Sering kali, Du Xing tak bisa menahan diri untuk berpikir, jika saja ia tidak tiba-tiba mengubah rencana, mungkinkah ia takkan pernah bertemu dengan Ashou, takkan mengalami keterikatan yang rumit dan kehidupan penuh derita seperti ini. Ia selalu enggan mengingat kembali hari-hari penuh kepedihan itu. Dalam hati, Du Xing berulang kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa Ashou bukan hanya memaksanya, melainkan juga orang yang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Ia seharusnya membenci lelaki itu. Namun, selalu saja ada seberkas manis yang menyusup ke relung hatinya—karena Ashou pula yang telah memberinya kasih sayang yang tiada duanya, membuatnya bisa menjalani hidup dengan bebas dan tanpa beban.
Prolog:
Du Xing tidak tahu dirinya berarti apa di hati A Shou, tapi bagi Du Xing, pria bernama A Shou itu telah menghancurkan seluruh hidupnya, membuat dunianya berubah sedemikian rupa. Ia merasa seharusnya membenci A Shou, namun pria yang menyebalkan itu pula yang pernah memberinya cinta istimewa, membuatnya hidup bebas dan penuh percaya diri.
Isi:
Sebenarnya Du Xing sendiri pun tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin mengubah rute perjalanannya. Sebuah keinginan tiba-tiba muncul di kepalanya, lalu ia langsung mengambil ponsel dan membeli tiket ke arah selatan.
Tindakan sederhana seperti itu pada akhirnya mengubah takdir hidupnya sendiri. Ketika semua itu terjadi, ia berulang kali membenci dirinya. Namun seiring waktu, saat ia ingin mengubah nasib tapi tak mampu berbuat apa-apa, ia pun pasrah—ini sudah takdir, ia memang tak bisa lari.
Rencana semula adalah berangkat dari Beijing, pergi ke barat, tinggal di sana selama beberapa waktu untuk menyelesaikan tugas akhir melukis, lalu kembali pulang. Namun, ia justru membeli tiket ke selatan.
Perjalanan ini sepenuhnya miliknya sendiri. Ia tidak memberitahu siapa pun, setiap hari hanya menelpon rumah sekadar memberi kabar bahwa ia baik-baik saja.
Hari itu, Du Xing bermalam di sebuah kota di Provinsi A. Setelah menelpon ibunya, ia hendak melanjutkan tugas lukisannya, namun lama kelamaan ia merasa gambar-gambarnya itu-itu saja, pemandangannya membosankan. Tiba-tiba ia berpikir, mengapa tidak pergi lebih jauh ke selatan negeri ini? Mencoba merasakan suasana suku-suku minoritas, menikmati sesuatu