakkan kakinya ke tanah.
Baru saja hendak mengatakan sesuatu, dia melihat Li Guanqi berhenti melangkah. Tatapannya tajam menerawang ke depan, sama persis seperti ekspresinya di dalam air tadi.
"Jangan menakut-nakutiku, aku tidak akan tertipu oleh trikmu itu."
Su Yunxue mengira pria itu sedang menakutinya.
Li Guanqi tidak menjawab dan melemparkan bangkai rusa yang dipikulnya ke depan.
Begitu bangkai rusa itu menyentuh tanah, sebuah jaring raksasa melesat bangkit dari permukaan tanah dan mengangkat bangkai rusa tersebut menggantung di udara.
"Bagaimana bisa!"
Su Yunxue tampak kebingungan.
"Hahaha!"
Tawa melengking terdengar.
Pohon-pohon di hutan bergemerisik, belasan pria bertubuh kekar dari Suku Chiman yang tampak garang bermunculan sambil mengacaukan golok berkilat tajam, mengepung kedua orang itu di tengah.
Si wajah berbekas luka melangkah maju. "Bocah keparat, ternyata kamu punya sedikit kemampuan juga!"
Li Guanqi mengamati penampilan mereka sekilas, lalu teringat akan kilatan api yang dilihatnya saat menuruni gunung dua hari lalu. Ia bertanya, "Kalian adalah bandit gunung?"
"Benar!" si wajah berbekas luka mendengus dingin. "Aku tidak akan mengubah nama depanku saat berjalan ataupun duduk, Kepala Suku Ketiga Benteng Heifeng, Xiao San!"
"Benteng Heifeng!"
Mendengar nama tersebut, hati Su Yunxue berdegup kencang.
Mereka berdua berjalan ke arah timur dan sudah berada di perbatasan Kabupaten Luobei, tidak menyangka akan terjebak oleh gerombolan bandit yang gemar membakar, merampok, dan melakukan segala bentuk kejahatan ini.
"Yo, ternyata ada seorang gadis kecil juga. Usaha para saudara menanti sama sekali tidak sia-sia!"
Xiao San menaikkan matanya yang mesum, menatap laksana serigala kelaparan pada si cantik yang tampak begitu segar hingga seolah air bisa diperas dari kulitnya.
"Segar sekali!"
"Kepala Suku Ketiga, setelah kamu selesai menikmati, bolehkah para saudara ini juga ikut mencicipinya!"
Mata para anak buah itu juga memancarkan cahaya penuh nafsu sambil mengelus dagu mereka dengan senyum mesra.
Xiao San berkata dengan suara lantang, "Tenang saja, setiap orang akan kebagian!"
"Kalian, kalian!"
Wajah cantik Su Yunxue memucat pasi. Seolah membayangkan nasib tragis dirinya jika jatuh ke tangan para bandit, kedua kakinya bergetar tak terkendali.
Beberapa anak buah sudah tidak sabar menahan hasrat mereka dan melangkah maju mendekat.
Pada saat ini, sebuah sosok tegap berdiri melindungi di depan Su Yunxue.
Xiao San membentak, "Bocah, hari ini Kakek sedang berbaik hati, jadi aku lepaskan nyawamu. Tinggalkan bangkai rusa dan uang perak itu, lalu enyahlah sana!"
Li Guanqi berkata tanpa ekspresi, "Jika aku bilang tidak?"
Wajah Xiao San menjadi gelap. "Kalau begitu kamu sedang mencari mati!"
Begitu suara itu jatuh, para anak buah di belakangnya langsung menyerbu bersama-sama, bersiap membunuh dan merampas barang!
Tiga orang menerjang terlebih dahulu ke sisi Li Guanqi, melancarkan tinju dan tendangan yang mengarah langsung ke bagian wajah.
Namun, Li Guanqi bahkan tidak bergeming sedikit pun. Tangan kirinya menepis serangan tersebut, sementara kaki kanannya dengan cepat melayang menendang.
Ketiga orang itu langsung ditendang hingga terpental, tersungkur di tanah sambil memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak.
Wush wush wush!
Menyusul kemudian dua bilah golok besar menebas dengan cepat, mengarah ke bagian lehernya.
Tetapi, ilmu bela diri yang setengah matang seperti itu bagaimana mungkin bisa menjadi tandingan Li Guanqi.
Dilihatnya pemuda itu kembali menggeser tubuhnya ke belakang, dan pisau dingin di tangannya terayun laksana kilatan petir!
Karrrak!
Kedua bandit itu hanya melihat sekelebat bayangan melintas, kepala dan tubuh mereka seketika terpisah.
Kedua kepala berlumuran darah itu menggelinding sejauh beberapa meter, hingga akhirnya berhenti tepat di dekat kaki Xiao San...