Bab Tiga
Du Xing sangat ketakutan, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Dia tak berani membayangkan kejadian yang selama ini hanya pernah ia lihat di televisi, kini benar-benar menimpanya.
“Apa ini namanya penculikan?” pikirnya dengan panik.
Dia hanya seorang gadis, dalam situasi seperti ini, apa yang harus ia lakukan? Ia mulai menangis tersedu-sedu dengan suara pelan karena ketakutan. Malam di sini terasa jauh lebih gelap dari biasanya, seolah-olah kegelapan itu membawa efek menakutkan tersendiri. Malam itu begitu sepi, tak terdengar suara apa pun. Suasananya begitu sunyi, hingga Du Xing merasakan punggungnya merinding. Ia beringsut masuk ke kamar tidur bagian dalam, menarik tirai dengan rapat, berusaha menutupi dunia luar, dan memberi dirinya sedikit rasa aman.
Sepanjang malam, Du Xing tak bisa tidur. Ia tak tahu apa yang akan ia hadapi selanjutnya.
Pagi harinya, ia mendengar suara orang berbicara di halaman. Du Xing mengintip keluar, melihat dua perempuan. Salah satunya pernah ia lihat, yaitu yang semalam mengantarkan makanan sekaligus menguncinya, sementara yang satu lagi belum pernah ia temui. Keduanya tampak sebaya, hanya saja yang asing itu lebih pendek dan agak gemuk. Mungkinkah mereka komplotan? Tapi dilihat dari penampilan, mereka lebih mirip ibu-ibu desa, sama sekali tak menakutkan seperti bayangan pembunuh berdarah dingin yang ia pikirkan.
Du Xing memaksa dirinya tampak tenang, pandangannya tajam mengawasi mereka.
Perempuan itu membawa nampan dan hendak keluar.
Du Xing berjalan mondar-mandir di kamar, merasa dirinya lebih baik dibanding kemarin. Setidaknya kini ia punya tenaga, jadi andai penjahat itu masuk, ia bisa melawan, mencari waktu untuk bernegosiasi, meyakinkan mereka bahwa mencelakainya tak ada gunanya. Berapa pun uang yang mereka minta, orang tuanya pasti bisa memberi. Jika mereka tak percaya, ia bisa menelepon sendiri. Asal mereka tak melukainya.
Pikiran itu memberinya sedikit keberanian. Namun, seharian berlalu, tak seorang pun masuk ke kamarnya. Seolah keberadaan Du Xing tak pernah dianggap ada. Malam harinya, perempuan itu kembali membawa makanan. Begitu mendengar suara kunci dibuka, Du Xing langsung berdiri. Ia ingin menunggu perempuan itu masuk lalu mendorongnya hingga jatuh dan kabur. Ide itu membakar hatinya seperti api kecil yang menyala. Ia segera berdiri di balik pintu, menunggu perempuan itu masuk.
Ia bisa mendengar detak jantungnya berdentam keras, seakan-akan melonjak ke tenggorokan.
Du Xing menahan napas, menunggu dalam diam.
Tiba-tiba, terdengar suara batuk dari sisi lain. Du Xing segera menoleh dan melihat bayangan besar di luar jendela yang gelap, tampaknya seorang pria. Hatinya mencelos, merasa muak dengan kelakuan mereka yang bahkan untuk mengantar makanan saja masih harus mengawasinya. Suara kunci berhenti. Du Xing sadar, pria itu sedang memberi isyarat pada perempuan itu agar tidak membuka pintu, khawatir ia akan melarikan diri.
"Dasar dua penjahat yang bersekongkol," Du Xing memaki dalam hati.
Du Xing dengan lesu berjalan ke tepi ranjang dan duduk. Ia berusaha menenangkan diri, menyadari tadi ia terlalu gegabah. Belum tentu ia mampu mendorong perempuan itu, apalagi perempuan desa yang terbiasa bekerja pasti lebih kuat darinya yang lemah dan kurus. Lagipula, sekalipun ia berhasil keluar dari kamar, itu baru sampai halaman. Ia bahkan tidak tahu di mana letak pintu gerbang.
Apalagi di luar masih ada pria bertubuh besar. Ia sama sekali tak sebanding dengan mereka, hanya akan membuat dirinya semakin berbahaya. Dengan pikiran yang lebih tenang, Du Xing menganalisis situasinya, merasa bersyukur ia belum bertindak nekat tadi.
Seakan merasakan Du Xing tak lagi berniat kabur, pria di balik pintu memberi isyarat lagi. Barulah terdengar suara kunci diputar.
Benar saja, perempuan itu masuk kembali, masih membawa mangkuk besar seperti kemarin. Ia berdiri beberapa detik di depan pintu, melirik ke dalam, lalu pergi tanpa menutup pintu. Di balik bayangan pintu yang terbuka, Du Xing melihat seorang pria berdiri di sana.
"Sialan," Du Xing mengumpat dalam hati. Mereka pasti yakin dirinya tak mungkin bisa melawan pria itu, makanya begitu berani, bahkan tak menutup pintu.
Perempuan itu meletakkan mangkuk dan sendok di atas meja, menoleh padanya, lalu perlahan berjalan ke pintu. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Du Xing, menunggu reaksinya.
Du Xing memandang perempuan itu dengan jijik, merasa muak dengan keberanian yang ia tunjukkan.
"Dengar, apa pun yang kalian mau, aku bisa berikan. Asal kalian lepaskan aku, berapa pun uang yang kalian minta, keluarga ku pasti bisa membayar. Aku yakin keluargaku sudah melapor ke polisi, mereka pasti sedang mencariku sekarang. Kalian tahu ini tindakan kriminal, kan? Ini negara hukum, kalian bisa dipenjara. Asal kalian lepaskan aku, aku tidak akan menuntut apa-apa, bahkan akan memberikan uang. Aku takkan memberitahu siapa pun," ucap Du Xing serius, mencoba meyakinkan. "Sungguh, aku bersumpah, semua yang kukatakan benar, aku tidak menipu kalian."
Du Xing berbicara dengan tegas, menatap pria di sudut gelap. Kalau mereka benar menculiknya demi uang, semua bisa dibicarakan. Ia bisa memberi mereka uang, asal mereka membiarkannya pulang.
Syarat itu baginya mutlak.
Du Xing menatap perempuan itu yang tampak gelisah, menggosok-gosok tangannya, seperti sedang mengambil keputusan besar. Setelah ragu lama, akhirnya ia mulai bicara dengan suara pelan.
"Nak, jangan takut. Kami bukan orang jahat. Kami tidak menculikmu, kami juga tidak butuh uang keluargamu. Yang penting kamu tenang di sini. Kami... kami akan memperlakukanmu dengan baik." Ucapannya diiringi logat daerah yang kental.
Jantung Du Xing berdegup keras.
Ia langsung berdiri, "Kalian bukan orang jahat? Kalau bukan, kenapa mengunciku? Kalau bukan, kenapa tak membiarkanku pulang? Kalau kalian bukan orang jahat, telepon orang tuaku, biar mereka menjemputku pulang!" Ketakutan dalam hatinya semakin dalam. Ia merasa segalanya melaju ke arah yang tak bisa ia bayangkan.
Tak mungkin penculik adalah orang seperti mereka. Dalam bayangannya, penculik itu kejam, galak, bukan ibu-ibu desa biasa. Apalagi mereka masih memberinya makan tiga kali sehari, dan berkata akan memperlakukannya dengan baik asalkan ia tinggal. Rasanya mustahil.
Semakin dipikir, semakin tak masuk akal. Ia menatap perempuan itu, "Siapa kalian sebenarnya? Ini di mana? Bagaimana aku bisa sampai di sini?"
Du Xing mulai meragukan penjelasan sebelumnya tentang bagaimana ia bisa sampai ke tempat ini.
Perempuan itu menoleh ke arah pria di balik bayangan, mendapat anggukan darinya, lalu baru berkata pada Du Xing, "Nak, kamu dibawa pulang oleh anakku untuk dijadikan istrinya. Mulai sekarang, tinggallah di sini dengan tenang, jangan terus-terusan ingin pulang."
Du Xing merasa pendengarannya bermasalah. Seakan ada sesuatu berdengung keras di telinganya.
Ia menggeleng tak percaya, "Tidak mungkin, tidak mungkin seperti ini. Jangan lakukan ini! Apa maksudmu tinggal di sini dengan tenang? Dijadikan istri anakmu? Ini mengerikan!" Du Xing sampai terpaku ketakutan, mulai berbicara sendiri.
Ia perlahan berdiri dan bergumam lirih, "Bagaimana aku bisa tenang tinggal di sini, ini bukan rumahku. Ayah dan ibuku hanya punya aku satu-satunya. Jika mereka kehilangan kabarku, betapa sedihnya mereka. Kau juga seorang ibu, coba posisikan dirimu. Andai anakmu diculik, dijual ke tempat asing, dikunci, tanpa kabar, bahkan tak tahu masih hidup atau tidak, apa yang akan kau rasakan? Masihkah bisa tenang? Masihkah bisa setegar itu? Kau juga orang tua, bagaimana bisa tega seperti ini!"
Kata-kata terakhir keluar dengan suara lantang, hampir menjerit, penuh rasa putus asa.
Perempuan itu melihat Du Xing semakin emosional, ia jadi terdiam, tak tahu harus berkata apa. Ia menoleh ke luar, menggeleng pada pria di luar lalu buru-buru pergi, menutup pintu tanpa menunggu reaksi Du Xing.
Tanpa berpikir panjang, Du Xing berlari ke pintu, mengetuk keras-keras, berteriak, "Apa maksud kalian? Jelaskan padaku!" Ia merasa pasti salah dengar, kepala terus berdengung, ia terus mengetuk dan berteriak, berkali-kali.
"Lepaskan aku! Bebaskan aku..."
Dari luar, suara perempuan itu terdengar, "Nak, tenang saja tinggal di sini."
"Mimpi! Enak saja! Tidak mungkin! Polisi pasti segera menemukan tempat ini. Aku akan membuat kalian semua masuk penjara! Cepat bebaskan aku, bebaskan aku!" Semakin lama Du Xing berteriak, semakin sedih rasanya. Ia membenci dirinya sendiri karena ceroboh, kenapa tidak pergi ke barat laut, kenapa harus ke selatan, kenapa harus sendirian, hingga memberi kesempatan pada pria jahat itu. Semakin dipikir, semakin sakit hati. Ia mengambil mangkuk makanan yang dibawa perempuan tadi dan melemparkannya ke pintu hingga terdengar suara keras. Makanan tumpah berceceran di lantai. Ia mengangkat kursi kayu yang berat dan melemparnya ke arah pintu.
Ia terus berteriak, "Lepaskan aku! Kalian tak boleh berbuat seperti ini! Lepaskan aku!" Terbayang wajah ayah dan ibunya, Du Xing pun menangis meraung-raung, "Ayah, Ibu, apa yang harus kulakukan? Aku sangat takut..."
Ia menangis sangat lama hingga suaranya habis, tetap tak ada yang peduli. Ia lalu bangkit naik ke atas ranjang. Menyadari dirinya dijual untuk dijadikan istri, ia tahu malam hari adalah waktu paling berbahaya. Ia segera turun dan mencari sesuatu untuk dijadikan senjata. Jika pria itu masuk, ia harus membunuhnya. Di balik lemari, ia menemukan sebatang besi panjang, ramping. Ia coba pegang, terasa pas di tangan. Ia meletakkannya di samping bantal. Jika pria itu masuk, ia harus segera meraih senjatanya.