Bab Empat
"Asal dia berani masuk, aku akan melawan laki-laki itu, apapun akibatnya," batin Du Xing.
Kamar itu sudah gelap gulita, tak terlihat apa pun. Tak ada suara, tak ada seorang pun yang masuk ke ruangan ini, membuat Du Xing sedikit lega, meski itu bukan berarti dia sudah aman.
Du Xing memaksa dirinya tetap terjaga, merasa seolah ada seseorang mengintipnya dari jendela. Ia menoleh, namun kamar ini begitu gelap hingga tak terlihat apa pun.
Beberapa hari ini, tak ada laki-laki yang masuk ke kamarnya, hal itu membuatnya sedikit tenang. Namun Du Xing tetap saja sering menangis dan meronta. Usai tidur, ia berlari ke pintu, menghantamnya sekeras mungkin, menjerit-jerit, membanting meja dan kursi. Apa pun yang bisa ia angkat, dilemparkannya. Apa pun yang bisa dihancurkan, dihancurkannya. Lima hari berturut-turut, keadaannya sama saja. Setiap hari perempuan tua itu yang mengantarkan makanan, masuk ke kamar, menutup dan mengunci pintu dari dalam, lalu menaruh makanan di atas meja sambil merapikan kamar yang sudah diacak-acak Du Xing.
Du Xing berbaring di atas ranjang, tak bergerak, mendengarkan perempuan itu membereskan kamar, menyapu, dan mengelap meja. Setelah selesai, perempuan itu keluar.
Suara kunci pintu terdengar jelas di telinganya.
Beberapa hari ini, Du Xing sudah menganalisis situasi. Ia sadar, dengan kekuatannya sendiri, ia tak akan mampu melawan perempuan desa itu, apalagi laki-laki yang bersamanya. Ia merasa harus menjaga kesehatannya dulu sebelum mencari cara lain. Ia tak lagi mogok makan seperti beberapa hari pertama.
Apa pun yang diberikan padanya, ia makan.
Du Xing bangkit, berjalan ke meja, dan menyantap semangkuk nasi yang di atasnya ada telur. Ia mengambil sumpit, makan dengan gerak mekanis dan hati yang kosong.
Ia benar-benar merasa telah dikurung di pegunungan yang terpencil. Tempat ini terasa sangat miskin; perabotannya tua dan usang, peralatan rumah tangga ketinggalan zaman, dan tutur kata mereka pun kental dengan logat daerah.
Dari jendela, ia memandang pegunungan yang mengelilingi rumah itu. Di sudut halaman, berbagai alat pertanian tersusun. Dinding tanah rendah yang mengelilingi halaman, semua menunjukkan betapa terbelakangnya tempat ini.
Sepertinya rumah ini hanya dihuni dua orang, perempuan tua itu dan seorang laki-laki yang tak pernah menampakkan diri, hanya diam-diam mengintainya dari balik jendela saat malam tiba. Siang hari, hanya perempuan itu yang sibuk di rumah, dan baru malam laki-laki itu kembali.
Setelah itu, perempuan itu menyiapkan air untuk laki-laki itu mencuci muka dan tangan, mereka makan malam bersama, lalu membereskan rumah. Selesai makan, barulah mereka mengantar makanan untuk Du Xing. Selalu laki-laki itu berdiri di bayangan pintu, sementara perempuan itu masuk mengantar makanan. Du Xing merasa mereka sangat lucu; hanya pada malam hari, saat mengantar makanan, barulah pintu dibiarkan terbuka, agar laki-laki itu bisa melihat ke dalam kamar, bisa melihat dirinya. Sungguh lucu. Setiap malam, saat diantar makanan, Du Xing selalu membelakangi pintu, baru setelah mereka pergi dan menutup pintu, ia turun dari ranjang untuk makan.
Menyadari keadaannya, Du Xing merasa sangat takut. Dari acara televisi yang pernah ia tonton, ia tahu hanya pria-pria tua, sakit-sakitan, cacat, tidak waras, atau bodoh yang perlu menikah lewat cara-cara khusus seperti ini. Setiap kali memikirkan itu, Du Xing ketakutan setengah mati.
Namun, lewat pengamatannya beberapa hari ini, ia merasa laki-laki itu usianya tidak tua, tubuhnya besar dan kuat, punggungnya tegak. Kecerdasan pun sepertinya tidak rendah, kalau tidak, mana mungkin begitu licik, tahu mengawasi dirinya, tahu memberi isyarat rahasia pada perempuan tua itu.
Setiap malam, ketika laki-laki itu masuk, ia ingin sekali melihat wajahnya dengan jelas, namun laki-laki itu seolah tahu, selalu membalikkan badan dan tidak pernah memperlihatkan wajahnya.
"Pasti mukanya sangat jelek, benar-benar buruk rupa, makanya tidak berani memperlihatkan diri. Kalau tidak jelek, mana mungkin tidak dapat istri," gerutu Du Xing dalam hati.
Mungkin karena beberapa hari ini Du Xing tak lagi membanting meja, melempar kursi, dan jarang menangis, mereka mengira Du Xing mulai menerima nasib, menerima kenyataan hidup di desa ini.
Setiap kali mengantarkan makanan, perempuan tua itu selalu tersenyum. Bahkan kadang-kadang, makanannya ditambah telur, atau daging cincang.
Suatu pagi, saat hari masih gelap, Du Xing terbangun karena suara pintu yang dibuka.
Kali ini, ia melihat perempuan tua itu masuk membawa baskom merah, diletakkan di atas meja, kemudian mengambil handuk dari rak dan mencelupkannya ke dalam baskom. Lalu, ia mengangkat meja kecil yang mengilap karena minyak, meletakkannya di samping ranjang, memeras handuk, dan menyerahkannya pada Du Xing.
“Nak, ayo cuci muka dulu,” kata perempuan itu, menunggu reaksi Du Xing.
Sudah beberapa hari Du Xing di sini tanpa cuci muka dan gosok gigi. Ia adalah orang yang peduli penampilan, biasanya tak akan membiarkan dirinya tak bersih. Namun ketakutan, kepanikan, dan kecemasan membuatnya lupa segalanya. Ia langsung merebut handuk itu, menempelkannya ke wajahnya. Uap hangat membuat otot-otot wajahnya sedikit rileks. Perempuan tua itu entah dari mana mengeluarkan cermin bundar dan sisir, lalu meletakkannya di atas meja kecil.
Du Xing menatap bayangannya di cermin; matanya merah karena terlalu banyak menangis, hidungnya pun kemerahan. Rambut ikalnya yang biasanya rapi kini berantakan. Ia bertanya-tanya, sejak kapan ia pernah seberantakan ini. Semakin lama ia menatap, air matanya pun mengalir tanpa sadar.
Perempuan tua itu lalu berlutut di belakangnya, “Nak, biar ibu bantu menyisir rambutmu, ya.” Tanpa menunggu persetujuan, ia mulai merapikan rambut panjang Du Xing.
Dalam hati, Du Xing merasa sangat muak. Ia ingin berbalik dan mendorong perempuan itu, menyuruhnya pergi dan tak perlu repot bersikap baik. Namun, rasa putus asa membuatnya tak bergerak, hanya menatap dirinya di cermin, melihat perempuan itu mengepang rambutnya.
Du Xing merasa dirinya tampak sangat kampungan, seolah dirinya pun telah berubah menjadi perempuan desa. Dengan cepat, ia melepas kepang itu dan berteriak, “Aku tidak mau rambutku diikat seperti itu!” Perempuan itu tak punya pilihan, kembali merapikan rambut Du Xing dan kali ini mengikatnya menjadi ekor kuda.
“Betapa cantiknya anak gadis ini, ibu sudah hidup lebih dari lima puluh tahun, belum pernah melihat gadis secantik kamu. Gadis seperti kamu menikah ke keluarga kami, sungguh terlalu berat bagi kamu. Tapi kalau kamu mau tinggal di sini, kami pasti akan memperlakukanmu dengan baik…” Du Xing sangat muak mendengar ucapan itu, apalagi dengan logat yang kental sehingga ia harus mendengarkan dengan saksama agar bisa mengerti. Ia lalu menendang meja kecil itu hingga terbalik.
Di tengah suara barang-barang berjatuhan, Du Xing membalikkan badan dan menutupi kepalanya dengan selimut.
Perempuan tua itu langsung diam, membenarkan meja, lalu perlahan berjalan ke pintu hendak keluar. Du Xing segera berteriak.
“Aku mau sikat gigi dan cuci muka!”
Perempuan tua itu tersenyum girang, mengiyakan berkali-kali, “Baik, baik.” Ia lalu keluar dan mengunci pintu. Tak lama kemudian, ia kembali membawa sikat gigi dan pasta gigi baru. Setelah Du Xing selesai membersihkan diri, perempuan itu diam-diam berdiri di dekat pintu. Melihat perempuan tua itu hendak keluar, Du Xing langsung menghampirinya.
“Tante, tolong lepaskan aku, aku mohon. Aku benar-benar takut, lepaskan aku, nanti aku akan memberi uang, orang tuaku hanya punya satu anak perempuan. Kalau aku tidak ada, bagaimana nasib mereka? Tolonglah, tante, lepaskan aku…” Du Xing menangis pilu, kata-katanya tersendat oleh tangis, berharap bisa menyentuh hati mereka.
“Nak, dengar dulu penjelasan ibu. Bukan ibu yang kejam, tapi kami benar-benar tak punya jalan lain. Kata orang pintar, anak kami tidak boleh menikah terlalu muda, tidak boleh menikah dengan gadis kampung sini. Tapi sekarang dia sudah tiga puluh tahun, belum punya istri, ibu tak bisa membiarkan keluarga Luo berakhir di tangannya. Nak, apapun yang kamu minta, ibu penuhi asalkan kamu mau tinggal di sini. Rumah kami memang miskin, tapi kami tidak akan menyakitimu. Kami akan memperlakukanmu bagai dewi. Nak, tinggallah di sini, ibu mohon…” Ucapan perempuan itu terisak, lalu ia perlahan berlutut di hadapan Du Xing.
Du Xing hanya bisa menertawakan nasibnya dalam hati. Perlahan, ia berdiri. Ia tak ingin menyaksikan adegan seperti ini, menyuruh perempuan itu keluar.
Du Xing mengira hari itu akan berlalu sama seperti sebelumnya, namun begitu laki-laki bertelanjang dada itu masuk ke kamar, ia sadar semuanya tidak sesederhana itu.
Ia segera duduk tegak di ranjang, menatap laki-laki itu dengan tegang. Baru kali ini, di dalam cahaya temaram, ia melihat jelas sosok laki-laki itu—tinggi besar, berdiri di pintu seperti gunung. Tubuhnya legam seperti arang, otot-ototnya menonjol, tampak sangat kuat seperti orang yang terbiasa bekerja berat, tangan dan kakinya panjang, rambut dipotong cepak. Matanya yang hitam menatap lurus padanya di bawah cahaya lampu kuning.
Du Xing tak berani bergerak sedikit pun, tahu inilah saat paling berbahaya. Melihat laki-laki itu melangkah mendekat dua langkah, ia segera mengambil besi di samping bantal dan melemparkannya ke arah laki-laki itu.
“Jangan mendekat! Jangan mendekat!”
Laki-laki itu pun berhenti, ragu-ragu, seolah ingin mengatakan sesuatu.
“Pergi! Keluar dari sini!” Du Xing langsung berteriak keras, tak memberinya kesempatan bicara.