Bab Dua Puluh
Selama ini aku selalu berpikir, setelah Xingxing terbiasa di sini dan mau menerimaku, barulah aku ingin punya seorang anak. Namun dari perilaku Xingxing beberapa hari ini, aku tahu, Xingxing masih saja menyimpan keinginan untuk pergi.
Mungkin aku harus mencoba saran Ayah dan Ibu. Aku sebaiknya lebih dulu punya anak bersama Xingxing, baru kemudian membiarkan Xingxing perlahan menerima keberadaanku.
Maka beberapa malam terakhir aku benar-benar berusaha. Kurasa Xingxing bisa melihat niatku, sehingga pada malam ketiga dia tampak sangat menolak, seluruh tubuhnya menegang, tetapi itu bukan masalah bagiku. Aku punya banyak cara untuk membuat Xingxing lebih rileks.
Lalu, Xingxing kedatangan tamu bulanan—itu di luar dugaanku. Pagi itu, saat aku setengah sadar membuka mata, aku merasa ada yang basah di kakiku. Kusibak selimut, dan aku terkejut: darah. Awalnya kukira Xingxing terluka, tapi kulihat celana dalamnya pun penuh noda merah. Saat itulah aku sadar apa yang terjadi.
Aku membangunkan Xingxing dengan lembut. Dia mengucek matanya dengan bingung. Aku agak ragu bagaimana menjelaskan ini padanya. Beberapa kali sebelumnya, aku tahu Xingxing sedang datang bulan karena melihat tisu bekas di kamar mandi. Xingxing pandai menyembunyikannya, kecuali melarang aku menyentuhnya, segala sesuatunya tetap seperti biasa. Aku pun berpura-pura tidak tahu. Tapi kali ini berbeda; Xingxing bahkan tidak sadar.
Dia menatapku bingung.
"Xingxing, kamu sedang datang bulan," kataku.
"Hmm?" Dia masih tampak mengantuk, menatapku kosong.
Kusibak selimut dan menunjuk ke bawah. Xingxing menunduk, lalu segera menutup tubuhnya lagi, menatapku sebal. Melihat wajahnya yang merona, entah kenapa aku pun merasa pipiku ikut hangat.
Aku membalik badan dan mengenakan pakaian, lalu ke kamar Ibu untuk mengambilkan pakaian bersih dan seprai baru untuk Xingxing.
Saat aku kembali ke kamar, Xingxing masih duduk di tempat tidur, belum bergerak, wajahnya terlihat bingung. Aku membawa seprai untuk menggantinya, barulah Xingxing perlahan bangun dan mengenakan pakaiannya.
Ketika aku mengganti seprai, Xingxing berdiri memperhatikanku. Aku teringat celana dalamnya masih kotor, jadi aku kembali ke kamar Ibu, mengambilkan pakaian bersih. Xingxing tanpa banyak bicara menggantinya di sisi tempat tidur, membalikkan badan dariku.
Aku membawa pakaian dan seprai kotor ke luar. Ibu bertanya apa yang terjadi. Kuberitahu bahwa Xingxing sedang datang bulan. Ibu mengambilkan beberapa lembar kertas kuning untuk Xingxing dan pergi membuatkan sup jahe.
Saat aku kembali, Xingxing sudah berbaring di tempat tidur. Melihatku masuk, ia langsung memejamkan mata. Aku duduk di tepi ranjang, melihat bulu matanya yang bergetar. Aku menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu duduk di kepala ranjang.
Aku hampir tertawa. Aku duduk begitu saja, ingin tahu berapa lama dia bisa bertahan. Ekspresinya tak berubah, tapi bulu matanya yang bergetar sudah cukup membocorkan perasaannya. Benar saja, tak lama kemudian Xingxing perlahan membuka mata.
Aku tak bisa menahan tawa. Xingxing tahu apa yang kulakukan, hanya melirikku kesal sebelum membalikkan badan menghadap tembok. Benar-benar seperti anak kecil.
Beberapa hari selama Xingxing datang bulan, dia tampak lesu, tidak banyak bicara, juga malas bergerak. Dulu, saat bad mood, setidaknya ia masih mau ke luar menjemur badan. Tapi kali ini, dia hanya berdiam diri di kamar, bahkan saat aku masuk, hanya menatap sekilas.
Aku sadar kaki Xingxing sangat dingin. Selama beberapa hari itu, aku selalu meminta Ibu membuatkan sup jahe untuknya, tapi tak banyak perubahan. Malam hari, aku meletakkan kakinya di perutku untuk menghangatkan, Xingxing pun tidak menolak.
Aku bahagia bisa merawat Xingxing seperti ini, memberinya kehangatan, agar ia bisa bergantung padaku. Aku ingin, apapun yang terjadi, orang pertama yang ia pikirkan adalah aku.
Malam itu, Xingxing berbicara padaku. Ia bertanya kenapa aku begitu baik padanya. Saat itu hatiku berdebar. Aku yakin Xingxing tahu kebaikanku, dia hanya enggan mengakuinya, enggan mengakui bahwa ia juga menyukaiku.
Aku bukan orang yang pandai bicara. Sejak Xingxing pertama kali datang ke rumah ini, aku sudah berjanji dalam hati akan selalu baik padanya, tak akan membiarkannya menderita sedikit pun.
Namun sepertinya aku salah, dan salahnya cukup jauh. Dari sikap Xingxing sejak pertama datang, sudah terlihat betapa dia tertekan. Ia sama sekali tidak bahagia, dan semua ketidakbahagiaannya bersumber dari diriku, orang yang sungguh-sungguh ingin membuatnya bahagia.
Aku pun menderita. Aku tidak tahu harus berbuat apa, tapi aku tidak bisa hidup tanpa Xingxing. Malam itu, aku bilang padanya, aku menyukainya, aku benar-benar ingin hidup baik-baik bersama Xingxing. Aku tak bisa kehilangan Xingxing, aku rela tak memiliki apapun asalkan tetap bersamanya. Aku ingin menjalani kehidupan sederhana bersamanya, berbagi suka dan duka. Aku tidak akan membiarkannya menderita.
Kata-kata itu selama ini hanya kusimpan sendiri, tak pernah kukatakan pada siapapun. Tapi malam itu, aku benar-benar ingin menyampaikan perasaanku pada Xingxing.
Setelah lama aku bicara, Xingxing hanya diam, berbaring tenang di sampingku. Aku sedikit gugup, lalu memeluknya erat. Aku tahu ia belum tidur. Mungkin ia sedang mempertimbangkan kejujuran ucapanku. Ia menghela napas pelan, lalu bertanya berapa penghasilan keluargaku tiap bulan.
Sejujurnya, inilah hal yang paling enggan kubagikan pada Xingxing. Aku takut ia tahu aku miskin, takut ia jadi semakin tidak betah. Namun tatapan Xingxing yang menanti jawabanku membuatku tak bisa menahan diri. Akhirnya aku jawab sekenanya.
Jumlah yang kusebutkan padanya sudah paling besar yang pernah kudapat dalam sebulan, namun Xingxing tetap saja tampak terkejut. Aku sadar, rumah ini memang miskin, dan bersama aku berarti dia harus menanggung banyak kesulitan. Tapi aku berjanji akan bekerja keras, akan kuberikan hidup yang layak untuknya.
Hari-hari berikutnya aku mulai sibuk lagi bekerja di ladang, pergi pagi pulang malam. Tapi Xingxing tidak membuatku khawatir, ia sangat penurut.
Ibu bercerita Xingxing di rumah sering membantunya, kadang juga membereskan kamar kami. Malam hari, saat aku pulang, ia bahkan menyiapkan makanan untukku. Aku benar-benar bahagia. Xingxing tak lagi bersikap keras kepala. Asal hatinya tidak lagi terluka, ia bisa betah tinggal di sini, tidak lagi merindukan rumah, tidak lagi ingin pergi dariku. Tak ada yang lebih membahagiakan bagiku. Aku ingin hubungan kami selalu seperti ini.
Suatu malam, saat aku hendak mengambil air, Xingxing yang baru selesai membantu Ibu membereskan piring bergegas mendatangiku, ingin ikut mengambil air bersamaku. Hari sudah hampir gelap, jalanan pun sulit. Aku pikir sebaiknya aku saja yang pergi, biar Xingxing tetap di rumah. Tapi dia terus memaksa, bilang ingin melihat apakah bunga kuning kecil yang dulu sering kuberikan padanya masih ada.
Aku tahu alasan sebenarnya bukan itu. Dulu, saat pertama kali kuberikan bunga kuning kecil, Xingxing menaruhnya di botol kecil. Setelah itu, beberapa kali lagi aku memberinya bunga, tapi Xingxing tak terlalu peduli, hanya aku yang rajin mengganti airnya, dan sesekali saja dia memperhatikannya.
Kali ini ia ingin ikut mengambil air, katanya ingin mencari bunga kuning kecil itu, karena sudah beberapa hari aku tidak memberikannya. Ia ingin ikut melihat apakah di dasar lembah masih ada.
Xingxing yang manja memang sulit ditolak. Aku pun mengalah. Sudahlah, biar saja ia ikut, toh sudah lama dia hanya di rumah.
Seperti sebelumnya, aku menggandeng tangannya menuju sumber air. Xingxing tampak sangat senang, lebih penasaran dari sebelumnya, sepanjang jalan bertanya macam-macam, matanya berbinar penuh tawa. Bersamaku, Xingxing tampak bahagia—aku yakin itu.
Setibanya di dasar lembah, aku mengambil air, sementara Xingxing pergi ke tempat yang sama seperti terakhir kali. Sepertinya dia sangat menyukai tempat itu. Lagi-lagi, ia berjalan sendiri cukup jauh.
Setelah menimba air, aku mendekat dan melihat Xingxing berdiri termenung di tepi sungai kecil, entah apa yang ada dalam pikirannya, tubuhnya diam mematung, tatapannya kosong.