Bab 1: Awal Mula Terjerat Utang Satu Juta!
Lampu-lampu di ruang kerja gedung perkantoran masih menyala terang, suara ketikan keyboard tak pernah berhenti. Lin Xiaohua menatap data rapat di layar, matanya berat seolah-olah diisi timah. Sudah berapa malam ia begadang berturut-turut? Ia sendiri tak ingat lagi. Perutnya kembali terasa panas dan perih, seperti ada pisau tak kasat mata yang terus-menerus menggores dari dalam.
“Rencana besok harus dikumpulkan.”
Suara dingin sang atasan seolah masih terngiang di telinganya.
“Kumpulin kepala lo!”
Lin Xiaohua berteriak dalam hati. Ia merasa hidupnya perlahan meredup seiring redupnya cahaya layar komputer. Dadanya tiba-tiba mencengkeram sakit. Rasa nyeri hebat melanda seluruh tubuhnya dalam sekejap. Lembar Excel di depan matanya mendadak berputar dan melengkung.
Gelap.
Kegelapan mutlak menelannya.
Setelah sunyi tak berujung, datanglah sensasi jatuh yang menusuk dingin, seolah jiwanya dicabut lalu dipaksa masuk ke wadah asing. Dalam kekacauan itu, secercah cahaya tipis menembus gelap, bersamaan dengan aroma kayu lapuk memenuhi hidungnya.
Lin Xiaohua berjuang, seperti orang yang nyaris tenggelam dan berusaha menyembul ke permukaan, akhirnya dengan susah payah membuka kelopak matanya. Yang terlihat adalah balok kayu tua penuh sarang laba-laba.
Udara dipenuhi bau apek bercampur kayu busuk. Ia berbaring di ranjang papan kayu keras, hanya berselimut kain tipis penuh tambalan.
Kuno dan berkesan antik.
Tapi sangat reyot.
Ingatan asing membanjirinya seperti air bah yang menerjang bendungan.
Sekte Dewa Kabut.
Murid bagian keuangan.
Lin Xiaohua.
Ia, seorang pekerja keras abad dua puluh satu, mati karena kerja lembur lalu malah terlempar ke dunia lain. Dunia fantasi! Dan jadi orang bernama sama yang nasibnya sial. Sialnya lagi, “Sekte Dewa Kabut” ini hanya namanya saja yang indah, kenyataannya miskin melarat.
Si pemilik tubuh sebelumnya, manusia biasa tanpa bakat spiritual, dilempar untuk mengurus keuangan sekte. Mungkin… karena murah?
Lin Xiaohua berusaha duduk, kepalanya terasa sangat sakit. Ia memandang sekeliling, kamar ini sederhana luar biasa, di pojok ruangan ada beberapa buku kas tua menumpuk. Inilah “kantor” barunya.
Ia mengambil buku kas paling atas, sampulnya sudah sangat usang, samar-samar tertulis “Arus Kas Sekte”. Dibuka beberapa lembar, isinya hanya catatan kecil seperti “beli beras spiritual tiga kati”, “utang ke tukang daging Zhang lima batu spiritual rendah”, “tambal jubah murid luar”, “utang ke penjahit Wang lima belas batu spiritual rendah”—jumlahnya kecil-kecil tapi padat sekali.
Lin Xiaohua mengernyit. Hidup ini benar-benar serba pas-pasan.
Membalik beberapa lembar lagi, tiba-tiba terselip surat penagihan berwarna merah darah, ditulis dengan tinta cinnabar, dari “Paviliun Dewa Emas”. Isinya tegas dan keras, menuntut pembayaran bunga sepuluh ribu batu spiritual sebelum akhir bulan, jika tidak akan dilakukan eksekusi paksa.
Tangannya gemetar membalik halaman-halaman berikutnya, hanya menemukan lebih banyak lagi: “utang bahan alat magis ke Paviliun Dewa Emas empat puluh lima ribu”, “utang obat langka ke Aula Seratus Ramuan tiga puluh ribu”, “utang ongkos tempa ke Bengkel Langit dua puluh ribu”, “utang buku langka ke Menara Buku Dua Belas ribu”—setiap catatan membuat jantung berdegup keras. Dan bunga sepuluh ribu itu ternyata hanya bunga bulanan dari utang terbesar!
Cepat-cepat ia membuka halaman rekap, dan ketika melihat tulisan “Total Utang: Seratus Tiga Puluh Ribu Batu Spiritual”, ia terkejut hingga nyaris pingsan lagi.
Jumlah yang fantastis.
Sekte ini bisa bangkrut ratusan kali.
Kreditur terbesar, Paviliun Dewa Emas, sudah mengeluarkan ultimatum terakhir. Sebelum akhir bulan, minimal bunga sepuluh ribu batu spiritual harus lunas. Kalau tidak, mereka akan melakukan eksekusi paksa: mengambil alih gerbang gunung, melelang aset, dan menghapus Sekte Dewa Kabut dari dunia spiritual.
Hari ini awal bulan.
Batas waktu tinggal kurang dari satu bulan.
Lin Xiaohua merasa pusing, hampir jatuh pingsan lagi.
Baru mulai saja sudah di level neraka.
Ia refleks menekan bagian bawah perut, mencoba merasakan keberadaan “energi” sesuai metode dalam ingatan barunya. Tapi di sana benar-benar hampa, seperti sungai kering, tak ada sedikit pun gelombang kekuatan spiritual—bahkan rasa lelah semu seperti saat begadang di kehidupan sebelumnya pun tak ada.
Tubuh pemilik sebelumnya memang murni manusia biasa.
Di dunia di mana orang bisa terbang dan menggeser gunung seenaknya, ia bahkan tak punya kemampuan melindungi diri.
Menghasilkan uang?
Pakai apa?
Dengan kepala?
“Ciiit—”
Pintu kayu reyot terbuka.
Seorang pria berjubah putih kebiruan masuk, wajahnya tampan namun terlihat dingin dan jauh dari urusan dunia.
Ia melihat Lin Xiaohua sudah terbangun, alisnya sedikit berkerut.
“Sudah sadar?”
Suaranya dingin, seperti salju di puncak gunung.
“Kakak tertua, Murong Yunfei.”
Ingatan langsung menghubungkan data.
Ahli pedang, kekuatan utama sekte.
Tapi juga penggila perpustakaan, rela menghabiskan sisa-sisa harta sekte demi membeli beberapa buku langka.
Lin Xiaohua berusaha menyunggingkan senyum palsu khas pekerja kantoran, tapi otot wajahnya terasa kaku.
“Kakak tertua.”
Murong Yunfei melirik buku kas di tangan Lin Xiaohua, wajahnya datar.
“Guru bilang kau urus keuangan sekte, mulai sekarang soal uang bulanan tanya ke kau.”
Ia ragu sejenak, tampak agak canggung.
“Uang bulanan bulan ini, sudah waktunya dibagikan, bukan?”
Lin Xiaohua: “...”
Ia menghela napas, menunjuk angka-angka mengerikan di buku kas.
“Kakak, lihatlah sendiri...”
Murong Yunfei akhirnya menatap ke arah buku kas, tapi hanya sesaat.
“Urusan duniawi begini aku tak paham.”
Suaranya datar.
“Aku hanya tahu, tanpa batu spiritual aku tak bisa beli pedang baru, juga tak bisa memperbaiki pedang terbangku yang rusak saat duel kemarin.”
Lin Xiaohua merasa tekanan darahnya naik.
Urusan duniawi?
Ini soal hidup mati seluruh sekte, tahu!
Kepalanya makin sakit, tiba-tiba dari luar terdengar kegaduhan.
“Kakak kedua, berapa kau habiskan buat batu jelek itu? Gara-gara kau, aku tak bisa beli kertas jimat buat promosi!”
“Kakak ketiga, jangan begitu, itu batu kuno langka! Lagi pula, selebaranmu, dibagikan atau tidak sama saja!”
“Ciiit”—pintu kembali terbuka, masuklah seorang lelaki bermata indah berbaju ungu mencolok dan seorang pemuda ceria berjubah kuning. Begitu melihat Lin Xiaohua di tempat tidur, mereka serempak berseri-seri.
Yang berbaju ungu lebih dulu bicara,
“Adik kecil sudah sadar? Pas sekali! Aku baru selesai membuat serangkaian alat magis, butuh beberapa kristal besi hitam, tolong pinjamkan dulu lima ribu batu spiritual?”
Yang berbaju kuning buru-buru menyusul,
“Adik kecil! Syukurlah kau sudah sadar! Cepat beri aku dana, aku mau ke pasar bawah gunung untuk promosi...”
“Tak ada uang di kas.”
Senyum Bai Yutang mengeras.
“Bagaimana bisa? Beberapa hari lalu kan baru jual alat magis kelas rendah?”
Lin Xiaohua tersenyum sinis.
“Uang jual alat magis itu bahkan tak cukup buat bayar uang muka batu aneh ‘tak berguna’ yang kau beli waktu itu...”
Ia menatap kakak ketiga,
“Untuk dana promosi... mungkin tunggu di kehidupan selanjutnya.”
Ekspresi Qin Zhengzheng langsung beku.
“Masa sih? Tak ada sama sekali? Lalu bagaimana aku promosi? Bagaimana menarik murid berbakat bergabung ke Sekte Dewa Kabut?”
Tiba-tiba, terdengar suara lembut perempuan.
“Adik kecil, kau sudah merasa baikan?”
Seorang wanita anggun bergaun hijau muda masuk, membawa semangkuk sup hangat.
Shen Qinghe.
Murid bagian obat, ahli meracik dan menanam herbal.
Baik hati, tampak paling bisa diandalkan di antara mereka.
Sayangnya juga tak punya naluri bisnis—menjaga kebun herbal, tapi tak tahu cara mengubahnya jadi batu spiritual riil.
Lin Xiaohua menatap para “dewa” kakak-kakaknya ini.
Satu hanya peduli isi perpustakaan dan kitab pedang.
Satu kecanduan alat magis dan belanja barang aneh.
Satu cuma tahu teriak promosi.
Satu duduk di kebun emas, tak tahu cara menjualnya.
Ia tak bisa menahan diri lagi.
Tak hanya kegelisahan karena tiba-tiba terlempar ke dunia asing, tapi juga amarah pekerja keras yang dulu digilas bos, target kerja, dan jam kerja gila!
“Cukup!”
Lin Xiaohua menepuk keras sisi ranjang, debu langsung berjatuhan.
Suaranya tak keras, tapi penuh tekad.
Para kakak-kakaknya terkejut, serentak menoleh ke arahnya.
Mereka melihat adik kecil yang biasanya tak menonjol itu kini wajahnya pucat, namun matanya bersinar tajam, bahkan sedikit menakutkan.
“Uang bulanan? Dana talangan? Anggaran? Promosi?”
Lin Xiaohua menatap tajam mereka, bicara cepat seperti menembak.
“Kalian sadar tidak? Sekte Dewa Kabut ini sebentar lagi bangkrut!”
“Ultimatum Paviliun Dewa Emas sudah jelas, akhir bulan bunga tak dibayar, kita semua harus angkat kaki!”
“Nanti jangan bicara soal kitab pedang, kristal besi hitam, dana promosi—tempat tinggal saja tak ada!”
“Kalian masih saja mengeluh uang bulanan kurang? Masih ingin beli ini-itu?”
Suaranya bergetar karena emosi.
Murong Yunfei mengernyit makin dalam, seperti hendak bicara.
Bai Yutang langsung berhenti bercanda, tampak berpikir.
Qin Zhengzheng melongo kaget.
Shen Qinghe cemas, mangkuk sup di tangannya sampai lupa diberikan.
“Tak ada uang? Ya sudah, cari uanglah!”
Lin Xiaohua menarik napas panjang, memaksakan diri tetap tenang.
Ia tahu, marah saja tak cukup.
Ia harus memberi solusi.
Ia menunjuk buku kas terbuka itu, suaranya tegas tak terbantahkan.
“Satu bulan!”
“Beri aku waktu satu bulan!”
“Aku akan pastikan kas sekte ini minimal ada pemasukan!”
Udara seolah membeku.
Murong Yunfei menatapnya penuh ragu.
“Kau? Manusia biasa?”
Bai Yutang menyindir,
“Adik kecil, jangan bicara sembarangan, cari uang itu tidak mudah, apalagi di dunia para kultivator.”
Qin Zhengzheng ikut membujuk,
“Ya, adik kecil, kau baru sadar, lebih baik istirahat dulu.”
Hanya Shen Qinghe yang ragu sejenak, lalu bertanya pelan,
“Adik kecil, kau... punya rencana?”
Lin Xiaohua menatap mata mereka, menegakkan punggung.
Kini ia benar-benar tak punya apa-apa.
Tak ada kekuatan spiritual, tak ada koneksi, bahkan tubuhnya lemah.
Tapi ia punya pengetahuan bisnis dari kehidupan sebelumnya, pengalaman mengelola keuangan, dan mental baja hasil ditempa kerja lembur.
Juga semangat pekerja keras yang makin menyala bila didesak!
Cari uang?
Di dunia modern saja ia sudah jungkir balik, masa kalah oleh orang-orang zaman kuno ini?
Ia tersenyum tipis, namun penuh percaya diri.
“Rencana? Tentu saja ada.”
“Tapi, butuh kerja sama kalian semua.”
Tatapannya menyapu seluruh kakak-kakaknya, tak terbantahkan.
“Mulai hari ini, keuangan Sekte Dewa Kabut aku yang atur!”
Lalu langkah pertama?
Lin Xiaohua menatap ke luar jendela, memandangi deretan pegunungan gersang, matanya berkilat.
Pertama-tama, ia harus meneliti: di sekte miskin ini, aset “tetap” apa saja yang masih bisa diuangkan?